Imbas Covid-19, Penjahit Kebaya Banting Setir Buat Masker Kain

Masa sulit saat pandemik Covid-19 tidak lantas membuat para pekerja berdiam diri. Cukup banyak yang banting setir demi tetap bisa mengais rejeki. Seperti salah satunya penjahit kebaya, Ni Putu Eka Wahyuni, 37, warga Lingkungan Banjar Selat Kelurahan Samplangan Kecamatan Gianyar. Dalam situasi pandemic Covid-19, Eka Wahyuni tunda sementara menjahit kebaya. Istri dari I Wayan Swadyaya, 38, ini beralih membuat masker kain.

Eka Wahyuni mengaku awalnya hanya mencoba membuat 16 masker kain. Belasan masker itu, diberikan cuma-cuma pada sejumlah teman yang bekerja di area rumah sakit Sanjiwani Gianyar, namun bukan tenaga medis. Seperti petugas kebersihan, kantin, dan sejenisnya. “Ketika itu, ketersediaan masker sangat langka sekitar awal Maret 2020,” jelasnya.

BACA JUGA  Yustisi Denpasar Lakukan Penegakan Hukum Pelanggar Protokol Kesehatan

Semenjak adanya alternatif penggunaan masker kain, Eka Wahyuni semakin banyak dapat orderan. Bahkan satu orderan dari perusahaan swasta bisa mencapai 500 pcs masker. Di samping membuat order, ibu dua anak ini juga tetap membuat masker untuk dibagikan secara cuma-cuma pada orang yang memerlukan. “Kadang ke pasar, ketemu sama orang gak pakai masker saya spontan tawarkan masker kain gratis,” ungkapnya. Masker gratis, juga diberikan pada sekaa teruna setempat, pegawai LPD, serta masyarakat yang mau dan membutuhkan.

Kini, Eka Wahyuni pun fokus membuat masker dengan mempekerjakan 3 penjahit rumahan. “Sejak tunda sementara menjahit kebaya, 3 penjahit saya bingung gak ada kerjaan. Maka sejak membuat masker ini, mereka jadi antusias. Tetap bisa kerja, meskipun penghasilan turun,” terang perempuan kelahiran 1983 ini.

BACA JUGA  Seharusnya Sudah Berakhir, Status Tanggap Darurat Tetap Mengacu Keputusan Pemerintah Pusat

Namun untuk menghindari kontak, 3 penjahit bekerja di rumah masing-masing. “Komunikasi lewat Hp saja, untuk meminimalkan kontak langsung,” jelasnya. Termasuk penundaan menerima orderan jahit kebaya, karena pengukuran baju biasanya mengharuskan adanya kontak face to face bahkan pelanggannya biasa antri. “Saat ini saya hanya menyelesaikan pesanan jahit kebaya sebelum virus ini mewabah,” imbuhnya yang sering menjahit kebaya ibu-ibu pejabat dan pegawai di lingkungan Pemkab Gianyar ini.

Selain mengerjakan orderan, Eka Wahyuni juga membuat masker untuk dijual secara eceran. Per lusin isian 12 pcs, dijual seharga Rp 60.000. “Per pcs Rp 5.000,” ujarnya. Dari hasil penjualan masker, Eka pun bisa tetap mengaji 3 tukang jahit dan memenuhi kebutuhan keluarga. Jenis masker yang dibuat ada yang dua lapis, tiga lapis, dan masker yang bisa diisi tisu di dalamnya. “Kami terus update jenis masker sesuai anjuran pemerintah dan nonton youtube,” jelasnya. Untuk pemasaran, Eka dan suami memanfaatkan media social. Pengiriman pun lewat jasa pengiriman. (gb)

Facebook Comments

Agus Hendrawan

Merupakan salah satu tim dari BaliNews.id