Tekan Kasus DB, Kemenkes Pakai Nyamuk Wolbachia. Bagaimana Caranya?

Indonesia Paling Sukses Meneliti Wolbachia untuk Berantas Demam Berdarah

Balinews.id – Kasus demam berdarah (DB) tengah  mengalami kenaikan yang cukup serius tahun ini. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pun mulai menggunakan inovasi baru yakni nyamuk wolbachia. Nyamuk ini disebarkan di daerah dengan angka DB tertinggi. Dante Saksono Harbuwono selaku Wakil Menteri Kesehatan menjelaskan bahwa apabila nyamuk wolbachia kawin dengan nyamuk aedes aegypti atau nyamuk penyebab DB, maka ia tidak akan mengandung dengue lagi.

“Tetap kita lakukan salah satu inovasinya adalah menggunakan nyamuk wolbachia atau nyamuk walubase. Ini adalah nyamuk yang kalau nanti dia kita sebar kemudian dia kawin dengan aides aigepty maka aedes aegyptinya tidak mengandung dengue lagi.” “Sehingga waktu menggigit orang maka orang tersebut tidak akan tertular sehingga dengue menjadi lebih ter-cover,” ujar Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono, Selasa (21/9) malam, dilansir Kumparan.com.
Jika dilihat, dari awal tahun 2022 hingga pertengahan kasus ini saja, ada 52.313 kasus demam berdarah dengue telah terjadi di Indonesia. Dari data tersebut hingga bulan Juli total kasus kematian sebanyak 448 orang yang dilaporkan terjadi di 451 kabupaten/kota yang tersebar di 34 provinsi. Dante menyebut setelah inovasi dengan nyamuk wolbachia ini dilakukan, pada bulan September jumlah kasus kematian menurun menjadi 23 kasus.
Ini Bedanya Penelitian Nyamuk Ber-Wolbachia di Indonesia dengan Negara Lain
“Untuk dengue atau DBD kita masih masuk kelompok yang baik untuk endemis dengue di seluruh Indonesia, walaupun angkanya angka kematian sampai tahun sampai hari ini baru 23 kasus, bukan baru hanya 23 kasus dari 2.000 sekian kasus yang ada di sampai bulan September ini,” ujar Dante. Tapi, Dante mengingatkan inovasi menggunakan nyamuk wolbachia ini tidak cukup untuk mengatasi DB. Bila demam berdarah telah terjadi, harus dilakukan langkah-langkah penyembuhan. Langkah-langkah pencegahan demam berdarah seperti memasang kelambu pada tempat tidur maupun jendela, menerapkan program 3M, yaitu menguras, menutup, serta mendaur ulang, dan memperoleh vaksin dengue setelah berkonsultasi dengan dokter juga perlu dilakukan.
“Di samping program-program tadi tentu rehabilitasi-rehabilitasi yang lainnya pencegahan-pencegahan yang lainnya,” Ucapnya. Penelitian terkait inovasi nyamuk wolbachia ini sudah dimulai sejak Juli lalu dan telah ditinjau langsung oleh Menkes Budi Gunadi Sadikin. The World Mosquito Program (WMP) Yogyakarta yang dijalankan oleh Prof. Adi Utarini melakukan penelitian terkait pengendalian virus dengue dengan menggunakan nyamuk aedes aegypti yang telah berbakteri Wolbachia.
Uji coba penyebaran nyamuk ber-Wolbachia telah dilakukan di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul. Monitoring dilakukan oleh perawat dan peneliti untuk melihat efektivitas bakteri Wolbachia terhadap penyebaran virus dengue. Hasilnya, di lokasi yang telah disebar Wolbachia terbukti mampu menekan kasus demam berdarah hingga 77 persen. ***
–> Gabung Grup Telegram Balinews.id dengan klik link  https://t.me/Balinews_id Untuk mendapatkan informasi dan breaking news dari Balinews.id setiap harinya.

Press ESC to close