Empat Puluh Hektar Sawah Di Buleleng Gagal Panen Akibat Kekeringan

Buleleng, BaliNews.id  – Musim kemarau yang berpengaruh pada berkurangnya debit air berdampak pada sektor pertanian di Buleleng. Sebanyak 40 hektar lahan pertanian di Buleleng mengalami gagal panen skibat kekeringan. Gagal panen ini dialami oleh petani di Kecamatan Sawan dan Buleleng.

Kepala Dinas Pertanian Buleleng, I Made Sumiarta dikonfirmasi Selasa (22/9) mengatakan, 40 hektar tanaman padi yang mengalami gagal panen itu tersebar di delapan subak. Masing-masing di Subak Lanyahan dan Subak Babakan yang ada di Desa/Kecamatan Sawan.  Subak Babakan dan Subak Lanyahan yang ada di Desa Kerobokan, Kecamatan Sawan. Subak Babakan di Desa Menyali, Kecamatan Sawan. Subak Sidayu yang ada di Kelurahan Penarukan, Kecamatan Buleleng. Subak Anyar Tegal di Desa Jinengdalem, Kecamatan Buleleng. Dan di Subak Anyar, Desa Padang Keling, Kecamatan Buleleng.

BACA JUGA  KOPABARA - Pamer Kopi Buleleng ( Event )
Empat Puluh Hektar Sawah Di Buleleng Gagal Panen Akibat Kekeringan
Empat Puluh Hektar Sawah Di Buleleng Gagal Panen Akibat Kekeringan

“Gagal panen ini terjadi lantaran delapan subak itu mengalami krisis air, sehingga padi-padi yang telah ditamam pun mati kekeringan. Sosilasiasi kepada para petani, untuk menghindari menanam padi saat musim kemarau ini telah kami lakukan. Petani kita arahkan agar menanam tanaman pengganti seperti kedelai atau jagung. Namun tidak sedikit petani yang justru mengambil risiko, dengan tetap melakukan penanaman padi, di musim kemarau ini” ungkap sumiarta

Meski sudah ada 40 hektar sawah yang mengalami gagal panen, Sumiarta menyebut, hal tersebut tidak mempengaruhi produksi beras yang ada di Buleleng. Sebab, luas lahan pertanian yang ada di Bumi Panji Sakti ini mencapai 9.587 hektar, dimana per hektarnya mampu memproduksi gabah sebanyak lima hingga enam ton. “Mudah-mudahan sih gagal panem ini tidak meluas. Dari segi produksi, kami optimis masih bisa surplus karena ditopang oleh subak lain. Kami juga berupaya memberikan bantuan berupa peminjaman mesin pompa air kepada kelompok-kelompok subak, untuk bisa mengairi tanaman agar gagal panen tidak sampai 100 persen, ” jelas Sumiarta.

BACA JUGA  Wabup Badung Minta Warga Waspadai Klaster Baru COVID-19

“Kami juga tidak bisa menyalahkan petani. Penanaman padi sebenarnya sudah dilakukan tiga bulan lalu, dan September ini harusnya sudah panen. Tapi karena kondisi cuaca seperti ini, air jadi krisis. Kami sudah dari dulu berikan sosialiasi ke petani, agar mengatur pola tanam. Jangan tanam padi kalau krisis air, sehingga diharapkan menanam tanaman pengganti selain padi,” ucap Sumiarta. (JAR)

Facebook Comments

Agus Hendrawan

Merupakan salah satu tim dari BaliNews.id