Pemilik Toko Sayangkan Pemkab Gunakan Kekuasan bukan Komunikasi 

GIANYAR, BaliNews.id – Sangat disayangkan Pemkab Gianyar menggunakan kekuasan bukan dengan komunikasi mmenyelesaikan masalah dengan 16 pemilik toko di Selatan Jalan Ngurah Rai Gianyar. Sejak awal pemilik toko tidak pernah menolak Revitalisasi Pasar Umum Gianyar, hanya minta kesepakatan dan status. Hal itu diungkapkan Ketua Aliansi Ruko Pasar Gianyar, Ida Ayu Made Sri Indrani, Jumat (29/5).

revitalisasi pasar gianyar

Lebih lanjut dikatakanya, pemilik toko hanya minta ada kesepakatan dengan Pemkab Gianyar. “Kita sama sekali tidak pernah mengatakan menolak pembangunan pasar. Kami hanya minta ada kesepakatan dalam bentuk MoU,” tegasnya.

Semestinya kalau pejabat Pemkab Gianyar bijak, menyelesaikan permasalah dengan pemilik toko tidak dengan cara-cara kekuasaan. Tetapi semua busa disekesaikan dengan komunikasi. “Kami berkali kali minta untuk mediasi, tetapi tidak pernah ditanggapi,” ungkapnya.

BACA JUGA  Residivis Beraksi, Naas Gagal Curi Motor di Kaliuntu

Justru Pemkab Gianyar menggunakan kekuasaan dari toko yang ditempati turun temurun. “Trotoar di bongkar begitu saja, agar kami meninggalkan toko. Itu bukan cara untuk menyelesaikan permasalah. Ajak kami duduk bersama, semua pasti akan selesai dengan damai,” jelasnya.

Sementara itu, keluarga pemilik toko Romansa, Nabil, sangat menyayangkan langkah Pemkab Gianyar yang menggunakan kekuasaan untuk menghadapi 16 pemilik toko. “Semestinya selesaikan masalah itu dengan mediasi atau komunikasi dua arah. Sehingga menghasilkan kesepakatan yang tidak merugikan kedua belah pihak,” ujarnya.

Terkait dengan pernyataan bupati, yang mengatakan pemilik toko tidak punya adil membangun Gianyar, ia sangat menyayangkan. Diungkapkannya, toko itu ditempati turun temurun. Bahkan ada yang meninggal di toko tersebut. “Kami pemilik toko membayar pajak. Apakah itu tidak ada andil membangun Gianyar. Memangnya pembangunan Gianyar uangnya dari pejabat saja,” ungkapnya.

BACA JUGA  Bangun TPS 3R di Siangan, DLH Gandeng Yayasan Bumi Sasmaya

Ditegaskannya, 16 pemilik toko akan terus menuntut keadilan, sampai ada kesepakatan. “Kami menuntut kesepakatan dalam bentuk MoU. Kamu ingin masalah ini diselesaikan dengan damai,” pungkasnya.