Sastrawan Sapardi Djoko Damono Meninggal, Ini Daftar Karya Terbaik Beliau

BaliNews.id – Sastrawan Sapardi Djoko Damono merupakan sastrawan kenamaan asal Indonesia,  beliau kerap dipanggil dengan singkatan namanya, SDD.  karya beliau sangat banyak dan digemari oleh orang banyak.

Dikutip melalui kompas.com “Betul, beliau sudah berpulang,” tutur Marketing Communication Manager RS Eka Hospital Erwin Suyanto dalam pesan teks saat dikonfirmasi Kompas.com, Minggu (19/7/2020). Erwin menjelaskan, penyebab sastrawan kelahiran 20 Maret 1940 itu meninggal dunia disebabkan oleh penurunan fungsi organ. “Penurunan fungsi organ ya,” kata dia.

Segenap tim BaliNews.id Turut Berduka atas berpulangnya seorang sastrawan terbaik bangsa ini  Sapardi Djoko Damono, semoga amal ibadah diterima disisiNya.

Sapardi Djoko Damono Meninggal
Foto : Gramedia.com

Ketika berbicara tentang seniman atau sastrawan, maka tak akan jauh dari karya-karya beliau, Berikut ini adalah daftar-daftar karya terbaik Sapardi Djoko Damono dilansir melalui Gramedia.com

  1. Hujan Bulan Juni merupakan salah satu novel trilogi dari Sapardi yang paling banyak diburu. Manis-getir kisah Sarwono dan Pingkan dituangkan begitu penuh makna oleh Sapardi. Hujan Bulan Juni tidak berhenti tenar sampai kumpulan kata, tapi juga dilirik untuk diadaptasi ke layar lebar, yang dengan apik diperankan oleh Adipati Dolken dan Velove Vexia.
  2. Fana Adalah Waktu Bicara soal trilogi Hujan Bulan Juni, kisah Sarwono dan Pingkan usai dalam Yang Fana Adalah Waktu, setelah sebelumnya dijembatani oleh Pingkan Melipat Jarak.
  3. Duka-mu Abadi, Sapardi tidak melewatkan kesempatan untuk merayakannya dengan menerbitkan tujuh buku sekaligus, yaitu satu novel dan enam kumpulan puisi; Pingkan Melipat Jarak (novel kedua dari Trilogi Hujan Bulan Juni), Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro?, Sutradara Itu Menghapus Dialog Kita, Kolam, Namaku Sita, Duka-Mu Abadi, dan Ayat-ayat Api.
  4. Bilang Begini, Maksudnya Begitu Lewat buku ini Sapardi sukses mencitrakan diri bahwa ia bukan sekadar pujangga yang pandai bermain kata, namun juga persona yang ingin mengajak mereka di luar sana yang belum dekat dengan sastra. Dalam puisi, bunga belum tentu kembang, biru belum tentu warna.
  5. Manuskrip Sajak Sapardi juga lahir mewarnai kebutuhan literasi Indonesia. Buku ini disebut-sebut sebagai harta karun yang berharga. Di dalamnya terdapat corat-coret sajak Sapardi semasa muda hingga dewasa. (ah)
BACA JUGA  Hampir Satu Tahun Reyes Tewas, Rasa Sakit Keluarga Belum Hilang