Desa Pejeng : Kenangan Peradaban Masa Lampau dan Mimpi Kejayaan Masa Depan

*Gambaran Umum
Desa pejeng merupakan sebuah desa yang terletak di kecamatan tampaksiring kabupaten gianyar, berlokasi di jantung pulau bali, membuat daerah ini memiliki daerah datar dan iklim yang cukup stabil. Akses ke desa ini juga sangat mudah dan dapat di tempuh dari jalan manapun. Dalam tulisan ini akan berfokus pada pembahasan deskriptif tentang perjalanan panjang desa pejeng di setiap zaman dan masih tetap eksis sampai sekarang. Adapun sumber dari tulisan mengacu pada benda-benda/situs arkeologi yang tersebar di sekitar desa pejeng serta di gabungkan dengan sumber lisan, baik itu cerita rakyat, mitologi, yang sampai sekarang masih eksis serta penuturan dari beberapa saksi sejarah yang masih hidup.

*Masa Prasejarah Desa Pejeng
Dalam perjalanan masa prasejarah desa pejeng adalah daerah yang bisa dikatakan sudah berpenghuni dan sudah ada aktifitas manusia. Hal ini dibuktikan dengan adanya nekara perunggu yang sampai saat ini masih tersimpan baik di pura penataran sasih, desa pejeng. Berbentuk seperti genderang dengan ukuran yang sangat besar. Nekara di masyarakat sering pula disebut dengan nama “bulan pejeng”/ “moon of pejeng”, karena begitulah cerita rakyat yang ada di daerah ini tentang asal-usul nekara yang dipercaya sebagai bulan yang jatuh dari langit (bisa cek beberapa tulisan lain tentang cerita bulan pejeng).
Dalam ilmu sejarah ataupun arkeologi nekara adalah sebuah benda peninggalan prasejarah yaitu pada zaman logam (setelah zaman neolitikum). Adapun fungsinya adalah sebagai pemanggil hujan dan sebagai perlengkapan upacara dan fungsi ritual lainnya (silahkan cek lebih details sumber tentang nekara). Hasil penelusuran kebudayaan membuat alat perunggu termasuk nekara ini adalah berasal dari vietnam (dongson) yang menyebar di kepulauan indonesia termasuk pulau bali seiring dengan persebaran para manusia purba.
Dari nekara ini kita bisa berasumsi bahwa ada suatu peradaban besar yang pernah berkembang dan hidup di desa pejeng dan sekitarnya. Dan tentu ada manusia lain yang sudah menempati desa ini sebelum adanya manusia-manusia modern seperti sekarang. Ditambah lagi ada beberapa penemuan sarkofagus di lokasi dekat desa pejeng. Dimana sarkofagus merupakan peti batu zaman prasejarah, digunakan untuk mengubur mayat. Dan beberapa benda ini juga masih tersimpan baik di museum arkeologi di desa bedulu (sebelah selatan desa pejeng).

*Masa Kerajaan Bali Kuno dan Peradaban Tantrayana
Kelanjutan zaman prasejarah, desa pejeng juga eksis di masa kerajaan bali kuno. Banyak bukti-bukti sejarah yang menunjukan daerah ini kemungkjnan pernah dijadikan pusat pemerintahan oleh raja-raja bali kuno pada pemerintahan dinasti warmadewa (https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Bedahulu). Sebut saja salah satu raja yang beranama sri masula-masuli (kembar) yang dipercaya menjadikan pejeng sebagai pusat pemerintahannya (bisa dicek lagi berbagai sumber).
Banyak arca-arca ataupun reruntuhan candi ditemukan di sekitar desa pejeng, bahkan di belakang rumah warga. Dan sampai sekarang peninggalan ini masih dijaga dengan baik oleh warga dan pemerintah.

desa pejeng

Salah satu peninggalan masa bali kuno yang paling di desa pejeng adalah arca-arca yang tersimpan di pura kebo edan desa pejeng. Di pura ini banyak sekali arca-arca yang bernuansa seram (bentuk hantu, orang minum darah, dll) dan porno (orang menari telanjang dan adegan seks). Jika di analisa lebih lanjut arca-arca ini adalah peninggalan dari kebudayaan tantrayana sekitar abad ke 11 yang pernah berkembang pesat di bali, jawa, dan daerah indonesia lainnya. Dalam sejarah indonesia ini adalah sebuah keterkaitan kerajaan singasari (dengan rajanya yang terkenal bernama kertanegara) yang ada di jawa dengan kerajaan bali.

BACA JUGA  Polisi Ungkap Pemalsuan Surat Sehat untuk Loloskan Pemudik

Tantrayana adalah sebuah aliran kepercayaan dalam hindu kuno bali dimana sering pula disebut aliran kiri karena praktek ritualnya yang cenderung fullgard dan berpatokan pada pemenuhan nafsu indria (panca ma). Namun walaupun demikian aliran ini berkembang cukup pesat bahkan di percaya sebagai kepercaan mayoritas kerajaan bali kuno saat itu.
mpu kuturan datang ke bali pada masa raja udayana, beliau diberi salah satu tugas yaitu menyelesaikan konflik agama/kepercayaan. Akhirnya semua aliran kepercayaan yang ada di bali yang kira-kira berjumlah 9 di lebur jadi satu dengan konsep pemujaan tri murti (brahma, wisnu siwa). Tradisi/ritual Tantrayana pun berangsur-angsur mulai ditinggalkan masyarakat untuk menghindarkan konflik dan penataan baru. Namun walaupun demikian tantryana ini tidak hilang begitu saja, tradisinya bercampur dengan tradisi baru yang ada dan hidup seiring berjalannya waktu dan perkembangan masayrakat desa pejeng.

Dari bukti ini kita juga berasumsi bahwa peradaban besar pernah berkembang di desa pejeng bahkan beberapa tradisi tantrayana ini masih ada dan bercampur dalam kebudayaan bali era sekarang ini. Banyak contoh-contoh ritual sekarang ini yang merupakan adopsi dari tantrayana.

Selain itu ada banyak cerita rakyat di desa pejeng yang mejelaskan tentang masa lalu, seperti cerita raja mayadenawa dan pelariannya pada saat perang dengan dewa indra, ini masih diindentikan dengan penamaan banjar-banjar yang ada di desa pejeng bahkan hingga ke utara sampai daerah tampaksiring. Dan cerita mayadenawa juga sering dikaitkan dengan munculnya tradisi hari raya galungan (sebagai peringatan kemenangan dharma (dewa indra) dan adharma (mayadenawa).

desa pejeng

*Masa Kerajaan Bali-Majapahit
Expansi kerjaan majapahit juga terjadi di tanah bali. Bedahulu sebagai kerajaan besar yang kuat dengan ibu kota berada di sekitar daerah pejeng tidak mau tunduk terhadap kekuasaan majapahit. Perang antara kerajaan bali kuno (raja sri tapolung/sri asta sura ratna bumi banten) dengan majapahit tidak dapat dihindarkan. Perjuangan sengit pasukan bali yang dipimpin ki pasung grigis, kebo iwa dan patih lainnya akhirnya dapat dikalahkan oleh pasukan majapahit yang dipimpin gajah mada.
Perlu diketahui Banyak sumber tertulis menjelaskan bawasannya penaklukan bali oleh majapahit adalah hasil negosiasi gajah mada dengan kebo iwa. Kebo iwa merupakan manusia sakti, kebal dengan senjata apapun, bahkan dipercaya memiliki hidup abadi. Karena negosiasi gajah mada dan cita-citanya menyatukan seluruh kerjaan nusantara dibawah bendera majapahit (sumpah palapa), setelah dijelaskan tujuan baik ini akhirnya kebo iwa menyutujui dirinya untuk dibunuh agar bali bisa ditaklukan dengan tujuan yang lebih mulia yaitu.membentuk sebuah kerajaan besar dan satu kesatuan. Mungkin jika tidak ada negosiasi ini sampai kapanpun bali tidak akan pernah ditaklukan oleh majapahit.

BACA JUGA  DKM Serahkan Bantuan 2 Ton Bibit Padi Shierang di Subak Pulagan Tampaksiring

Setelah kekalahan ini bali memasuki era baru yaitu era pemerintahan raja dari dinasti warmadewa diganti oleh raja-raja keturunan majapahit. Ibukota kerajaan pun di pindah ke daerah timur,. Mulai dari samplangan, hingga ke klungkung. Kebudayaan juga mulai berubah dimana konsep agama hindu dari jawa lebih banyak masuk ke bali agar lebih seragam (konsep siwa-budha mulai berkembang di bali).
Sistem pemerintahan juga ditata sedimikian rupa agar mirip dengan majapahit. Adapun raja yang ditunjuk sebagai wakil majapahit di bali adalah sri kresna kepakisan dan nanti keturunan beliaulah selanjutnya yang memegang pemerintah kerajaan bali.
Walaupun pengaruh kebudayaan jawa sangat pesat masuk bali, namun kebudayaan bali asli tidaklah hilang namun bercampur/alkulturasi dengan budaya luar hingga menghasilkan sebuah budaya yang unik, bahkan tentunya kita ketahui tradisi hindu di bali dan jawa sedikit berbeda entah itu dalam pelaksanaan ritual maupun sarana upacaranya.

*Masa Perjuangan Revolusi
Sejarah dan waktu terus berjalan hingga akhirnya belanda menjajah indonesia termasuk bali dan kemudian bangsa indonesia merdeka. Dan desa pejeng membuktikan eksistensinya dalam perjuangan revolusi mempertahankan kemerdekaan (1945-1946). Para pejuang dari desa pejeng tergabung dalam pasukan ciung wanara yang dipimpin i gusti ngurah rai. Bukti ini dapat dilihat dari bangunan tugu pahlawan yang ada di barat desa pejeng. Ini adalah sebuah penghormatan dan penghargaan pada jasa-jasa pejuang masa lalu. Di tempat ini juga para generasi akan mengetahui perjuangan leluhurnya untuk mempertahankan kemerdekaan tanah kelahirannya. Biasanya pada tanggal 17 Agustus akan di adakan tabur bunga di tugu pahlawan ini.

*Masa Kini (Pariwisata dan Potensi Terpendam)
Di masa kini pejeng merupakan sebuah desa yang merupakan bagian dari NKRI (negara kesatuan republik indonesia) yang tentunya pemerintahan dinasnya harus mengacu pada aturan/hukum nasional berlaku. Adat pejeng sebagai bagian dari kebudayaan lampau masyarakat pejeng, juga masih eksis dan tradisi yang ada juga masih dijalankan masyarakat, namun tetap diseleksi agar tidak menyalahi/melampui aturan perundang-undangan NKRI. Adat dan tradisi desa pejeng terimplikasi panca yadnya yang setiap waktu dijlankan oleh masyarakat. Jika dibandingkan dengan daerah lain tentu tradisi desa pejeng memeliki perbedaan dengan desa lain di bali karena tradisi itu terikat dengan desa, kala, patra masing-masing daerah. Tradisi dan adat tentunya akan berubah seiring dengan perkembangan zaman, begitu pula yang terjadi di desa pejeng dari dulu sampai sekarang sudah banyak perubahan-perubahan untuk kesejahteraan dan kemajuan masyrakat.

Sebagai bagian dari pulau bali yang terkenal dengan pariwisatanya, desa pejeng tentu memiliki nilai jual tinggi dan potensi sangat banyak di desa ini untuk menunjang industri pariwisata. Dalam sejarah perkembangan pariwisata bali sekitar tahun 1970-an , sudah ada beberapa turis asing yang mengunjungi situs-situs kebudayaan yang ada di desa pejeng. Sebut saja pura penataran sasih tempat disimpannya nekara/bulan pejeng. Dari dulu sampai sekarang masih tercatat dalam “guide book” karena merupakan tempat yang harus dikunjungi pada saat berkunjung di bali (bisa di cek guide book terbitan lonely planet). Tidak hanya situs nekara, pura-pura lainnya di pejeng sekarang ini masih selalu dikunjung wisatawan asing, terutana mereka yang tertarik dengan sejarah bali kuno.
Tapi jika dibandingkan desa ubud, perkembangan pariwisata desa pejeng sangat jauh ketinggalan. Padahal daerahnya sangat berdekatan dan memiliki kebudayaan/tradisi yang mirip bahkan desa pejeng jauh memeiliki lebih banyak peninggalan sejarah. Mungkin ini akan menjadi motovasi bagi generasi di masa depan untuk lebih mengembangkan, mepromosikan potensi wisata yang ada di desa pejeng

BACA JUGA  Ketut Putra Ismaya Jaya ( Keris ) memilih Lapor Polisi

Kita dituntut aktif untuk mencari celah agar perkembangan pariwisata ini terwujud. Pemerintah indonesia sekarang ini juga sangat membantu untuk pengembangan industri pariwisata dimanapun. Kerja keras dan cerdas diuji untuk hal ini karena potensi terpendam di desa tidak akan bisa melejit tanpa ada bantuan dari berbagai pihak, baik itu masyarakat desa pejeng sendiri, pejabat-pejabat desa dan para stake holder terkait. Harus ada prinsip kuat dan sebuah sinergy yang terus menerus agar nantinya tercipta sebuah hubungan simbiosis mutualisme (saling menguntungkan) demi kemajuan bersama. Dan kedepan diperlukan strategy-strategy pengembangan desa yang bagus agar semua masyarakat bisa ikut aktif dalam pengembangan desa dan nanti mereka ikut merasakan efeknya untuk mewujudkan cita-cita desa pejeng yang maju.

desa pejeng

*Penutup
Demikianlah tulisan ini saya buat, sebagai gambaran pada masayarakat khususnya generasi desa pejeng tentang tanah kelahirannya. Karena dimanapun kita berada sekarang bahkan jika bertemu orang baru, pasti ditanya darimana berasal?? Dan mengkhusus dari desa apa?, Sedikit tidak kita bisa menjelaskan tentang gambaran umum desa kita terlebih sejarahnya. Dan nanti akan tercipta perasaan bangga akan tanah kelahirannya. Semua orang pasti ingin membanggakan tanah kelahirannya dan ini adalah sebuah motivasi untuk kemajuan.
Dari uraian diatas dan bukti-bukti yang ada bisa disimpulkan desa pejeng, di zaman dahulu pernah menjadi daerah yang memiliki peradaban cukup maju. Sebagai generasi masa kini hendaknya kita bersyukur masih bisa melihat peninggalan peradaban ini dan semoga kita bisa menjaganya bahkan mengembangkannya karena Ini salah satu bentuk pengabdian pada leluhur-leluhur kita.
Mungkin kedepan juga perlu ada suatu usaha restorasi kemajuan peradaban pejeng masa lalu dan bisa di aplikasikan oleh generasi dalam kehidupan sekarang ini. Mirip seperti “restorasi meiji” di jepang, dimana mereka membangkitkan semngat kejayaan2 masa lalunya untuk kekuatan dan kemajuan di masa kini, dan terbukti jepang berhasil menerapkannya. Bahkan dalam sejarah indonesia pada masa kebangkitan nasional, pengembalian kejayaan masa lampau dijadikan semangat untuk memperjuangkan kemerdekaan indonesia.

Akhir kata Saya mohon maaf jika ada salah kata ataupun lainnya pada tulisan ini. Karena tulisan ini jauh dari sempurna Kritik dan saran para sahabat saya terima dengan senang hati sebagai pelajaran hidup yang tidak henti.

Penulis: Gede Julius, Juni 2020