Balinews.id

Cerpen; Luh Meera Jnani #2

Luh Meera perlahan membuka matanya. Kepalanya terasa sangat berat dan badannya pun terasa sangat lemas. Dia edarkan pandangan matanya ke sekeliling ruangan. Ternyata dia sedang berada di ruangan rumah sakit dengan selang infus telah terpasang di salah satu tangannya. Dan dia juga bisa merasakan ada seseorang yang sedang menggenggam telapak tangan kanannya. Genggaman tangan yang begitu dia kenal, genggaman tangan suaminya, Made Wicaksana.

Meera Jnani mengerakkan jemari tangan kanannya.
“ Terimakasih Tuhan istriku sudah sadar kembali.” Ucap Made Wicaksana begitu ia merasakan jemari istrinya mulai bergerak.
“ Maafkan aku. Maafkan aku istriku. Aku telah melakukan kesalahan besar. Tolong maafkan aku,” Made Wicaksana berkata pelan dan ada bulir-bulir bening mengalir dari sudut matanya.
Dia genggam erat jemari istrinya, dan dia ciumi tangan istrinya dengan sepenuh hati, serta penuh dengan penyesalan. Dia bangkit dari tempat duduknya, mengeser badannya mendekati kepala istrinya. Dibelainya wajah istrinya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang, lalu dia kecup kening Meera Jnani dengan perasaan yang mendalam.

“ Meera istriku, maafkan kebodohan dan kecerobohanku. Tolong berkatalah Sayang.” Kata Made Wicaksana ketika dia menyadari bahwa Meera Jnani hanya diam membisu semenjak dia membuka matanya.
Made Wicaksana kembali mengeser posisi berdirinya. Tangan kirinya kembali menggenggam jemari tangan kanan istrinya. Dan tangan kanan Made Wicaksana mengelus perut Meera Jnani.
“ Maafkan Ayah, Anakku. Ayah telah membuat Ibumu, bidadari hidupku menderita. Selamat datang di rahim ibumu, Nak. Selamat datang di kehidupan cinta kami. Ayah berjanji akan selalu menjaga kalian. Ayah tidak akan menyakiti hati ibumu lagi,” terbata-bata Made Wicaksana mengucapkan isi hatinya.

Luh Meera tetap mematung, hatinya terenyuh mendengar semua perkataan suaminya. Belum pernah sebelumnya dia melihat suaminya berlinang airmata seperti ini. Dia pun terisak dalam diam. Dia pejamkan matanya, berusaha menahan tanggis dan jeritan hatinya. Namun Luh Meera tidak berhasil membujuk airmatanya. Airmata itu mengalir begitu saja dan sesenggukan pun perlahan mulai terdengar dari sudut bibir Meera Jnani.
“ Sayang, tolong jangan menanggis lagi. Berkatalah sesuatu. Jangan diamkan aku istriku.” Kata Made Wicaksana sambil menyeka airmata istrinya.
“ Bagaimana aku bisa sampai di sini, Bli?” akhirnya Luh Meera berhasil mengumpulkan kekuatan hatinya untuk bersuara. Dalam hatinya ada rasa penasaran bagaimana dia bisa selamat dari ganasnya ombak pantai Saba, dan bagaimana Made Wicaksana bisa tahu kalau saat ini dia sedang mengandung buah hati mereka.

Sambil menghela nafas panjang Made Wicaksana mulai menjawab pertanyaan istrinya, berusaha merangkai kata yang sebenarnya tidak ingin dia ucapkan. Semua kejadian dari pagi hingga petang, bagaimana dia seperti orang gila mencari keberadaan istrinya, bagaimana dia frustasi mencemaskan keadaan Luh Meera, bagaimana dia menyesali semua ucapan dan tindakannya kepada istrinya. Dan kejadian yang paling membekas, bagaimana dia berteriak, menanggis, gugup dan segala perasaan hancur ketika ia berhasil menangkap tubuh munggil istrinya tepat beberapa saat sebelum ombak besar menelan tubuh wanita yang begitu ia cintai itu. Yang lebih membuat dia terkejut adalah ketika ia menemukan botol dalam genggaman istrinya, botol berisi hasil test pack dengan tanda positif hamil. Senja itu adalah senja yang tak akan pernah hilang dari bayang Made Wicaksana, senja yang membuat dia mengucapkan seribu rasa syukur bahwa istrinya bisa selamat, sekaligus senja yang membuat dia dilanda penyesalan dan rasa bersalah tak berujung atas semua frustasi yang dialami istrinya.

***

Made Wicaksana mov

Pagi itu setelah menjawab telpon Meera dengan nada keras Made Wicaksana merasa menyesal. Dia merasa tak seharusnya dia menumpahkan kekesalannya kepada istri keduanya itu. Luh Meera tidak tahu apa-apa tentang semua pertengkarannya dengan istri pertamanya. Setelah sedikit tenang dan berada di luar rumah, Made Wicaksana menelpon Luh Meera. Tiba-tiba dia merasa perasaannya tidak nyaman dan khawatir. Panggilan pertama tak terjawab, panggilan kedua, ketiga bahkan sampai lima kali dia menelpon tetap tidak terjawab. Perasaannya semakin tidak nyaman. Tiga puluh menit kemudian, ketika ia sampai di kantor dia berusaha menghubungi kembali nomer istrinya, Luh Meera. Lima kali lebih panggilan tetap tak ada jawaban.

Akhirnya Made Wicaksana memutuskan untuk menenggok langsung kondisi Luh Meera. Bergegas dia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi ke rumah istrinya. Batinnya mendoa semoga tidak terjadi apa-apa dengan Luh Meera. Sesampainya di rumah istrinya, dia dapati pintu gerbang yang tidak terkunci. Ini di luar kebiasaan Luh Meera yang selalu menutup rapat pintu gerbang rumahnya. Semua kendaraan Luh Meera terparkir rapi di garasi. Lalu kenapa kamu tidak mengangkat telponku Meera! (Made Wicaksana membatin).

Dengan langkah-langkah lebar Made Wicaksana berjalan kearah pintu ruang tamu.
“ Meera, Meera, Meera… Dimana kamu sayang?” Made Wicaksana memanggil – manggil nama istrinya.

Dia periksa semua ruangan rumah istrinya tapi dia tidak menemukan Luh Meera. Made Wicaksana mencoba kembali menelpon istrinya, dan alangkah terkejutnya dia ketika dia mendengar dering telepon istrinya berada di dalam kamar. Jadi Luh Meera sedang berada di luar rumah tanpa membawa ponsel, dan ini sudah lebih dari tiga jam. Ini bukan kebiasaan istrinya, dia tahu betul istrinya akan selalu membawa ponsel ke mana pun pergi. Dan yang jelas istrinya akan selalu berbagi kabar setiap dia hendak bepergian.

Made Wicaksana menelpon pembantu harian yang biasa mengurus rumah istrinya.
“ Mbok Wayan, ini Bapak. Apakah Mbok Wayan tahu kemana Ibu Meera pergi pagi ini?”
“ Maaf Pak. Saya tidak tahu. Tadi pagi pukul 6.30 seperti biasa saya sampai di rumah Ibu. Lalu saya mulai bersih-bersih rumah. Saya lihat Bu Meera pagi ini sepertinya kurang enak badan, wajahnya sangat pucat, dan berkali-kali saya dengar Bu Meera muntah di kamar mandi. Saya tanya Bu Meera kenapa dan beliau menjawab gak apa-apa.”
“ Lalu apalagi Mbok Wayan?” Made Wicaksana menyela perkataan pembantunya di ujung telpon. Dia merasa sangat panik, dan terasa ingin berteriak “di mana kamu istriku?”
“Lalu tidak lama setelah itu saya melihat Bu Meera menerima telpon Pak, tapi saya tidak tahu dari siapa. Bu Meera tidak berkata apa-apa, Cuma saya lihat beliau begitu sedih. Setelah itu beliau masuk ke kamar. Dan tak lama kemudian Bu Meera keluar lagi dari kamar dengan mata sembab Pak. Bu Meera memanggil saya, dan memberi saya uang 2 juta rupiah. Katanya itu hadiah dari Bu Meera buat saya, dan meminta saya untuk balik pulang saja. Beliau bilang hari ini ingin sendiri saja. Setelah itu saya balik pulang Pak” mbok Wayan memberi penjelasan kepada Made Wicaksana.
( Andai engkau tahu Mbok Wayan, orang ditelepon yang membuat Luh Meera bersedih itu adalah aku…Made Wicaksana menghela nafas dan membatin )

****

Waktu sudah menunjukkan pukul 14.30. Tetapi Made Wicaksana belum mendapatkan petunjuk di mana keberadaan istri tercintanya, Luh Meera Jnani. Dia sudah mendatangi tempat-tempat yang biasa dikunjungi oleh istrinya. Dia juga sudah menelepon teman-teman dekat istrinya, tapi semua tidak ada yang tahu di mana Luh Meera. Hanya satu tempat yang belum dia kunjungi yaitu rumah mertuanya. Nyalinya terasa menciut membayangkan kemarahan Ayah mertuanya jika tahu putri tercintanya saat ini entah berada di mana. Dan itu semua karena kesalahannya.

Namun Made Wicaksana tak punya pilihan lain, dia harus segera menemukan istrinya. Segera ia arahkan mobilnya menuju rumah mertuanya. Dalam hitungan lima belas menit saja, Made Wicaksana telah sampai di rumah mertuanya. Namun ternyata di rumah itu hanya dia temukan kedua pembantu mertuanya. Rupanya Ayah dan ibu Luh Meera sedang menginap di kampung Karangasem karena ada persiapan upacara.
“ Apa yang harus aku lakukan sekarang ya Tuhan?” Made Wicaksana merasa putus asa.

Made Wicaksana kembali ke rumah istrinya, dia berharap Luh Meera sudah berada di rumah. Tapi sesampainya di rumah, dia tidak menemukan siapa-siapa. Rumah tetap dalam keadaan kosong. Dia mengambil handphone Luh Meera, dan memeriksa pesan-pesan WhatsApp istrinya. Berharap ada petunjuk tentang apa yang terjadi dengan Luh Meera. Tapi tidak ada pesan yang mencurigakan atau yang bisa memberi dia petunjuk. Matanya terpaku pada chat antara dirinya dan Luh Meera. Rupanya tadi malam istrinya sempat mengirim pesan ingin dibelikan sate ayam kesukaannya. Dan karena kesibukannya, dia tidak memperhatikan pesan itu. Dada Made Wicaksana sesak penuh penyesalan. Maafkan aku, Meera…

Made Wicaksana menuju tempat berdoa kesayangan Luh Meera di dalam kamar mereka. Tak ada bunga segar di altar pemujaan Luh Meera. Ini artinya pagi ini Luh Meera tidak melakukan doa. Sesuatu di luar kebiasaan istri tercintanya. Di depan Arca Ganesha, Made Wicaksana berdoa mohon petunjuk di mana istrinya saat ini, dan memohon supaya istrinya dalam keadaan baik-baik saja di mana pun keberadaannya.

Waktu sudah menunjukkan pukul 16.00. Begitu banyak pesan dan telepon masuk ke ponsel Made Wicaksana dari pagi, tapi tak ada yang dia angkat. Pikirannya hanya tertuju mencari Luh Meera Jnani. Setelah sempat berpikir sejenak, Made Wicaksana memutuskan untuk mengunjungi tempat-tempat yang biasa dikunjungi istrinya saat sedang sendirian. Istrinya memang tipe melankolis dan di tambah lagi semua sikapnya selama ini. Sungguh pasti ia telah membuat istrinya sangat tersiksa.

Made Wicaksana berniat mengunjungi panti asuhan yang sering dikunjungi Luh Meera. Dia berpikir mungkin Luh Meera pergi ke sana untuk bermain dengan anak-anak panti. Ia melangkah keluar rumah dan berniat membuka pintu gerbang untuk mengeluarkan mobilnya. Dan bersamaan dengan itu ada seorang lelaki berdiri di depan gerbang rumah istrinya. Wajahnya tampak cemas seperti mencari cari seseorang untuk diajak bicara.
“ Maaf Pak, Bapak mencari siapa ya?” tanya Made Wicaksana. Lelaki itu tampak terkejut dengan kemunculan Made Wicaksana yang tiba-tiba bersamaan dia ingin menekan tombol rumah Luh Meera Jnani.
“ Pak, apakah pembantu di sini ada di rumah? Saya ingin bicara dengannya.” Kata lelaki itu. Made Wicaksana mengamati penampilan lelaki itu, dari penampilan dan barang bawaannya dia adalah seorang pemulung.
“ Mbok Wayan hari ini gak kerja Pak. Kira-kira ada apa Pak?”
“ Kalau Bapak siapa ya? Apakah bapak kenal dengan ibu pemilik rumah ini?” bapak pemulung menjawab pertanyaan Made Wicaksana dengan balik bertanya dan tampak tergesa-gesa.
“ Iya saya kenal, pemilik rumah ini adalah istri saya Bu Luh Meera. Bapak ada perlu apa dengan istri saya?”
“ Maaf Pak, apa buktinya kalau Bapak adalah suami Ibu pemilik rumah ini? Saya gak ingin salah memberikan informasi.”
Mendengar kata informasi, Made Wicaksana menjadi gugup. Dan dengan cepat iya keluarkan dompetnya dan iya tunjukkan fotonya lagi berdua dengan Luh Meera.
“ Saya memang suaminya. Tolong pak cepat katakan informasi apa yang bapak ingin katakan?”
“ Maaf Pak, saya pemulung yang biasa ibu kasi barang-barang gratis tiap dua hari sekali. Bahkan ibu sering sekali juga memberikan uang dan bahan makanan kepada saya. Ibu sangat baik sekali orangnya”
“ Lalu gimana, Pak?” Made Wicaksana menyela perkataan si pemulung. Soal kebaikan hati dan kedermawanan istrinya memang jangan ditanyakan lagi. Itu adalah jiwa sejati istri tersayangnya, Luh Meera Jnani.
“ Hari ini saya memulung di Pantai Saba timur Pak, dan saya bertemu dengan Ibu di sana. Saya yakin beliau tidak sedang baik-baik saja. Wajahnya sangat pucat, matanya bengkak, sepertinya ibu terlalu banyak menanggis. Ibu memakai baju tidur saja Pak.”
“ Lalu di mana sekarang istri saya Pak?” Made Wicaksana panik.
“ Tadi saya menyapa Ibu. Dia bilang dengan suara lemas bahwa dia sedang ingin mencari angin saja. Tapi saya khawatir. Makanya saya segera kemari Pak.” terbata-bata bapak pemulung menceritakan pertemuannya dengan Luh Meera.

Tanpa berpikir panjang, Made Wicaksana segera mengarahkan mobilnya ke Pantai Saba. Ia ajak turut serta Pak Gunarsa, nama si bapak pemulung untuk menunjukkan keberadaan istrinya. Butuh waktu 20 menit untuk sampai di sana dan waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 sore. Made Wicaksana dan Pak Gunarsa menyusuri sepanjang pantai Saba timur. Tapi mereka tidak menemukan Luh Meera Jnani. Waktu terus berjalan, cahaya bulan purnama mulai bersinar. Made Wicaksana sangat gelisah, dia berteriak-teriak memanggil nama istrinya. Dia dan Pak Gunarsa kembali menyusuri pantai untuk yang kesekian kalinya.
“ Duh Gusti, di mana istriku? Meera tolong muncullah Sayang.” Made Wicaksana memandang lautan yang mulai keemasan dan mengucapkan doa dalam kepanikannya.

Bersamaan dengan itu entah darimana datangnya, tiba-tiba matanya tertuju ke pantai yang mulai temaram. Ia melihat bayangan yang sedang menuju deburan ombak. Meskipun lumayan jauh, Made Wicaksana yakin itu bayangan istrinya, Luh Meera Jnani. Sekuat tenaga dia berteriak dan berlari ke arah ombak besar yang siap menelan bidadari hatinya….

*****

Akankah Luh Meera dan Made Wicaksana kembali bersama setelah semua ini? Masih adakah kesabaran di luasnya hati Luh Meera Jnani untuk lelaki yang dia cintai itu?
Temukan jawabannya di Luh Meera Jnani part 3 yang siap menguras emosi dan airmata para pembaca sekalian. Kisah yang akan menyadarkan betapa rumitnya menjalani cinta segitiga, betapa cinta sejati butuh pengorbanan, keberanian, dan pengendalian diri yang luar biasa.

To be continue

By : Gita Hati in Bali, 14 Desember 2020

baca juga ; Cerpen; Luh Meera Jnani #1

Segera! Thailand Akan Legalkan Pernikahan Sesama Jenis

GLOBAL, Balinews.id – Anggota parlemen Thailand sedang bersiap untuk melakukan pemungutan suara yang bersejarah terkait…

December 16, 2020

Lirik Lagu Politrik Feast, Gambarkan Situasi Politik Saat Ini?

HIBURAN, Balinews.id – Band indie rock asal Indonesia, .Feast baru saja merilis lagu berjudul Politrik.…

December 16, 2020

Korban Jiwa Kebakaran Gudang LPG Kini 16 Orang, Tersisa 2 yang Dirawat

DENPASAR, Balinews.id – Korban jiwa akibat kebakaran di Gudang Gas LPG di Jalan Cargo Taman…

December 16, 2020

Menko Airlangga: Tak Ada Anggaran Bansos Untuk Korban Judol

NASIONAL, Balinews.id – Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan tak ada anggaran bantuan sosial (bansos)…

December 16, 2020

DPR Usulkan Mahasiswa Ekonomi Kelas Menengah Diberikan Beasiswa

NASIONAL, Balinews.id – c Menurutnya, model pembiayaan Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang berlaku saat ini…

December 16, 2020