CERPEN; Siapa Perempuan itu, Bli? #4

BaliNews.id – [ Lusi, seberapa pun kamu marah, Bli akan terus minta maaf. Dan seberapa pun jauh kamu pergi, Bli akan tetap datang mencarimu. Selama aku masih bernafas, aku akan terus memperjuangkanmu ].

 

Terselip sebuah pesan di antara mawar – mawar cantik yang baru saja kuterima dari ibuku. Rupanya pagi ini Bli Wira sudah ke rumahku dan sengaja tidak menemuiku.

 

Aku taruh bunga – bunga itu di atas meja kamarku, kupandangi sekilas saja. Dan segera aku bergegas pergi ke kantor setelah sebelumnya berpamitan dengan ibuku. Aku tidak ingin memandang bunga itu lama – lama. Aku tidak mau menjadi lemah lagi. Aku harus menguatkan tekadku untuk pergi dari Bli Wira. Cukup sudah aku sakit hati dan merasa di bohongi olehnya.

 

Sepanjang perjalanan menuju kantor, aku tidak konsen menyetir mobilku. Tak bisa ku pungkiri, bunga dari Bli Wira membuatku teringat dengannya. Sepagi itu dia sudah ke rumah. Sudah seminggu semenjak aku bilang putus, aku tak pernah bertemu lagi dengan Bli Wira. Aku tak pernah mengangkat teleponnya, pun semua chatnya hanya aku baca saja. Apakah dia baik-baik saja? Ahh segera kusingkirkan pikiranku tentang dia. Bukankah dia sudah ada orang lain yang setiap waktu ada untuknya? Mengingat isi chat perempuan itu hanya membuatku dilanda kemurkaan saja!!

 

Ting. Kulihat pesan dari Bli Wira masuk di ponselku ketika aku sedang sibuk memarkirkan mobilku di depan kantor yang ternyata pagi ini sudah hampir penuh dengan mobil – mobil lainnya.

 

[ Selamat pagi, Lusi. Semoga hari ini lebih baik dari hari kemarin. Ingat jaga kesehatan ya. Jangan telat makan siang juga. Pagi ini Bli meliput ke Buleleng.]

 

[ Semoga kamu berkenan dengan bunga pemberianku. Aku sangat merindukanmu, Lusi.]

 

Kusandarkan punggungku ke jok mobilku. Entah apa yang sedang kurasakan. Semuanya bercampur, ada terharu, ada rindu, ada khawatir, tetapi rasa marah dan kecewa juga masih bertahta dengan jumawa dibenakku.

 

Aku melangkah dengan gontai ke dalam kantorku. Terasa hilang semua semangatku. Ingin rasanya aku kembali menanggis untuk meringankan sesak didadaku ini. Bli Wira, tahukah kau kalau aku sangat rindu padamu. Hatiku hampa tanpa dirimu.

 

Sepagi ini dia sudah berangkat ke Buleleng. Apakah dia sudah sarapan, karena aku tahu dia akan mengalami pusing dan mual jika terlambat makan.  Apakah dia sudah memakai jaket karena aku tahu dia tidak tahan dengan dingin. Apakah dia menyetir sendiri ataukah ada yang diajak? Ingin sekali aku menanyakan itu semua.

BACA JUGA  Romantisme; Potret

 

Tapi segera aku urungkan semua niatku itu. Toh nanti juga sudah ada yang akan menyemangatinya, Si Sukma, wanita yang tergila-gila padanya dan mungkin juga Bli Wira masih tergila-gila padanya.

 

***

 

Seminggu lain sudah berlalu, dan aku masih tetap tak bergeming. Aku masih belum membuka komunikasi dengan Bli Wira. Masih sama seperti setahun yang lalu, Bli Wira tetap setia menyapaku setiap pagi, siang, malam dan kapanpun dia menginginkannya. Selalu ada rasa berdosa setiap aku mengabaikannya, tetapi aku harus melakukannya.

 

“ Lusi, kita makan bareng yukk!” ajak Pita, sahabat dekatku di kantor.

“ Oke, kebetulan aku sudah lapar nih. Oh iya kita berdua aja ini?” tanyaku pada Pita sembari aku beranjak dari tempat dudukku dan meraih tas kesayanganku.

“ Arini mau gabung sih. Gak apa-apa kan? Tapi dia masih ke toilet,” jawab Pita.

“ Apaan sih Pit, tentu saja bolehlah. Tapi kita makan di depan kantor aja ya, aku lagi pingin makan rujak pedes dan es daluman.”

“ Oke, sip!” sahut Pita bersemangat.

 

Segera kita meninggalkan ruang kerja kami begitu Arini sudah bergabung. Sambil sesekali cekikikan kita melangkah menuju warung masakan Bali yang letaknya di seberang jalan kantor.

 

Tanpa ba-bi-bu kita langsung memesan makanan kami masing-masing, dan memilih meja yang terletak agak di pojok dekat dengan posisi kipas angin. Denpasar begitu panas beberapa hari ini.

 

“ Lus, sorry ya aku penasaran. Kayaknya udah lama kamu gak pernah di jemput Bli Wira lagi. Sudah dua Minggu ini kamu nyetir sendiri terus, biasanya ada aja kamu di antar jemput sama Bli Wira. Kalian lagi berantem ya?” tiba-tiba Pita memborbardirku dengan pertanyaan tentang Bli Wira.

 

Selama lebih dari tiga bulan hubunganku dengan Bli Wira renggang, dan selama itu pula aku tidak pernah curhat ke satu pun teman dekatku. Aku memilih diam. Aku memang bukan tipe banyak bicara untuk urusan pribadiku kepada siapapun. Dan alasan kedua adalah bagiku hal sangat memalukan menceritakan ke orang lain bagaimana aku di bohongi sama Bli Wira.

BACA JUGA  Cerpen : Siapa Perempuan Itu, Bli? #1

 

“ Iya lho, aku perhatikan Mbok Lusi belakangan ini jarang ceria. Kayaknya lebih banyak diam dan senyum sekedarnya saja sama kita. Bagi sedihnya dikit dong Mbok Lusi, biar bisa lebih plong.” Arini menimpali omongan Pita.

“ Nggak, aku baik-baik saja. By the way, thankyou ya kalian sudah perhatian sama aku, dan ternyata diam-diam juga merhatikan aku “ aku berusaha menyanggah pertanyaan mereka dan menampilkan tawa walaupun sebenarnya itu adalah tawa kepura-puraan.

“ Lusi, ayo cerita. Percaya deh kita bisa jaga rahasia, always keep silent. Pasti bener kan kamu lagi ada masalah sama Bli Wira?” rupanya Pita gak mudah menyerah.

 

Dan aku mulai tergoda, aku mulai berpikir mungkin dengan sedikit berbagi cerita ke sahabat, hatiku akan sedikit lebih lega. Dan mulailah aku sedikit membuka cerita kepada mereka.

 

“ Ya ampun sedih banget sih aku dengarnya. Benar berarti feelingku kalau kamu lagi ada masalah sama Bli Wira.”

“ Menurut kalian aku harus bagaimana sekarang? Jujur aku binggung sekali.” Tanyaku pada mereka berdua.

“ Maaf ya Lus sebelumnya. Kalau menurut aku pribadi sepertinya Bli Wira termasuk orang yang baik dan jujur. Dan kelihatan banget kalau sayangnya ke kamu itu gak main-main. Aku saja sering jealous sama kamu. Pingin punya pacar yang baik seperti Bli Wira. Mungkin dalam hal dengan perempuan itu, Bli Wira memang masih ada sesuatu yang perlu diselesaikan.” Pita berusaha menenangkan aku, berusaha netral, dan berusaha bijak.

 

“ Kalo menurutmu gimana, Arini?”tanyaku pada Arini yang sedari tadi diam mendengarkan sambil menikmati es dalumannya.

“ Maaf Mbok Lusi, pendapatku sama seperti Mbok Pita. Tapi aku sih pernah dengar sedikit cerita tentang Bli Wira sebelum dengan Mbok Lusi,” jawaban Arini sungguh membuat aku antusias. Seketika aku bersemangat dan sedikit deg-degan. Cerita apa yang ditahu Arini tentang Bli Wira.

“ Cerita apa itu Arini? Tolong kasitahu aku. Please!” kata-kataku cepat, gak sabar mendengarkan Arini.

 

Sekilas kulihat Pita mengerdipkan matanya ke arah Arini. Hal ini membuatku semakin penasaran.

“ Pita, please biarkan Arini cerita. Jangan dilarang. Aku barusan lihat kamu mengkode Arini untuk diam,” sungutku pada Pita.

“ Mbok Lusi nanti jangan terbawa emosi ya. Ini cuma sebagai bahan pertimbangan saja. Supaya Mbok Lusi gak galau lagi dan bisa mengambil keputusan.”

BACA JUGA  IPhone SE 2020 Masuk Indonesia Bulan Depan

“ Iya cepat cerita, Arini!”Aku benar-benar sudah gak sabar lagi.

“ Jadi gini Mbok. Kakakku itu pernah sekantor dengan Bli Wira dan perempuan itu, meskipun cuman setahun dan lain divisi. Kakakku juga tidak akrab dengan dengan keduanya. Cuman kakakku kebetulan berteman di FB sama perempuan itu. Waktu ini aku pinjam FB nya kakakku dan pas aku lihat-lihat ada yang lagi posting foto bersama Bli Wira. Aku penasaran, aku buka FB nya perempuan itu. Dan aku terkejut Mbok Lusi. Di sana banyak sekali foto-foto akrab mereka selama sekian tahun. Mbok Lusi bisa lihat sendiri kok di account FB nya perempuan itu, postingnya untuk umum, gak di private.”

“ Terus, Terus, Arini!” aku sebisa mungkin berusaha tenang meskipun jantungku terasa mau copot dan airmata ingin mengalir.

“ Lalu aku tanya kakakku tentang Bli Wira dan perempuan itu. Dan kakakku bilang, mereka berdua memang terkenal sangat akrab di kantor, bukan rahasia. Meskipun mereka ngaku cuman teman saja. Gitu aja sih Mbok yang kutahu. Coba mbok nanti buka FB perempuan itu” Arini mengakhiri ceritanya.

 

***

 

Setelah acara makan siang dengan mereka selesai, aku minta izin ke kantor untuk pulang lebih awal. Kepalaku sangat berat, dan alasan kedua aku ingin tempat untuk menanggis. Sedangkan alasan utamanya adalah aku ingin segera melihat seperti apa kedekatan Bli Wira dengan perempuan itu lewat foto-foto di FB mereka.

 

Sesampainya di rumah segera aku menghambur ke kamar, tidak memperhatikan ibuku yang keheranan karena aku pulang masih siang. Aku raih ponselku, aku seaching FB atas nama perempuan itu sesuai petunjuk Arini. Dan tak tertahankan, darahku terasa mendidih, airmata berlinang-linang, aku tergugu sendirian.

 

Bersamaan dengan itu, Bli Wira mengirimkan pesan.

[ Lusi, ingat makan siang. Jaga kesehatan ya. Kamu lagi di mana? Perasaan Bli lagi nggak enak sekali. Kepikiran kamu terus]

 

Dengan cepat, dengan penuh emosi aku balas pesan Bli Wira, setelah dua Minggu aku tak pernah membalas chatnya sama sekali.

[ Mulai sekarang berhenti mengabsen pagi siang sore malam Bli! Aku tidak butuh absenmu lagi! Nikmati saja hari-harimu dengan perempuanmu itu!! Jangan ganggu hidupku lagi. Dasar lelaki pembohong!!!

 

To be continue

 

By : Gita Hati in Bali, 30 September 2020

Facebook Comments

Agus Hendrawan

Merupakan salah satu tim dari BaliNews.id