Kena Sanksi Kanorayang, Suteja Dipulangkan Saat Ngayah 

Gianyar, BaliNews.id – Salah satu dari dua krama Desa Adat Jro Kuta Pejeng, Desa Pejeng,  Tampaksiring yang kena sanksi kanorayang,  disuruh pulang saat ngayah di Pura Kebo Edan, Kamis (10/9) pagi. Ketut Suteja disuruh pulang oleh Prajuru Kelihan Adat Banjar Intaran, Made Sukerta. Sehingga setelah aksi pengusiran tersebut, Kapolsek Tampaksiring, Camat, Koramil terjun ke Pura Kebo Edan dan Rumah Ketut Suteja menjaga agar situasi kondusif.

Ketut Suteja mengatakan,  dirinya keberatan disuruh pulang saat ngayah sebagai krama adat. “Tiang datang ke pura tujuannya ngayah. Subakti ring Sesuhunan, nunas rahayu. Sareng melilitan, metanding sejeroning kekaryan,” jelasnya.

Melihat keberadaannya saat ngayah mempersiapkan prosesi upacara Ngerehin Sesuhunan, Prajuru Banjar memintanya pulang atau diusir. “Tiba-tiba datang salah satu prajuru, Kelihan adat. Bahwa tyang disuruh pulang. Sebab tyang dapat surat kanorayang,” ungkapnya.

BACA JUGA  Puluhan Warga Desa Pejeng Keberatan Tanah 'Teba' Dijadikan PKD
Kena Sanksi Kanorayang, Suteja Dipulangkan Saat Ngayah 
Kena Sanksi Kanorayang, Suteja Dipulangkan Saat Ngayah

Tetapi Ketut Suteja menolak untuk pulang. “Karena tyang ten kayun pulang, tyang tunggu keputusan Kelian Adat yang pergi ke Puri,” jelasnya.

Beberapa saat kemudian, Ketut Suteja tetap diminta untuk pulang sesuai surat Kanorayang. “Tyang tetap bersikukuh, kemudian di jaba ketemu sama Perbekel dia bilang, ‘tolong paktut, biar situasi di Pejeng aman’. Setelah itu tyang mau pulang, demi tidak terjadi hal yang tidak diinginkan,” ungkapnya sedikit kesal.

Setelah diam sejenak, rombongan Muspika Kecamatan Tampaksiring datangi rumah Ketut Suteja di Banjar Intaran, Desa Pejeng. “Camat, Polsek sampai di rumah menanyakan permasalah ini.  Selanjutnya, saya tetap memohon meminta masalah saya dikanorayang, dibicarakan sama jajaran,” ungkapnya.

BACA JUGA  "THE MOON OF PEJENG" BULAN PEJENG

Seperti diketahui, terkait sanski kanorayang ini, sejumlah warga Desa Pejeng menemui Bupati Gianyar Made Mahayastra, Selasa (4/8) lalu. Perwakilan warga, I Ketut Wisna mengatakan kedatangan tersebut untuk menyampaikan masalah tanah teba yang dijadikan PKD (pekarangan desa). Selain itu, warga juga mengadukan pengenaan sanksi adat kanorayang bagi dua warga yang membuat laporan polisi terkait polemik tanah teba ini.

Dua krama tersebut yakni I Made Wisna, warga Banjar Guliang dan I Ketut Suteja warga Banjar Intaran. Keduanya sudah ‘dinonaktifkan’ sebagai krama desa adat Jero Kuta Pejeng sejak Sabtu (1/8) lalu. Sejak saat itu, dua krama berikut keluarganya dilarang melakukan kegiatan ngayah di desa adat.

“Sanksi adat tersebut kami terima 1 Agustus melalui surat tertulis dan langsung berlaku saat itu juga. Hak kami selaku anggota adat sudah dicabut. Kalau mati pun, tidak dapat kuburan,” ungkap Made Wisna.

Pages ( 1 of 2 ): 1 2Selanjutnya »

Agus Hendrawan

Merupakan salah satu tim dari BaliNews.id