Tenggelam Dalam Gelisah

Romantisme, BaliNews.id – Di tepian danau nan biru ini, aku duduk terpaku di keheningan senja. Pandangan mataku kabur tertutup cairan bening yang keluar deras membasahi pipiku. Aku terisak dalam diam, Bahuku terguncang Dan berkali aku benamkan kepalaku di atas lututku, tenggelam dalam duka. Tenggelam dalam gelisah dan kecewa. Berhari-hari, berbulan-bulan aku berusaha berdamai dengan diri dan hati. Tapi ternyata aku tak mampu, aku gagal. Sudah sekuat tenaga dan rasa aku berusaha mengerti apa yang telah terjadi padamu.

Aku berusaha memahami penjelasanmu. Tapi tetap saja rasa sakit ini selalu mendera tatkala kau tak disampingku. Aku selalu dilanda rasa curiga. Aku tersiksa oleh rasa telah kau khianati. Bayangan wanita dari masa lalumu, yang kehadirannya tidak bisa kau tolak sungguh sangat menyiksaku. Selalu ada tanda tanya besar dalam benakku, kenapa kau masih bersamanya.

BACA JUGA  Romantisme : Jangan Dustai Aku

Kenapa kau masih berhubungan dengannya? Bukankah kau tahu bahwa wanita masa lalumu itu masih sangat mencintaimu? Benarkah kau mampu menjaga kemurnian hatimu darinya? Kenapa sayang, kenapa kau lakukan ini? Takdir membuka mataku menunjukkan keberadaan wanita masa lalumu itu disaat aku sedang sayang-sayangnya padamu. Disaat hatiku sedang dipuncak bahagia bersamamu. Hatiku selalu bergetar mendidih kala aku teringat bagaimana dia memanggilmu mesra, bagaimana dia selalu menumpahkan perasaannya padamu.

Jiwa dan ragaku lunglai setiap aku mengingat semua yang telah terjadi. Kau tahu betapa aku sangat mencintaimu, betapa aku ini menyayangimu. Betapa aku ingin membuat kau bahagia. Berpuluh kali kau katakan, kau beri aku penjelasan bahwa dia hanya masa lalumu. Bahwa saat ini cintamu hanya untukku. Dan berpuluh-puluh kali kau katakan untuk memberimu waktu untuk membuktikan cintamu. Hati dan pikiranku dipersimpangan jalan.

BACA JUGA  Romantisme : Jangan Tunda Niat Baikmu

Mungkinkah niatan bahagia denganmu hanya sebatas impian? Haruskah aku selalu dan selalu mencoba percaya. Sekian lama aku menderita luka ini, sekian lama pula kau tak menyerah memperjuangkan hati dan kepercayaanku kembali. Tuhan….jika saja birunya air danau ini bisa menenangkan hatiku kembali, aku ingin menceburkan diri ini sekian lama sampai hanya kedamaian yang kurasakan. Tuhan….jika saja beningnya air danau ini mampu menjernihkan kembali rasa gelisahku, aku hanya ingin dihapuskan ingatanku akan hadirnya wanita itu dihidupmu. Tuhan….haruskah aku bertahan atau melangkah pergi dari kebersamaanku dengannya? Mampukah aku pergi darinya karena kau tahu Tuhan aku sangat mencintainya.Dan untuk bertahan, sampai kapan airmata ini akan selalu menetes Tuhan??

Facebook Comments

Redaksi

Merupakan salah satu tim dari BaliNews.id