Mengolah Upih Pelepah Pohon Pinang Jadi Tempat Makanan Pengganti Styrofoam

Buleleng, BaliNews.id – Upih atau pelepah pohon pinang nampaknya kini mulai mempunyai nilai ekonomi. Di tangan Made Ayu Susanti, asal Desa Munduk Bestala, Seririt, yang merupakan mantan karyawan WWF yang kini tengah memproduksi kemasan makanan dari bahan baku upih. Tak banyak yang tau ternyata upih ini dapat dijadikan sebagai tempat pengganti piring untuk makan serta kemasan makanan lainnya.

Upih yang telah kering dimanfaatkan Ayu untuk membuat kemasan makanan sebagai pengganti sterofom yang selama ini dipakai untuk kemasan makanan. Selain membuat kemasan makanan dan juga piring, upih ini juga di manfaatkan Ayu untuk membuat loyang atau cup kue berukuran kecil.

Mengolah Upih Pelepah Pohon Pinang Jadi Tempat Makanan Pengganti Styrofoam
Mengolah Upih Pelepah Pohon Pinang Jadi Tempat Makanan Pengganti Styrofoam

Ditemui saat sedang  produksi dirumahnya, Ayu mengatakan ide untuk membuat kemasan makanan ini telah direncanakan sejak tahun 2019 lalu. Namun idenya tersebut baru bisa terealisasi di tahun 2020 karena mesin press kemasannya baru datang pada bulan Mei lalu.

BACA JUGA  Penjualan Produk Seni di Bali Naik 30 Persen Saat COVID-19

“Sebenarnya sudah dari tahun 2019 rencana buat. Tapi baru bulan Mei kemarin baru bisa buat karena mesinnya baru datang dari India,” jelanya, Minggu (4/10).

Mengolah Upih Pelepah Pohon Pinang Jadi Tempat Makanan Pengganti Styrofoam
Mengolah Upih Pelepah Pohon Pinang Jadi Tempat Makanan Pengganti Styrofoam

Dalam sehari, Ayu dibantu oleh adik dan keponakannya mampu memproduksi 100 kemasan pada masing-masing jenis. “Satu kali produksi biasanya dapat 100 kemasan. Satu lembar upih iti bisa saya buat untuk dua kemasan,” tambahnya.

Dalam satu kali produksi, Ayu dapat menghabiskan 270 lembar upih. Per lembar ia beli dengan harga Rp 1.000,- hingga Rp 2.000,-. Untuk kemasannya Ayu jual dengan harga Rp 6.500,- per kemasan untuk piring dan box makanan tanpa tutup. Sementara box makanan dengan tutup dibanderol dengan harga Rp 12 ribu. “Kalau beli diatas 20 pcs ada harga khusus. Saya berikan harga retailnya. Kalau per kemasannya rata-rata segitu,” ungkapnya.

Pasokan bahan baku didapat dari sekitar tempat tinggalnya. Selain itu, ia juga membeli bahan baku dari kawasan Desa Panji, Kecamatan Sukasada. Sebelum dicetak menjadi sebuah kemasan jadi, bahan baku upih yang didapat dari suplier dibersihkan terlebih dahulu. Pertama upih dibersihkan lalu dipotong-potong menjadi beberapa bagian sesuai dengan ukuran kemasan yang akan dibuat.satu lembar upih maksimal dibagi menjadi tiga potong.

BACA JUGA  TMMD Akan Hubungkan Dua Desa di Payangan

Setelah itu, upih yang sudah dipotong dicuci dengan cara direndam sekitar 3 sampai 5 menit menggunakan backing soda dan cuka makanan untuk menghilangkan kuman dan bakteri yang menempel. Selanjutnya, upih yang telah direndam ditiriskan sekitar 10 menit. Dalam keadaan setengah basah, upih siap untuk dicetak dengan cara dipress. Pengepresan dilakukan sekitar 2 menit hingga menjadi barang kemasan siap pakai.

Mengolah Upih Pelepah Pohon Pinang Jadi Tempat Makanan Pengganti Styrofoam
Mengolah Upih Pelepah Pohon Pinang Jadi Tempat Makanan Pengganti Styrofoam

Kemasan makanan yang dibuat dari upih ini dapat digunakan sebagai wadah makanan panas maupun dingin. Berkuah maupun gorengan. Terkstur upih yang kaku dan tebal tak berbeda dengan kemasan makanan pada umumnya yang terbuat dari plastik atau sterofoam. Hanya saja daya simpannya relatif singkat. Kemasan makanan berbahan alami ini dapat disimpan maksimal setelah 3 kali pakai. “Ini bisa dicuci seperti perabotan biasa. Bedanya setelah dicuci dia haris dijemur. Jemurnya harus dibalik, ditelungkupkan supaya tidak lembab dibagian tengahnya. Maksimal setelah 3 kali pakai saja sih. Kalau dipakai dengan baik mungkin bisa lebih dari itu,” kata Ayu.

BACA JUGA  Olah Tkp Digelar, Cari Titik Terang Pelaku Curas Di Desa Depaha

Pemilihan upih untuk kemasan makanan ini juga memiliki misi tertentu. Dengan beredarnya kemasan makanan seperti upih ini diharapkan dapat menekan peredaran kemasan makanan berbahan plastik atau yang lainnya yang susah diurai setelah menjadi sampah. “Ini mengurangi limbah plastik juga kan. Kalau dibuang sembarang saja barang ini bisa hancur sendiri dan terurai dengan tanah lalu berfungsi sebagai kompos. Kalau plastik kan tidak bisa sepeti itu,” jelanya. (JAR)

Facebook Comments

Agus Hendrawan

Merupakan salah satu tim dari BaliNews.id