Super Sina Part.2

Kemudian hari yang ditunggu-tunggu tiba, maksudku hari dimana pertarungan tahunan akan dimulai. Karena pertarungan ini wajib, dan yang mengikuti pertarungan ini lumayan banyak makanya akan di bagi menjadi empat kelompok besar. Tentu saja one by one. Maksudnya lagi setiap kelompok akan bertarung dengan kelompok yang lainnya.

Sengaja dilakukan karena bila semuanya one by one, itu akan membutuhkan waktu yang lama dan tidak efektif. Yang menang akan melanjutkan pertarungan dan yang kalah tentu saja tidak dapat melanjutkan pertarungan. Oh iya, pertarungan ini memang wajib tapi bukan berarti semua orang akan ikut bertarung. Semua siswa akan di seleksi terlebih dahulu.

 Seleksinya juga tidaklah mudah, bahkan dari seluruh murid disekolah ini yang lolos hanya empat puluh orang saja. Benarbenar susah. Kemudian bagi yang lolos, tentu saja akan bertarung dan bagi yang tidak lolos harus mengulang kelas tahun depan. Iya, bisa jadi tidak naik tingkat elemen.

Tentu saja Sina, Lea, Lian, dan Mega mengikuti seleksi itu juga dapat dipastikan mereka lolos!! Dan kebetulan sekali, Sina, Lea, Lian dan Mega satu kelompok. Ah, ingat pada Geo? Ya, dia juga lolos. Tapi tidak satu kelompok dengan Sina, dia berada dikelompok lain bersama teman-temannya. Jadi bisa saja, Geo dan Sina bertarung demi kelompok masing-masing.

Pertarungan tahap pertama ini sudah tentu berkelompok. Misinya adalah untuk mencari sebuah gulungan di dalam hutan belakang  sekolah dan membawanya kembali ke sekolah. Gulungan itu hanya ada dua, sudah jelas yang lolos hanya dua kelompok. Ada beberapa menit lagi sebelum pertandingan ini dimulai. Jadi Sina, Lea, Lian dan Mega memutuskan untuk pergi kekantin terlebih dahulu. Haus bro, liat saingannya kuat-kuat.

Usai membeli minuman mereka duduk disalah satu bangku. “Astagaa, aku tiba-tiba gugup. Bagaimana kalau kita tidak lolos ke babak selanjutnya ya?” kata Mega. “Sudah tenanglah. Pasti kita berhasil kok, asalkan kita semua bekerja sama.” Ucap Lea bijak. Sina dan Lian hanya bagian mengangguk saja, hahaha. “Eh eh, Ayo balik ke belakang sekolah. Pertandingannya udah mau mulai.” Ajak Lian. Kemudian mereka berempat langsung lari menuju belakang sekolah.

“Huh, huh, huh.” Suara nafas mereka berempat. “Untung saja, kita tidak terlambat.” Kata Sina begitu bisa mengatur nafasnya. Lea, Lian dan Mega hanya mengangguk lalu mereka semua bergabung dengan kelompok mereka. “Semua sudah berkumpul? Baiklah, silahkan memulai tugasnya!” kata salah satu Guru pengawas. Seketika semua siswa berbondong-bondong masuk ke dalam hutan.

Hah.. Ini sia-sia saja, jika kita tidak tau dimana letak gulungan itu. Sina berpikir mencari cara yang efektif untuk menemukan gulungan kecil di dalam sebuah hutan besar dan teringat,.. “Tunggu teman-teman, bisa berhenti sebentar. Aku harus menenangkan diri sebentar.” Pinta Sina. Teman-teman sekelompok Sina hanya menurut. Sina menutup matanya, menyatukan elemen tanah dan anginnya diam-diam. Dan berkonsentrasi. Dalam sekejap semua isi hutan ada dalam pikirannya. Ketemu.

“Ayo teman-teman ikuti aku, aku tahu dimana gulungan itu. Kita harus cepat, salah satu gulungan sudah diambil kelompok lain.” Kata Sina mengambil ancang-ancang untuk berlari. Kemudian larilah mereka semua. Diam-diam Sina menggunakan elemen anginnya ke seluruh anggota kelompoknya. Supaya mereka lebih cepat sampai. Namun…

BACA JUGA  Cerpen; Tiba-tiba Bahagia

Brak..

“Ah!” teriak semua orang. Semua tidak siap, dan terhempas ketanah karena akar pohon yang melilit kaki masing-masing. Semua mencoba berdiri tapi tidak bisa karena akar itu melilit tubuh mereka masing-masing. Dan semakin lama, lilitan itu semakin kuat. Melihat semua orang tidak bisa keluar dari lilitan akar pohon itu, salah satu anggota kelompok—Seu—mengeluarkan elemen api di seluruh tubuhnya dan membakar akar pohon itu.

Setelah bebas, Seu melempar elemen apinya ke semua anggota. Tenang saja, tidak mengenai tubuh mereka kok. Api itu bekerja, dan membakar akar-akar pohon itu. Bebaslah mereka semua. Sebenarnya Sina bisa saja mengeluarkan elemen apinya tapi sekarang dia harus menyimpan tenaga. Ya, keuntungan menjadi seorang Ace adalah dapat menguasai semua elemen.

Yuga—anggota yang lain—mengeluarkan elemen airnya dan memadamkan api supaya tidak menyebabkan kebakaran. Padamlah semua api itu, “Padamkan apinya bodoh! Kenapa malah kau biarkan?” Yuga memukul kepala Seu. Seu hanya tersenyum bodoh. Mereka memang teman kok. “Hih! Ngapain sih itu pohon idup segala?” dumel Lian. Sean—teman sekelas Lian dan Mega—menjawab, “Ya mananya juga hutan terlarang.” Eh, iya juga sih, pikir Lian. “Udah-udah, jadi dimana gulungan itu Sina?” tanya Lea. “Oh iya! Hampir lupa.” Sina menepuk dahinya. “Itu, di dalam lubang pohon itu.” Tunjuk Sina pada pohon yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Kemudian Joan—anggota lainnya—yang berada di dekat pohon, ingin mengambil gulungan itu. Tapi matanya tidak sengaja melihat seekor rubah yang terjerat. Kasihan pada rubah itu, Joan mendekati Si rubah dan membantunya. Namun rubah itu tiba-tiba mencakar lengan Joan hingga berdarah bahkan bajunya sampai robek.

“Ah!” ucap Joan kesakitan. Bagaimana aku bisa lupa kalau ini hutan terlarang dan isinya yang aneh-aneh, pikir Joan. Mendengar suara kesakitan Joan, Sina dan teman-teman datang menghampiri Joan. Dan melihat lengan Joan berluka karena seekor rubah. Mega menghampiri Joan dan memapahnya menjauh dari rubah. Menyandarkan Joan pada salah satu pohon dan memanggil Minni—anggota sekelompoknya—untuk mengobati Joan.

Sementara itu yang lain sedang berhadapan dengan rubah itu. Mereka beberapa kali menghindar dari serangan rubah itu. Kemudian Tio—salah satu anggota kelompok memerangkap rubah itu dengan tanahnya. Mencoba membunuh rubah itu tapi Sina menghentikan karena merasa kasihan pada hewan cantik itu. Jadi mereka biarkan saja rubah itu terperangkap.

BACA JUGA  Dunia Fantasi

Melihat rubah itu sudah terperangkap, Sean pergi mengambil gulungan. Kemudian mereka semua menghampiri Joan. “Minni bagaimana?” tanya Sina. “Sudah nggak papa kok. Udah aku obatin dan kuperban.” Jawab Minni. “Joan nggak papa?” tanya Seu pada Joan. “Santai bro, udah sembuh.” Jawab Joan sambil tertawa. “Yaudah deh, ayo kita kembali kesekolah.” Ajak Sina. “Let’s go.”

Saat ingin kembali ke sekolah, tiba-tiba kelompok lain menghadang kelompok Sina. “Serahkan gulungan itu!” ucap salah satu pemuda yang ada disana. “Tidak akan! Cih. Kau pikir mudah mendapatkan gulungan ini.” Decih Yuga kesal. Kemudian tanpa aba-aba, salah satu anggota itu menyerang kelompok Sina dengan elemen apinya. Untung saja, mereka semua dapat menghindar. “Woy! Pleaselah ya, kalau mau nyerang tuh ngomong dulu bro!” kesal Sean.

“Banyak omong, rasakan ini!” Kemudian muncul angin Badai dan menerbangkan seluruh anggota kelompok Sina. “AAAAAA” teriak mereka. Si pengendali angin itu berkata, “Kalian semua akan habis.” Lalu gulungan itu terlepas dari tangan Sean. Gulungan itu melayang-layang dan sampai pada tangan pengendali angin. Sina merasa pusing karena terus berputar-putar di dalam badai ini.

Sina merasa mual. Belum sampai di situ, kemudian muncul petir kecil, menyambar mereka. “Argh!!” teriak mereka lagi. Badai itu adalah percampuran dari elemen angin dan petir. Mereka semua sesekali tersambar petir. Sina mencoba tenang dan berpikir. “YUGA! KELUARKAN AIRMU DAN HANCURKAN PUSARAN INI.” Teriak Sina pada Yuga. Bisa saja Sina yang mengeluarkan elemen airnya tapi sekarang dia sedang tidak ada tenaga karena mual. Mendengar hal itu, Yuga segera mengeluarkan elemen airnya.

Akhirnya pusaran itu menghilang. Karena mereka semua pada awalnya melayang, jatuhlah mereka kembali ke bumi. Tenang saja, Lian sudah mengeluarkan elemen tumbuhannya kok. Jadinya mereka bukan jatuh di tanah, tapi di atas tumbuhan merambat, bentuknya seperti tempat tidur gantung. Tetap sakit sih, tapi masih mendinglah. Kemudian segera saja Sina mengeluarkan elemen petirnya dan menyambar sang musuh. Iya, petir dan bekas air. Bukankah luar biasa? Hahahaha.

Membiarkan mereka tersetrum terlebih dahulu, baru setelah itu Seu dan Mega mengeluarkan elemen apinya, melemparkan sebuah bola api ke arah kelompok musuh. Total ada sepuluh buah bola api. Semua anggota musuh terlempar ke pohon dan menyebabkan pohon-pohon itu patah. Aww, sudah pasti rasanya sangat sakit, pikir Sina. Kemudian Sean melemparkan anginnya, membentuk seperti Tombak kecil.

Mengenai semua musuh mereka dan menyebabkan luka-luka kecil. Tidak membiarkan musuh melawan, segera saja Lian menggunakan elemennya untuk mengikat kuat semua anggota musuh di pohon. Supaya mereka tidak bisa kabur. “Kerja bagus Lian.” Kata Seu. Kemudian Joan mengambil gulungan itu dari tangan pengendali angin. “Tidak semudah itu!” Tiba-tiba pasir beterbangan, menghalangi pandangan.

BACA JUGA  Alyan dan Rena

Sret..

Gulungan kembali ke tangan musuh. Sina menyadari hal itu, segera saja dia membuat dinding tanah disekeliling mereka. Menutupi jalan musuh untuk kabur. Kemudian mengeluarkan elemen anginnya, menghempaskan semua pasir itu. “Tio, keluarkan elemen tanahmu dan jerat mereka menggunakan tanahmu.” Perintah Sina pada Tio. Semua musuh tidak dapat bergerak. Segera saja Joan langsung mengambil gulungan merah itu kembali. “Arghh!” Sina mendengar teriakan kesal itu, hanya tersenyum sinis.

Kemudian menyuruh Tio untuk membuat jangkar dari tanah, memenjarakan musuh mereka juga menghilangkan tanah dikaki mereka. “Ayo kita pergi sekarang!” ajak Sina. “Tunggu! Daripada lari, mending kita teleport pakai kekuatanku yuk?” kata Lea. “Yaelah Lea, kenapa nggak dari tadi woy? Kan  kita tadi kesini nggak usah lari.” Dumel Joan. “Ya maaf, dahlah. Jadi balik nggak nih?” Lea ikutan kesal. Seketika semua anggota kelompok Sina menjadi kompak menjawab, “Ya jadilah!”

“Ya udah, kita semua pegangan ya?” kata Lea. Semuanya langsung berpegangan tangan. Lea kemudian menutup matanya dan dalam sekejap menghilanglah mereka. Meninggalkan kelompok musuh yang terperangkap seperti burung. Halah, palingan nanti di temuin  sama guru pengawas jadi mereka bebas dari kurungan deh. Ketika membuka mata, mereka sudah sampai di sekolah, lebih tepatnya halaman belakang sekolah.

Segera saja mereka menghampiri salah satu guru pengawas yang menunggu di sekolah. Kemudian memberikan gulungan dan mereka dinyatakan lolos. Mereka sekarang sedang berada di kantin, haus habis bertarung. “Eh iya Sina, ada yang ingin aku tanyakan nih. Itu kenapa kamu bisa punya elemen lebih dari dua?” tanya Minni penasaran. “Benar juga. Em, bukankah selama ini kamu dicap lemah?” tanya Yuga membenarkan. Sina hanya tersenyum, “Kalian akan tahu nanti.” Jawabnya. “Tapi kamu hebat sekali!! Jadi selama ini berita kalau kamu lemah itu bohong.” Kata Sean. Sina hanya tersenyum.

Selang beberapa menit kemudian, kelompok Geo datang. Mereka juga memberikan gulungan yang satunya dan tentu saja dinyatakan lolos. Jadi dua puluh orang dinyatakan melanjutkan ke babak berikutnya. Semua orang yang lolos, berteriak gembira. Geo dan Sina bertatapan mata, seolah berkata selamat, kemudian tersenyum senang. “Baiklah, bertarungan hari ini sudah selesai. Sampai jumpa besok!” kata guru pengawas mengakhiri. Kemudian mereka semua kembali ke kamar asrama masing-masing. Mereka semua harus istirahat supaya besok lebih bersemangat. Juga supaya mereka lolos ke semifinal.

Bersambung…

¤¤¤¤

By : Gangga Moyi, SMP Dwijendra

Facebook Comments