Wakil Ketua MPR : Semua Pihak Harus Bisa Tahan Diri Menyikapi RUU Ciptaker

BaliNews.id – Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid meminta semua pihak bisa menahan diri dan menunjukkan kecintaannya kepada NKRI dalam menyikapi Rancangan Undang-Undang Cipta Kerja (RUU Ciptaker) yang telah disetujui DPR menjadi UU pada Senin (5/10).

Menurut dia, para pemimpin juga dituntut kenegarawan-nya, karena perbedaan pendapat dan pandangan adalah hal yang wajar dalam demokrasi, tapi jangan menghambat pembangunan dan jangan sampai jatuh korban jiwa.

“Saya berharap semua pihak bisa menahan diri. Gunakanlah cara-cara yang beretika dan sesuai budaya Indonesia,” kata Jazilul Fawaid dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (9/10).

MPR: Semua pihak harus bisa tahan diri sikapi RUU Ciptaker
Wakil Ketua MPR RI Jazilul Fawaid (Gus Jazil) . (Istimewa)

Hal itu dikatakan Jazilul Fawaid menanggapi demo di berbagai daerah pada Kamis (8/10) terkait dengan UU Cipta Kerja. Demo itu ada yang diikuti dengan pembakaran-pembakaran dan berujung rusuh.

BACA JUGA  Siapkan Tim Diskusi Terkait RPP Cipta Kerja

Jazilul yang disapa Gus Jazil itu meminta aparat kepolisian untuk bertindak secara proporsional dalam menghadapi demo dan tidak boleh melampaui batas.

“Bertindaklah sesuai koridor hukum menghadapi aksi-aksi demo, jangan sampai bertindak di luar hukum. Tapi siapa yang melanggar harus didisiplinkan,” ujarnya.

Gus Jazil juga meminta kepada pemerintah untuk melakukan pendekatan-pendekatan kepada tokoh-tokoh masyarakat, tokoh buruh, tokoh mahasiswa untuk diajak berdialog dan bukan lewat pengadilan jalanan. Langkah itu menurut dia menghadapi situasi yang memanas pasca disetujuinya RUU Cipta Kerja menjadi UU dalam Rapat Paripurna DPR RI pada Senin (5/10).

“Sebab, sekarang sedang pandemi. Semua orang harus menjaga kesehatan. Pasar (ekonomi) juga sedang resesi. Kalau situasinya memanas seperti ini yakinlah penderitaan rakyat semakin bertambah,” tutur-nya.

BACA JUGA  DARI MENTRI SAMPAI KEPALA DESA HARUS TURUN.

Menurut Gus Jazil, setiap UU baik pada waktu pembahasan sampai pada saat pengesahan sering terjadi perselisihan dan perbedaan paham, namun itu harus produktif.

Dia tidak menginginkan terjadi tarik menarik dalam Omnibus Law sehingga terjadi perbedaan yang kuat di tengah masyarakat yang bisa menimbulkan perpecahan.

“Ini sangat tidak produktif. Kalau mau ke jalur hukum, bisa ke MK. Kalau mau berdialog, berdialog-lah dengan baik-baik. Inilah Pancasila, Permusyawaratan harus diiringi dengan hikmat kebijaksanaan, tidak ada ngotot-ngotot-an, semua bisa didialogkan. Jika ada ketidakpuasan terhadap Omnibus Law bisa didialogkan,” katanya.

Dia setuju Omnibus Law ada kekurangannya tapi ketidaksempurnaan itu jangan disikapi dengan perpecahan atau permusuhan karena bangsa Indonesia adalah bangsa yang berbudaya. (an)

BACA JUGA  Borosnya Pangan Di Indonesia Dan Anjloknya Daya Saing Bangsa

Pewarta : Imam Budilaksono
Editor : Chandra Hamdani Noor

Facebook Comments

Agus Hendrawan

Merupakan salah satu tim dari BaliNews.id