“Akibat banjir, banyak sumur tergenang air kotor, termasuk pipa jaringan air ikut rusak sehingga warga kesulitan air bersih. Kami diperintahkan untuk memasok air bersih kepada warga korban banjir,” kata Kepala Bagian Operasional Polres Jembrana Komisaris I Wayan Sinaryasa, di sela-sela distribusi air bersih di Desa Medewi, Kecamatan Pekutatan, Senin (18/1).

Ia mengatakan, water canon dengan kapasitas tujuh ribu liter akan rutin melakukan distribusi air bersih kepada warga hingga jaringan pipa air yang putus pipa air yang putus selesai diperbaiki.

BACA JUGA  Pemkab Tabanan Siapkan Protokol Kesehatan Untuk Pilkada 2020

Dari pantauan di lapangan, dalam tempo tidak terlalu lama, air bersih yang dibawa mobil water canon tersebut habis diserbu warga.

Akibat banjir Kamis (14/1) malam lalu, sebanyak 1.456 keluarga yang tersebar di enam banjar atau dusun di Desa Medewi kesulitan air bersih.

Karena pipa yang biasanya menyalurkan air bersih ke bak-bak penampungan milik umum putus, saat ini bak-bak tersebut dalam kondisi kosong.

Kepala Desa atau Perbekel Medewi I Nengah Wirama mengatakan, untuk kebutuhan air bersih, sebagian besar warganya mengandalkan air dari PDAM serta air bersih swadaya dari program Pamsimas.

“Saat ini seluruh pipa distribusi baik milik PDAM maupun Pamsimas putus karena diterjang banjir. Hanya sedikit warga disini yang memiliki sumur,” katanya.

BACA JUGA  Hukuman Push Up Bagi Warga Tidak Pakai Masker

Untuk mengatasi kebutuhan air bersih, selain mengandalkan bantuan dari Polres Jembrana, BPBD dan Satpol PP, pihaknya juga sedang berusaha agar pipa saluran air bersih yang rusak secepatnya selesai diperbaiki.

Untuk memperbaiki jaringan Pamsimas, ia mengatakan, dibutuhkan pipa ukuran empat dim sepanjang 4 kilometer.

“Pipa sepanjang itu untuk mengganti pipa sebelumnya yang hilang disapu banjir. Kami sudah mengajukan proposal ke Pemkab Jembrana agar segera bisa dibantu,” katanya.

Hari Kamis (14/1) dinihari lalu, sungai di desa setempat meluap sehingga menyebabkan sejumlah rumah rusak berat, belasan ternak sapi hanyut dan mati, serta memaksa warga untuk mengungsi ke tempat yang aman. (*)