Aku Bangga Menjadi Sudra

BaliNews.id – Banyak orang yg memandang sudra sebagai sebuah kelas yang hina/
nista/terbawah dan terkesan negatif lainnya. Namun saya akan coba membalikan sudut pandang ini agar menjadi lebih kearah positif.

Dalam agama hindu ada istilah Catur kasta, empat pembagian level/kelas/golonngan manusia (kurang lebih sperti itu terjemahan bebasnya). Adapun pembagiannya: Brahmana (golongan pendeta/orang suci), ksatrya (pemimpin), weisya (pedagang/pegawai), sudra (pelayan/budak). Di zaman dulu praktek kasta sangat kental dalam masyarakat dan bahkan sudah mempengaruhi darah dan pikiran manusia. Namun dalam konteks kekinian khususnya di bali konsep atau istilah kasta ini masih ada namun rancu (gabeng). Kenapa rancu??? Karena kasta ini sering dijadikan ajang kompetisi untuk menaikan level kehidupan bahkan sebagai legitimasi diri dimana seorang atau kelompok menganggap berada diatas orang lain.

Fenomena ini tidaklah masalah dan biasa saja, karena sifat asli manusia yg akan selalu ingin berada diatas/lebih kuat dari manusia lainnya (homo hominilupus). Di kehidupan sekarang banyak juga orang mencari2 kasta mereka dan tentunya mereka ingin menjadi/berada di kasta yg tertinggi entah itu brahmana atau ksatriya. Entah apa alasan yg mendasari itu semua mungkin dari hasil penelusuran silsilah, kitab2 suci, bisikan gaib, atau sumber lainnya. Semua ini sah-sah aja semua orang berhak menentukan kehidupannya masing-masing.

Dalam sudut pandang saya, konsep kasta merupakan sebuah pemikiran adiluhung dari para leluhur manusia. Dalam konsep ini terkandung sebuah falsafah hidup yang jika kita kupas lebih dalam bisa menjadikan manusia sebagai mahkluk yang luar biasa dalam menjalankan kehidupannya bahkan untuk bisa memenangkan persaingan di era modern ini entah itu persaingan bisnis, politik, kepintaran, dll. Dalam tulisan ini saya tidak akan menjelaskan keemapat golongan kasta ini , namun akan khusus mengupas tentang falsafah hidup seorang sudra. Mengapa Sudra?? Karena selama ini dalam masyrakat sudra sering diartikan kaum hina, pelayan, budak pokoknya kaum terbawah.

BACA JUGA  #BaliNewsTalk Transisi Pencarian Pekerjaan ke Digital serta Tips dan Trik Di Terima Kerja dari LokerBali

SUDRA secara etimologis adalah golongan masyarakat yang melaksanakan profesi dengan mengandalkan kekuatan jasmani, ketaatan, dan serta bakat ketekunannya. Tugas utamanya adalah berkaitan langsung dengan tugas-tugas memakmurkan masyarakat negara dan umat manusia atas petunjuk-petunjuk golongan lainnya serta melayani mereka. Contoh profesi yang termasuk dalam warna Sudra adalah pekerjaan seperti buruh, tukang, pekerja kasar, petani, pelayan, nelayan, penjaga, dll (sumber: wikipedia). Dari penjelasan diatas kita mendapatkan sebuah kata kunci yaitu “pelayanan”, ya memang benar sekali sudra adalah sebuah konsep pelayanan yg tulus ikhlas dimanapun, kapanpun dan pada siapappun. Konsep Pelayanan inilah akan saya tekankan dalam tulisan ini. Saya tidak akan membahas tentang veda sebagai acuan konsep kasta ini karena saya juga memang bukan ahli agama.

Pada zaman kerajaann dulu kaum sudra memiliki peran penting dalam mensukseskan program2 kerajaaan seperti pembuatan jalan, candi-candi besar, upacara-upacara, dll. Mungkin kalau tidak ada kaum sudra ini semua program kerjaan tidak akan sukses. Merekalah kunci dari semua kesuksesan kerjaaan karena kaum ini memang melayani dengan loyalitas tinggi dan sepenuh hati tanpa mengharapakan hasil atau tanda jasa tinggi.
Nah bagaimana perananan kaum /konsep ini di era sekarang?? Apakah masih penting?. Menurut pandangan saya justru di era sekarang konsep sudra adalah konsep yang sangat penting jika dihubungkan dengan negara demokrasi. Demokrasi sebuah konsep negara yg menjadikan rakyat sebagai pemegang kekuasaan tertinggi. maka dari itu dalam negara demokrasi pemimpin harus bisa melayani rakyat dengan sebaik-baiknya ini terbalik dengan sistem kerajaan. Nah inilah konsep sudra hendaknya dijadikan pedoman oleh para pemimpin agar bisa menjadi pemimpin yg memang dengan tulus melayani rakyat,jika ini berjalan bagus maka saya berani pastikan negara akan maju.
Tidak hanya di dalam pemerintahan , di era sekarang konsep sudra (kunci: pelayanan) bisa diaplikasikan di dalam perekonomian/bisnis. Jika seroarng pebisnis bisa menempatkan dirinya selalu sebagai seorang sudra (pelayan yg baik), makan pastilah bisnisnya akan maju.
Ada juga pentingnya sudra dalam lini kehidupan lainnya, berikut penjelasannya:

BACA JUGA  Daftar Film Tayang Bulan Juli 2020 di Netflix

Dalam keluarga kecil misalnya, jika semua anggota keluarga menempatkan diri sebagai seorang sudra betapa bahagianya keluarga itu , karena semua saling bantu.

Dalam masyarakat: jika semua orang menempatkan diri sebagai sudra, betapa makmur dan berkualitasnya masyarakat itu. Mereka mengangap dirinya adalah sebagai pelayan orang lain, begitu pula sebaliknya orang lain menggap dirinya adalah pelayan kita. Tidak akan adalagi merasa diri paling tinggi dan paling harus di agungkan. Dicontohkan dalam satu desa Pendeta melayani umatnya dengan maksimal tanpa mengaharapkan imbalan apapun. Para pejabat melayani dan membuat program2 yg menguntungkan masyarakat dan melayani rakyatnya dengan sepenuh hati, rakyat kecil dengan rela dan speneuh membantu program2 pejabat yg tebtunya dibuat untuk kemjuan bersama, para pedagang di pasar melayani pembeli dangan keramahan.
Semoga ini semua adalah kenyataan.

BACA JUGA  "New Normal" Di Bali Funtastic

Dari uraian ini diatas sebagai generasi milebial saya berani berpandapat bahwa “Saya Bangga Menjadi Sudra” karena dengan melayani dengan sepenuh hati dimanapun, kapanpun dan pada siapapun hidup kita akan berkualitas. Karena pelayanan ini bukanlah sesuatu yang hina/ nista namun lebih pada pengabdian bukan cuma pada manusia atau lingkungan namun lebih pada sesuatu yg lebih besar yang ada di dalam maupun di luar diri kita.

Akhir kata : Apapun pekerjaanmu, apapun jabatanmu, apapun bisnismu, sehebat apapun penemuanmu tetaplah melayani dengan sepenuh hati.

– Gede Julius _ 2020 –