Gedung Pengabuan Dibangun di Setra Desa Adat Buleleng

Buleleng, BaliNews.id – Gedung Pengabuan atau yang familiar dikenal dengan kermatorium, dibangun disetra Desa Adat Buleleng. Sebagai tanda pembangunan, dilakukan upacara ngeruak pada Minggu (28/6). Pembanguanan krematorium selain dinilai lebih efektif dan efisien, juga atas keinginan warga di desa adat setempat.

Pelaksanaan Upacara ngeruak dipimpin oleh Jro Mangku Dalem Desa Adat Buleleng, serta dihadiri oleh Kelian Desa Adat Buleleng Nyoman Sutrisna, pengelola setra Ketut Suryada, serta para kelian banjar adat di wewidangan desa adat Buleleng.

Kelian Desa Adat Buleleng Nyoman Sutrisna menyampaikan, pembangunan krematorium,sudah direncanankan sejak lama. Namun karena dana yang dimiliki sangat terbatas, rencana itu akhirnya baru bisa dimulai pada bulan Juni ini. Krematorium dibuat untuk mengikuti perkembangan zaman, serta untuk mempermudah dan mempercepat proses pembakaran mayat.  Anggaran yang disiapkan untuk membangun krematorium ini sebesar Rp 1 Miliar.

BACA JUGA  Balai Peselang Terbakar, Kerugian Capai 500 Juta Rupiah

“Kami buat master plan jalan melingkar, jadi posisi gedung pengabuannya ada di bawah  sebelah timur dari Setra Buleleng, ada rumah dukanya juga. Disiapkan tempat parkir juga.  Krematorium ini nanti dioperasikan oleh pihak ketiga dalam hal ini sebuah yayasan, namun hasilnya nanti akan dibagi dua dengan desa adat,” jelasnya.
Krematorium ini akan dibuka untuk umum, namun dengan catatan harus mengikuti awig-awig yang ada di Desa Adat Buleleng. Seperti tidak melakukan pembakaran saat hari raya Purnama-Tilem, dan Piodalam Kahyangan Tiga.

“Kremasi ini tidak termasuk  banten, hanya menyediakan tempat pembakaran saja. Kalau krama dari desa adat Buleleng, hanya bayar uang kebersihan dan ongkos gas Rp 850 ribu, untuk warga dari luar Desa Adat Buleleng hanya bayar penanjung batu, disesuaikan dengan kondisi ekonominya mulai dari 0 rupiah sampai Rp 3 juta.  0 rupiah ini untuk jenazah tanpa identitas yang biasanya dititip oleh Dinsos,” tegasnya. (JAR)