Rayakan Bulan Bung Karno Dengan Pementasan Virtual

Rayakan Bulan Bung Karno Dengan Pementasan Virtual

Buleleng, BaliNews.id, – Peringatan Bulan Bung Karno yang jatuh pada setiap bulan Juni, Komunitas Teater Selem Putih menggelar pementasan virtual. Pemantasan virtual dilakukan pada Senin malam (1/6) bertepatan dengan harı lahirnya pancasila. Dalam pementasan virtual yang bertajuk Merayakan Bulan Bung Karno, digagas oleh dramawan Buleleng, Putu Satria Kusuma yang sekaligus sebagai penulis naskah dan sutradara pementasan. Proses kreatif telah dilakukan oleh Putu Satria sejak tahun 2019 lalu. Sebanyak 30 puluh buku yang terkait dengan kisah Seokarno telah dibaca sebagai penunjang dalam menyusun naskah fragment pendek. Seluruh buku tentang Soekarno, bukan hanya dari koleksi buku pribadi, melainkan juga berasal dari teman-teman yang secara sukarela memberikan buku, untuk bahan referensi penyusunan naskah. 

Rayakan Bulan Bung Karno Dengan Pementasan Virtual

Putu Satria menyampaikan bahwa, recananya ia akan membuat 10 naskah pragment pendek tentang Soekarno. Sampai saat ini, telah ada lima judul naskh, tiga diantaranya telah rampung dikerjakan dan siap untuk dipentaskan. Tiga naskah yang telah rampung, dipentaskan pada senin malam (1/6) dengan format pementasan virtual.

BACA JUGA  Ratusan Juta Pagi ini Uang Berputar Untuk Membantu Para Petani Ikan di Kabupaten Gianyar

“Pementasan ini, merupakan perwujudan kebanggaan saya terhadap Soekarno, sebagai bapak bangsa. Tiga Puluh buku tentang Soekarno telah saya baca. Saya berterimakasih kepada teman-teman yang secara sukarela memberikan bukunya untuk memperkuat naskah-naskah saya. Hari ini saya pentaskan 3 naskahnya. Karena pandemi jadi pementasan dibuat secara virtual, penonton tidak bisa datang langsung, hanya legat online soja” ungkapnya

Tiga fragment yang dipentaskan secara online, pada senin malam diantaranya, Cinta Tidak Punya Takut, Lawan Juga Kawan, Tukang Teh di Gedung Tyuuoo Sangi-in. Pementasan virtual dilakukan sekitar satu jam, dari pukul 20.00 Wita- 21.00 Wita. Pemantasan dilakukan di Sanggar Selem Putih, Jalan Gempol, Kelurahan Banyuning, Kecamatan Buleleng. 

Rayakan Bulan Bung Karno Dengan Pementasan Virtual

Dari 10 naskah fragment tentang Seokarno yang direcanakan, tiga yang telah siap dipentaskan, seluruh tidak menghadirikan sosok tokoh Soekarna. Putu Satria, memilih menceritakan seorang Soekarno dari sudut pandang rakyat bisa. Seperti dalam fragment Cinta Tidak Punya Takut, menceritakan tentang seorang ibu tua yang kehilangan koleksi foto Bung Karno miliknya. Hilangnya foto-foto Soekarno koleksinya ternyata selama ini dicuri oleh tetangganya sendiri. Fragment ini dimainkan oleh empat orang, diantara Ayu Citra, Dek Geh, Dewa Adi dan Warta, dengan durasi lebih dari 20 menit. Fragment kedua, Lawan Juga Kawan yang berdurasi sekitar 7 menit ini, mengisahkan tentang dua sahabat yang berjuang dalam kemerdekaan Republik Indonesia. Awalnya meraka bersahabat, sampai saat setalah kemerdekaan, kedaunya menjadi berbeda pendapat dan salah satu diantaranya ingin membunuh Seokarno. Pemaran dalam fragment kedua dimainkan ole Ari dan Gung Wah. Fragment ketiga  berjudul Tukang Teh di Gedung Tyuuoo Sangi-in. Naskah ini menceritakan kisah seorang pribumi yang bekerja kepada Jepang sebagai pembuat teh. Pembuat teh ini, merupakan salah satu saksi, yang menyaksikan Soekarno pada saat sidang BPUKI menyampaikan gagasan tentang Pancasila sebagai dasar negera. Fragment ketiga ini diaminkan langsung oleh sang sutradara Putu Satria borsama Ayu Citra dennen durasi pementasan selama 10 menit. 

BACA JUGA  Desa Adat Tojan Bagikan Sembako

“saya milih cara bercerita seperti ini, karena selama ini, belum saya temukan ada yang mengarap cerita Bung Karno dari sudut pandang masyarakat, mungkin tokoh-tokoh lain sudah ada yang debut seperti ini, tapi untuk soekarno saya pikir belum ada” ungkap Putu Satria disela-sela persiapan pementasan virtual. 

Dalam kesempatan ini, Putu Satria sebagai pembuat naskah dan sutradara, kecintaannya terhadap Seokarno telah muncul sejak dia duduk di SMA. Awalnya saat ia membaca buku penyambung lidah rakyat. Dalam buku ini, ia merasakan beratnya perjuangan Soekarno saat mendirikan Negara ini. Setelah membaca 30 buku yang terkait dengan Soekarno, sama seperti kembali belajar sejarah tentang Indonesia sesungguhnya, dan sangat barbed dengan buku-buku sejarah yang dibuat secara monolog oleh penguasa setelah Seokarno dan disebarkan kesekolah-sekolah. (JAR)