Balinews.id

Cerpen; Luh Meera Jnani #1

Luh Meera duduk membisu di pesisir pantai Saba. Entah sudah berapa lama Luh Meera lupa dirinya. Rambutnya tergerai kusut tertiup ganasnya angin laut. Wajahnya layu, tatapan matanya kosong, rona kehidupan seolah sudah tercabut dari raganya. Kedua tangannya menyatu memeluk kedua lututnya dengan sebuah botol kecil tergenggam di kedua telapak tangannya.

 

Hari sudah semakin senja. Ombak mulai meninggi menjelang malam bulan Purnama. Deburannya serasa merindingkan sukma. Pantai telah beranjak sepi dari kunjungan manusia. Luh Meera terhuyung berdiri di atas kedua kakinya. Ada tetasan bening mengalir di kedua ujung matanya, namun tak berisak tak bersuara. Pelan dan gontai Luh Meera melangkah menuju deburan ombak yang semakin mengganas.

 

***

 

Cerpen; Luh Meera Jnani #1

Wanita dipinggir pantai itu bernama Luh Meera Jnani. Berperawakan sedang-sedang saja, tinggi sekitar 155 cm dengan berat badan ideal. Kulitnya kuning langsat bersih, rambut hitam ikal sebahu. Paras mukanya pun biasa saja dengan mata lebar seperti mata wanita India, hidung sedikit mancung, alis tebal, dan pipi yang cenderung berisi.

 

Luh Meera merasa tak berparas cantik, namun dari dia duduk di bangku SMP sampai dewasa ada banyak sekali lelaki yang mendekatinya. Namun Luh Meera tak pernah jatuh cinta dengan siapapun di antara mereka. Dia memimpikan hanya akan jatuh cinta dan disentuh oleh satu lelaki yang kelak akan menjadi jodohnya seumur hidupnya.

 

Sesuai dengan namanya Luh Meera Jnani, dia adalah seorang wanita yang penuh kasih sayang dan cukup berpengetahuan luas tentang kehidupan dan agama. Luh Meera sangat rajin membaca, terutama buku-buku tentang spiritualitas. Dia tipe pekerja keras meskipun dia berasal dari keluarga yang berada. Luh Meera sangat aktif di kegiatan-kegiatan sosial. Meskipun dulu dia belum menikah, dia telah memiliki beberapa anak asuh. Setiap dia bisa mengulurkan tangan untuk orang lain, itu pulalah kebahagiaan Luh Meera Jnani.

 

Luh Meera Jnani tipe wanita idealis, hidupnya lurus-lurus saja. Wanita yang baik hati, dan penyayang. Hatinya mudah iba dan tersentuh dengan derita orang lain. Dia tinggal bersama kedua orang tuanya. Dan dia anak tunggal, anak satu-satunya dari kedua orang tuanya. Meskipun begitu dia bukan tipe orang manja.

 

Pergaulannya sangat terbatas, tak banyak teman yang ia miliki. Komunitasnya hanya tentang kegiatan sosial. Dan dari sana pula di usianya yang ke 27 tahun dia bertemu dengan Made Wicaksana. Lelaki yang lumayan tampan, dengan tutur kata lembut dan sopan. Gaya bicara Made Wicaksana mencerminkan kalau dia seorang yang terpelajar dan berwawasan luas. Usianya saat bertemu dengan Luh Jnani sudah 35 tahun. Berperawakan tinggi tegap berisi dengan senyum manis menghiasi sudut bibirnya setiap dia berbicara dengan orang lain. Hal yang membuat wanita mudah jatuh cinta padanya meskipun usianya sudah dewasa.

 

Pertemuan demi pertemuan dalam kegiatan sosial mereka, menjadikan Luh Meera Jnani dan Made Wicaksana semakin akrab dan dekat. Entah kapan dan entah apa yang membuat Luh Meera jatuh cinta pada Made Wicaksana. Cinta pertama di usia dewasa. Dia begitu nyaman dan bahagia berada di dekat Made Wicaksana. Semua kata-kata Made Wicaksana telah memabukkan hati dan pikiran Luh Meera Jnani. Dia pun sangat yakin Made Wicaksana sangat mencintainya. Lelaki yang jujur dan layak dipercaya, sampai berita itu tiba.

 

***

 

Ibu Luh Jnani dengan mata berkaca-kaca memeluk anak semata wayangnya. Menceritakan kalau dia mendengar kabar bahwa Made Wicaksana adalah seorang pria yang telah beristri dan beranak dua.

“ Luh anakku Sayang. Cari tahu kebenaran ini. Tanyakan langsung pada Made Wicaksana, apakah berita ini betul? Ibu tidak ingin masa depanmu hancur Nak” kata ibu Luh Meera terisak sambil memeluk anaknya yang membisu.

 

Berita itu ternyata bukan isapan jempol belaka. Dalam pertemuan keesokan harinya, Made Wicaksana mengakui kalau dia memang telah memiliki anak dan istri.

“ Mengapa hal ini tidak kamu katakan sebelumnya Bli? Kenapa kau tega mempermainkan aku? Tidakkah kau merasakan kalau aku sangat tulus mencintaimu?” Luh Meera berkata dengan bibir gemetar.

“ Meera, aku ingin berkata sedari awal. Tapi aku begitu takut kehilanganmu. Kamu pun pasti bisa merasakan kalau aku sungguh-sungguh mencintaimu. Bertemu denganmu aku merasakan arti cinta lagi. Di dekatmu aku merasakan kebahagiaan yang selama ini telah hilang dari hidupku.”

“ Tolong Meera, jangan tinggalkan aku.”

“ Demi Tuhan, cinta diantara aku dan istriku telah lama pudar. Aku bertahan hanya demi anak-anak yang masih kecil” Made Wicaksana dengan suara memelas memberikan penjelasan kepada Luh Meera.

 

Meskipun kedua orang tuanya telah memperingatkan, Luh Meera seperti telah kena sihir cinta. Dia memilih bertahan dengan Made Wicaksana. Dia memilih percaya dengan semua kata-kata Made Wicaksana. Dia tak memperdulikan omongan miring orang-orang terhadapnya. Dia ingin memberi Made Wicaksana semua kebahagiaan.

 

Namun kadang masih sempat Luh Meera sayup-sayup mendengar suara hatinya, bahwa pilihannya adalah pilihan yang salah. Yang tidak sesuai dengan norma-norma agama dan masyarakat. Yang mungkin akan mendatangkan luka di kehidupan Luh Meera. Namun nyatanya suara hati Luh Meera dan kesedihan orang tuanya telah dikalahkan oleh buaian cinta Made Wicaksana.

 

Dengan berat hati, untuk menghindari gunjingan masyarakat, akhirnya orang tua Luh Meera mengalah. Mereka menikahkan putri tercintanya yang polos itu dengan lelaki yang telah beranak istri. Menikah dibawah tangan dengan disaksikan keluarga terdekat saja. Ibu Luh Meera hanya bisa berurai airmata, menghibur pikirannya dengan meyakini kalau Made Wicaksana memang lelaki baik yang akan berlaku adil kepada anaknya sebagai istri keduanya.

 

Istri Made Wicaksana meskipun tahu hubungan suaminya dengan Luh Meera, tahu tentang pernikahan suaminya dengan Luh Meera , dia tak pernah bereaksi secara langsung. Istri Made Wicaksana pun tak pernah datang menegur atau melabrak Luh Meera dan keluarganya. Sungguh hubungan yang aneh antara Made Wicaksana dan istri pertamanya itu.

 

Waktu dan tahun berjalan, dan ini menjelang tahun ke dua pernikahan mereka. Luh Meera bukanlah Luh Meera yang dulu, yang selalu tersenyum ramah kepada siapa saja. Luh Meera yang sekarang sesungguhnya adalah wanita yang hatinya penuh luka. Namun dia tidak pernah mengutarakannya kepada siapa pun juga. Di depan semua orang dia berlaku baik-baik saja, menunjukkan kalau ia sangat bahagia meskipun menjadi istri ke dua. Dia tidak pernah menunjukkan terluka meskipun banyak yang mengatakan dia adalah perebut suami orang.

 

Tidak ada yang pernah tahu bagaimana perihnya hati Luh Meera, melewati dua tahun pernikahan tanpa pernah sekalipun ada sosok seorang suami yang memeluknya dikala malam, dan yang ia buatkan secangkir kopi atau teh di pagi hari. Entah sudah berapa ribu kali ruang tamu di rumahnya itu menjadi saksi bisu dia terpekur seorang diri menatap ke arah pintu berharap ada ketukan di pintu dari suami tercintanya. Namun semua sia-sia.

 

Semenjak menikah Luh Meera memilih tinggal di rumahnya sendiri. Rumah yang ia beli dengan uangnya sendiri. Sampai detik ini dia belum pernah merepotkan Made Wicaksana untuk segala hal keperluan pribadinya. Bahkan tak jarang dia sering membantu Made Wicaksana dengan uang pribadinya saat Made Wicaksana mengeluh dana segar untuk perusahaannya. Semua Luh Meera lakukan atas dasar cinta, atas nama cinta, atas nama kepercayaan kepada suaminya, Made Wicaksana.

 

Dua tahun menjadi istri Made Wicaksana, kebahagiaan Luh Meera hanya dari waktu senggang Made Wicaksana yang menengoknya seminggu sekali atau paling banyak dua kali dalam seminggu dalam hitungan jam saja. Meskipun demikian mereka tetap rutin komunikasi setiap hari. Luh Meera berusaha bertahan, berusaha menyingkirkan kerinduannya, menahan semua keinginannya sebagai seorang istri, sebagai seorang wanita yang kadang begitu ingin di manja.

 

Kini wajah Luh Meera semakin menirus, penderitaannya serasa semakin bertambah setelah dia mendengar dari seorang teman bahwa Made Wicaksana juga punya hubungan yang spesial dengan sekretarisnya. Sebagai istri, meskipun hanya istri ke dua rasa amarahnya mulai timbul. Dia merasa berhak mencari tahu tentang kebenaran itu. Dia temui sekretaris Made Wicaksana, dan alangkah terkejutnya Luh Meera ketika dengan beraninya sekretaris itu mengatakan dia memang mencintai Made Wicaksana. Hancur sehancurnya hati Luh Meera, sungguh malang nian nasibmu Luh Meera.

 

Semenjak itu Luh Meera mulai sering marah-marah kepada Made Wicaksana, dia mulai acap menelpon suaminya itu. Dan entah apa yang ada di benak Made Wicaksana, dengan alasan banyak masalah dalam pekerjaan, dia bukannya memberi damai dan penjelasan kepada Luh Meera tapi malah semakin memarahi Luh Meera dengan alasan meragukan kejujurannya. Sekali lagi Luh Meera bertahan dan mengalah. Namun jiwanya sudah sangat terguncang. Rasa telah di bohongi telah mengalir ke dalam hatinya yang terdalam.

 

****

 

Siang ini Made Wicaksana menjemputnya dan mengajaknya makan siang. Luh Meera sangat bahagia, karena meskipun ada kemarahan, rasa cintanya kepada Made Wicaksana masih bertahta dengan penuh keagungan di hatinya. Dia sangat bahagia ingin mengobati kerinduannya setelah sekian hari tak berjumpa.

 

Mereka baru saja menikmati menu yang terhidang di meja ketika telepon Made Wicaksana berbunyi. Luh Meera tahu itu dari istri pertama Made Wicaksana.

“ Halo, iya gimana? Ini lagi makan siang. Sama Meera. Baiklah setelah ini aku langsung pulang” begitu terdengar percakapan Made Wicaksana.

“ Meera Sayang, setelah ini aku langsung antar kamu pulang lagi ya. Aku harus segera pulang, anak-anak lagi rewel kata ibunya.”

 

Luh Meera diam, tak ada kata yang bisa dia ucapkan. Sekuat tenaga ia menahan air mata karena ia tahu jika ia menangis Made Wicaksana bukannya iba, tapi akan semakin memarahinya. Begitu sesak dada Luh Meera, tangisnya pun pecah bahkan telah menjadi teriakan. Tak berhakkah ia bahagia barang sekejab saja? Ini bukan yang pertama kali, setiap Luh Meera bersama Made Wicaksana pasti istri pertamanya akan menelepon dan mengatakan cepat pulang. Dan Made Wicaksana pasti akan selalu menurutinya.

“ Sudah jangan menangis, aku nggak bisa melihat orang menangis. Diamlah. Besok aku akan datang lagi.” Made Wicaksana enteng berkata kepada Luh Meera sebelum ia pergi dari halaman rumah istri ke duanya itu.

 

Keesokan harinya Luh Meera bangun dengan kondisi kepala sangat pusing dan perut mual tak tertahankan. Ini sudah ia alami beberapa hari belakangan ini. Air matanya mengalir tatkala memuntahkan semua isi perutnya di wastafel kamar mandinya. Sakit dan pahit menjalar di kerongkongannya. Tapi air matanya mengalir karena ia berharap ada suaminya yang melindungi dan menghiburnya di saat-saat ia lemah seperti ini. Dan itu hanya akan jadi mimpi bagi Luh Meera.

 

Gontai ia kembali ke kamarnya. Sambil berbaring ia teringat bahwa sudah lama dia tidak mengalami menstruasi, Luh Meera berpikir jangan-jangan mualnya ini karena ia sedang hamil. Segera dia ambil test pack kehamilan, dengan berdebar ia tunggu hasilnya untuk beberapa saat. Dan…Luh Meera begitu bahagia, ada tanda strip merah dua di alat tes kehamilan itu. Segera ia ambil handphonenya dan mengirim pesan kepada suaminya.

“ Selamat Pagi”

“Halo. Lagi di mana ini? Bisa aku nelp?”

 

Sepuluh menit berlalu tak ada jawaban dari Made Wicaksana. Luh Meera menelepon, sekali tak terangkat, dua kali tak terangkat, ketiga dan keempat kali pun tak terangkat. Dia begitu ingin menyampaikan kabar bahagia ini kepada suaminya. Akhirnya di panggilan yang kelima kali Made Wicaksana menjawab telepon Luh Meera.

“ Halo…ada apa ini? Kenapa kamu mesti menelepon berkali-kali? Kenapa gak nunggu aku telp balik? Aku lagi sama istriku. Jangan lagi meneleponku seperti itu!” Meninggi suara Made Wicaksana diujung telepon sana. Luh Meera tak berkata-kata, ia tutup kembali handphonenya.

 

Dengan pakaian seadanya, Luh Meera melangkahkan kakinya menuju gerbang rumahnya. Tak ada tujuan, hanya mengikuti langkah kakinya. Ia teringat semua perkataan-perkataan Made Wicaksana saat mereka bertengkar belakangan ini. Bahkan beberapa hari yang lalu dalam kemarahannya Made Wicaksana mengatakan kalau keberadaan Luh Meera hanya membebani hidupnya semata. Dan entah sudah berapa kali kata-kata menyakitkan terlontar dari mulut Made Wicaksana saat ia gagal memahami kemarahan Luh Meera yang merana dilanda sakit hati. Luh Meera Jnani sudah kehilangan harapan, kehilangan pengetahuan diri, dan hilang kendali diri.

 

****

 

Dan ombak Purnama di pantai Saba pun semakin mengganas. Luh Meera berjalan semakin mendekati ombak-ombak itu. Dia elus perutnya dengan pelan, matanya memejam, botol kecil itu masih tergenggam erat di telapak tangan kanannya. Ingatannya melayang pada kata-kata Made Wicaksana bahwa ia membebani hidup suaminya itu, bahwa ia tak ingin di ganggu saat sedang dengan istri pertamanya.

 

Ombak menerjang tubuh Luh Meera yang kini semakin meringkih, dia terhempas. Segera ia berjalan kembali mendekati ombak besar yang siap menggulung tubuh mungilnya beserta bayi di dalam perutnya yang belum sempat bertegur sapa dengan ayahnya….

 

Bersambung…

 

By : Gita Hati in Bali, 4 November 2020

 

 

 

 

Tanggulangi Kejahatan Siber, Polri akan Rekrut 45 Perwira di Bidang IT

NASIONAL, Balinews.id – Maraknya serangan siber di tanah air membuat Polri berencana merekrut sumber daya…

November 11, 2020

Nyoman Parta Sukses Perjuangkan Hak Pekerja APS, Downgrade Status Resmi Dibatalkan

Balinews.id – Rencana perubahan status pekerja dari PKWTT/Permanent menjadi PKWT/Kontrak di PT Angkasa Pura Supports…

November 11, 2020

10 WN Tiongkok Diamankan Atas Dugaan Pelanggaran Izin Tinggal

BADUNG, Balinews.id – Sepuluh warga negara asing (WNA) asal Tiongkok ditahan oleh Kantor Imigrasi Kelas…

November 11, 2020

Berbuah Manis! Rencana Perubahan Status Pegawai PT APS Dibatalkan

Badung, Balinews.id – Sengketa terkait perubahan status ketenagakerjaan yang terjadi di Bandara Ngurah Rai akhirnya…

November 11, 2020

Hyundai Kona Electric Siap Meluncur di GIIAS 2024

BISNIS, Balinewsid – PT Hyundai Motors Indonesia akan segera melengkapi model kendaraan listrik (EV) di…

November 11, 2020