Kontradiksi Hati

Tiada putih tanpa hitam. Tiada damai tanpa selisih. Tiada mengenal tanpa cerita. Tiada rindu tanpa pergi. Dan tiada mencari tanpa kehilangan.

Sesal memang selalu menyakitkan. Sesal datang ketika sudah terlanjur ada yang menjauh. Pun rindu datang ketika kita sudah berbalik badan. Tetapi sesal dan rindumu tak membuat diriku harus kembali.

Masih terngiang permintaanmu supaya aku pergi. Masih terasa sakitku ketika kau mulai tak peduli.

Ke mana engkau saat aku tergolek sendirian menahan pedih. Ke mana engkau saat aku berlinang air mata merasakan tancapnya sembilu perpisahan darimu. Saat ragaku menggelinjang penuh nestapa tak kuasa menahan guncangan badai derita. Di manakah engkau saat itu?

BACA JUGA  Romantisme : Lelaki Hebat, Lelaki Kuat

Kini hatiku telah membeku, ingatanku pun telah membiru. Sekuat apa pun kau memberi kehangatan, hatiku tetap akan membisu. Memoriku akan tetap kelabu mengenang yang telah berlalu.

Saat aku bertahan kau ragu dan menghilang. Kini aku tertatih menjauh dan memerih kau menghampiri. Tidak, aku tidak akan tergoda untuk kembali lagi. Bagiku cukup sudah perjalanan cinta kita yang penuh kesia-siaan ini. Aku tahu masih ada cinta di hatimu dan di hatiku, tapi itu bukan suatu alasan bagi kita untuk meniti jalan yang sama lagi.

Bali, 19 Oktober 2020

Facebook Comments

Redaksi

Merupakan salah satu tim dari BaliNews.id