Balinews.id

Bule Viral yang Rusak Rumah Warga di Gianyar Dipulangkan, Ternyata Punya Sajam Tanpa Ijin

RLG dideportasi dari Bali. (Dok. Istimewa)

BADUNG, Balinews.id – Sempat viral usai merusak dan mengobrak-abrik atap rumah warga, bule asal Amerika Serikat berinisial RLG dideportasi dari Bali. RLG merusak rumah milik Wayan Darta (50) di Kecamatan Tampaksiring, Gianyar, pada Juni 2024.

Aksinya dipicu rasa kekecewaan karena perpanjangan sewa rumahnya ditolak, sehingga ia melakukan tindakan tak terpuji terhadap pemilik rumah. Sejak 2012, RLG masuk ke Indonesia dengan modal KITAS investor dari perusahaan yang ia klaim miliknya. Awalnya, ia datang ke Indonesia sebagai misionaris yang membantu banyak orang di Bali. Sejak Juni 2014 hingga Juni 2024, ia menyewa rumah di Tampaksiring.

“Yang bersangkutan merendahkan keluarga pemilik rumah dengan membuang pelangkiran (tempat sembahyang) dan merusak pohon di halaman rumah membuat pemilik rumah menolak perpanjangan sewa,” jelas Pelaksana Harian (Plh) Kepala Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Denpasar, Gustaviano Napitupulu, dalam keterangan tertulis Senin (8/7/2024).

Karena merasa kecewa, RLG diduga menyuruh orang-orang tak dikenal untuk membongkar atap rumah Darta yang disewanya. Wayan Darta pun tak berdaya melihat rumahnya dirusak dan melaporkan kejadian tersebut ke polisi. RLG akhirnya ditangkap di rumah tersebut.

Gustaviano mengungkapkan bahwa pria berusia 55 tahun itu telah dipulangkan pada Jumat (5/7/2024). Selain bermasalah dengan warga Tampaksiring, RLG juga kedapatan memiliki senjata tajam yang dikirim dari temannya di AS.

“Menurut pengakuannya, senja itu untuk sampel produksi yang akan dijual kembali. Rencananya, pisau tersebut akan ia kirim ke perajin di Bali untuk dibuatkan sarungnya,” tambah Gustaviano.

Polisi menegaskan bahwa kepemilikan senjata tajam tanpa izin merupakan pelanggaran yang dapat membahayakan keamanan dan ketertiban umum. Oleh karena itu, Polres Gianyar mengirimkan RLG ke Kantor Imigrasi Denpasar dengan rekomendasi deportasi.

“Sesuai Pasal 102 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian, penangkalan dapat dilakukan paling lama enam bulan dan dapat diperpanjang paling lama enam bulan lagi. Namun keputusan lebih lanjut akan diputuskan oleh Direktorat Jenderal Imigrasi dengan mempertimbangkan seluruh kasusnya,” pungkas Gustaviano. (*)

Tak Hanya Sekedar Hiburan, Ini Manfaat Membaca Novel yang Perlu Dipertimbangkan

INTERMESO, Balinews.id – Membaca novel seringkali dianggap sebagai hiburan semata bagi sebagian orang. Namun, ada…

July 9, 2024

Dikira Ngancam Pakai Pisau, Ternyata Pembuka Tutup Botol

DENPASAR, Balinews.id – Sepasang suami istri penjual nasi goreng di daerah Pemogan Denpasar Selatan mendapat ancaman dari…

July 9, 2024

Sempat Ngaku Sakit, Nyoman Panca Ditemukan Tewas Telanjang di Kamar Kos

DENPASAR, Balinews.id – Seorang pria asal Buleleng bernama I Dewa Nyoman Panca (54) ditemukan tak…

July 9, 2024

Bule Australia Dideportasi Akibat KDRT Dengan Istrinya yang Merupakan WNI

BADUNG, Balinews.id – Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Bali, melalui Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim)…

July 9, 2024

Ancam Pedagang Nasgor di Pemogan dengan Sajam, Pria Ini Akhirnya Minta Maaf

VIRAL, Balinews.id – Warganet dihebohkan oleh sebuah video yang memperlihatkan seorang pria membawa senjata tajam…

July 9, 2024