Peluncuran Kulit Kera Piduka Dan Babi Babi Babi, Bicara Kekerasan Dalam Keluarga

Buleleng, BaliNews.id – Geliat sastrawan muda Bali terus bertumbuhan. Kali ini dua sastrawan muda Putu Juli Sastrawan, asal Klungkung dan Supartika asal Karangasem meluncurkan karya novel berbahasa Indonesia perdananya. Putu Juli Sastrawan meluncurkan novel berjudul “Kulit Kera Piduka” dan Supartika dengan judul “Babi Babi Babi”. Peluncuran perdana novel mereka dilakukan di Komunitas Mahima, Singaraja pada Sabtu, (22/08) malam.

Acara peluncuran dilakukan dengan mengelar bedah buku kedua novel. Pembicara dalam bedah buku kali ini, Putu Agus Phebi Rosadi dan Komang Puteri Yadnya Diari, S.S.,M.Pd. Agus Phebi merupakan seorang penulis dan sekaligus seorang guru yang bertugas di Kabupaten Jembrana. Sedangkan, Putri Yadnya Diari, seorang akademisi dan sebagai Ketua Pusat Pengambangan Bahasa STAH Mpu Kuturan, Buleleng.

BACA JUGA  Gubernur Bali Minta Organisasi Sayap MDA Bekerja Dengan Niat Tulus

PELUNCURAN NOVEL KULIT KERA PIDUKA DAN BABI BABI BABI

Agus Phebi dalam bedah buku kali ini, mengupas novel Kulit Kera Piduka karya Putu Juli Sastrawan. Novel Kulit Kera Piduka, mengambil seting tempat di Bali Utara. Novel ini bercerita tentang Keluarga Tokoh Piduka, yang ingin menjadikan anak perempuannya penari joged. Anak perempuan Piduka bernama Kenanga. Piduka berusaha menjadikan anaknya penari joged dan keinginan ini terus ditolak oleh kenanga. Hingga, akhirnya berujung pada pelecehan seksual dan kekerasan yang terjadi di keluarga yang dilakukan oleh sang ayah. “Juli, memang seperti penulis Bali pada umumnya, dia ingin menunjukkan Bali sebagai ikon, namun kadang-kadang tanpa disadari bahwa ini dapat menjadi hal yang boomerang, kalau kita salah mengambil atau menuliskan Bali, bisa menjadi hal yang eksekutif sehingga tidak bisa dinikmati oleh khalayak di luar Bali” papar Agus Phebi.

BACA JUGA  Diduga Curi CCTV Kafe, Residivis Asal Libanon Dipolisikan

Agus Phebi juga mengatakan sisi lain dari novel karya Juli Sastrawan ini bicara banyak hal tentang kehidupan masyarakat, bercerita tentang feminisme dan juga bercerita tentang kekerasan seksual kepada anak yang terjadi di Bali. “Saya cukup mengenal Juli, dia itu juga seorang aktifis, menggeluti zine juga, jadi dalam novel ini dia berusaha menghadirkan itu semua. Joged juga dijadikan tameng tentang bagaimana masyarakat Bali yang mama hidup dari berkesenian, khususnya seni tradisi esperti Joged. Selain itu, Jodeg juga dijadikan tameng untuk memberikan ruang kepada tokoh Kenanga anak dari Tokoh Piduka untuk dijadikan pelacur” jelasnya.

Pages ( 1 of 3 ): 1 23Selanjutnya »

Agus Hendrawan

Merupakan salah satu tim dari BaliNews.id