Super Sina

Kalian pasti pernah mendengar tentang sihir kan? Iya, magic. Sina merupakan anak dari pengendali sihir tapi bukan penyihir, mungkin lebih tepatnya pengendali elemen. Sina sekarang sedang bersekolah di sekolah pengendalian elemen. Sekolah itu mengharuskan untuk tinggal diasrama. Sina bersekolah disana bersama adiknya.

Super Sina

Sina bangun terlambat hari ini, begitu Sina melihat jam, Sina langsung melesat pergi mandi. Iya, mandi bebek. Keluar dari kamar mandi dengan mengenakan seragam. Berjalan dengan buru-buru kearah lemari, kemudian memakai dasinya. Baru setelah itu dia menguncir rambutnya. Memasukan bukunya asal ke dalam tas. Lalu, lari keluar kamar asramanya. Sina berlari dilorong menuju kelas pengendalinya. Sina sampai kelasnya dengan nafas terengah-engah.

Tok.. Tok.. Tok..

Sontak semua orang yang berada dikelas menatap kearah Sina. “Sina, apa alasanmu untuk keterlambatan ini?” tanya Bu Kori langsung. Tentu dengan nada yang sinis. “M-maaf bu, s-saya bangun terlambat.” Kata Sina gugup. Bu Kori berdecak malas, “Cih, kamu itu sudah tau lemah, harusnya kamu belajar yang giat supaya bisa mengejar ketertinggalan. Bukannya bermalas-malasan.” Cemoohnya.

Mendengar hal itu, Sina menunduk. Apalagi karena semua murid dikelas memandangnya remeh, semua kecuali Lea—sahabatnya—. “Duduk.” Titah Bu Kori. Sina duduk dibangkunya, namun secara terang-terangan seseorang yang duduk didepan Sina menyindirnya. “Sudah lemah, tidak punya kekuataan, pake acara telat lagi. Hahaha.” Ejeknya. Sina tau orang itu adalah Bona.

Kemudian pelajaran dimulai kembali, Bu Kori mengajar tentang pengendalian eleman air. Sina memperhatikan dengan mood yang buruk.

¤¤¤¤

“Sina, kamu ngga papa kan?” tanya Lea cemas. Tenang, ini sudah jam istirahat kok. Sina tersenyum kecut, “Sudah biasa. Tenang saja.” Sahutnya. Lea menepuk pelan bahu Sina, “Yang sabar ya?” ucapnya.

Iya, aku akan bersabar hingga dihari aku bisa mengeluarkan kekuatanku yang sesungguhnya, pikir Sina. “Iya, thanks.” balas Sina sambil tersenyum. Lea mengangguk, “Yaudah, yuk ngantin.” Ajak Lea. “Ayoo.”

Sampai dikantin, mereka segera mengantri. Baru setelah itu mencari tempat duduk. “Sina, Lea. Disini!” Seseorang melambai-lambai. Lalu Sina dan Lea pergi untuk duduk disana. Seseorang yang memanggil tadi adalah Lian, salah satu sahabat Sina. Mereka berbeda kelas. “Eh, eh. Kalian sudah tau belum?” tanya Lian. Mega—sahabat Sina yang lain—menatap Lian, “Soal pertarungan tahunan itu?” tebak Mega santai.

BACA JUGA  Cerpen; Siapa Perempuan Itu, Bli? #5

Lian menganguk, “Iyaa, aku udah ngga sabar nunggu itu.” Ucap Lian bersemangat. Sina memasang wajah bingung, “Ha? Pertarungan apa?” tanyanya. “Haduh, itu loh. Pertarungan tahunan, yang digunain buat nentuin siapa yang terkuat disekolah. Ini wajib.” Jelas Lea. Lian dan Mega menganguk membenarkan.

“Jadi kita semua harus ikut?” tanya Sina lagi. Mega menganguk lagi, “Iya, em, sebenernya lawannya juga random sih, bisa adek tingkat, temen setingkat atau nggak kakak tingkat.” Jelas Mega. “Oke, aku mau ke kelas duluan. Kalian lanjutin aja makannya.” Pamit Sina.

Sebenernya Sina tidak pergi ke kelasnya, dia pergi ke halaman belakang sekolah yang memang selalu sepi saat jam istirahat. Seseorang nampak ada disana, sedang membelakangi Sina dan membawa sebuah buku. Itu tandanya dia sedang membaca. Dengan langkah perlahan Sina menghampiri orang itu, “Lah? Dek, ngapain disini?” kata Sina pada orang itu. Yang tak lain, tak bukan adalah adeknya sendiri, Geo.

“Kakak juga, ngapain disini?” tanya balik Geo. Sina mendudukan dirinya disamping Geo, “Merenung.” Jawabnya asal. Geo nampak mengernyit namun tidak bertanya. Iya, kutub. Hening, keduanya terdiam. “Dek, apa menurutmu aku harus mengeluarkan kekuatanku yang sebenarnya saat pertarungan tahunan nanti?” tanya Sina memecah keheningan.

Geo menoleh, menatap Sina. “Ya, terserah kakak aja sih. Tapi bukannya bagus kalau kakak mengeluarkan kekuatan kakak? Biar nanti kakak tidak akan dicap lemah lagi.” Jawab Geo. Sina diam memikirkan hal itu. Iya, memang selama ini Sina dicap lemah oleh semua orang tentu kecuali sahabat-sahabatnya, dan adiknya. Sina memang awalnya lemah.

Hingga hari itu, saat dia tau bahwa dibukanlah anak yang lemah.

Flasback on,.

Sina sedang berada diruang pengendalian angin, dia sendiri karena semua anak sudah pulang. “hhhh..” suara nafas Sina terdengar tersengal-sengal, mengema keseluruh ruangan. Dia sendari tadi sedang berlatih. Yang dipikirkannya saat itu hanya dirinya harus kuat minimal dia setara dengan teman-temannya. Sina kembali lagi pada latihannya.

Wush..

Sina mencoba menerbangkan bangku dengan tangan kanan. Lalu setelah cukup yakin, Sina kembali mencoba mengangkat bangku lainnya dengan tangan kiri.

Wush..

Sina tersenyum senang karena dia berhasil mengangkat bangku itu. Kemudian Sina dengan perlahan menurunkan bangku-bangku itu, dengan gerakan menurun. Sina sangat lelah karena telah menforsir kekuatannya sejak pagi, kemudian memilih duduk lesehan.

Namun hal tidak terduga terjadi, “Ayah, Ibu. Kenapa kalian bisa disini?” tanya Sina terkejut. Pasti teleport, pikir Sina.

“Iya Sina, kami disini.” Jawab Ibu.

“Ada yang ingin kami sampaikan kepada kamu.” Kali ini Ayah yang bersuara.

Sina mengernyit bingung, “Memberi tau apa?” tanyanya.

“Sebelum itu, kami minta maaf. Kamu pasti merasa selama ini kami tidak memperhatikan kamu kan?” kata Ibu.

Sina tersenyum kecut, “Apakah kalian ingin memberi tau bahwa aku bukanlah anak kalian?” tebaknya

Ayah dan Ibu berteriak kompak, “Tidak!” teriak mereka. “Kamu memanglah anak kandung kami,” kata Ayah menghembuskan nafas berat, “Jelaskan sekarang Bu.”

Ibu menganguk kemudian beralih menatap Sina, “Memang selama ini kami kurang memperhatikan kamu. Kami melakukan hal ini semata-mata untuk menyembunyikan identitas kamu. Karena jika ada yang tau, kamu bisa saja dicelakai.” Jelasnya.

“Memang kenapa kalau ada yang tau akan identitasku? Bukan kah aku lemah? Jadi untuk apa mereka mencelakai ku?” heran Sina.

Ayah menghelas nafas kembali, “Itu semua bohong sayang.” Katanya, “Kamu itu sebenarnya setingkat Ace.”

Sina terbengong-bengong

Apa tadi?

Ace?!

Really?!

Apakah Sina tidak salah dengar. “Tidak, kamu tidak salah dengar Sina.” Kata Ayah seolah tau pikiran Sina.

Oke!

Sina tidak tau dia harus menari senang atau menangis tersedu-sedu. “T-tapi bagaimana mungkin yah? A-aku kan tidak punya tanda bulan dipunggung tangan. Yang punya justru Diana, orang yang menbenciku.” tanya Sina.

Ibu menjawab, “Tidak Sina. Punya Diana palsu, justru punyamu yang asli.” Jelasnya. Sina membantah, “Tapi Bu, lihat di punggung tanganku tidak ada tanda bulan.”

“Tanda itu memang bisa disembunyikan, lihatlah.” Kata Ibu, lalu menggenggam tangan Sina dan mengucapkan mantra yang Sina tidak ketahui. Kemudian muncul sinar putih kecil mengelilingi tangan Sina dan masuk kedalam punggung tangannya. Seketika muncul tanda bulan biru di punggung tangan Sina.

“A-apa? B-bagaimana..?” tanya Sina tidak percaya, “Lalu, mengapa identitasku harus di sembunyikan?”

“Seperti yang Ibumu bilang untuk melindungimu juga supaya kejadian Qila tidak terulang.” Jelas Ayah. Sina mengernyit bingung, “Qila..?”

“Iya, Qila merupakan satu-satunya Ace yang tercatat disejarah itu. Dia mati karena dikalahkan oleh kakaknya sendiri. Itu semua karena kakaknya takut Qila akan mengambil kekuasaanya.”

Ibu mengambil alih untuk menjelaskan, “Memang Ace itu tidak mudah dikalahkan. Butuh ratusan hingga jutaan orang untuk mengalahkannya. Tapi karena saat itu Qila baru berumur 15 tahun, jadi mudah saja dikalahkan.”

“Seorang Ace dapat dikatakan sempurna apabila telah mencapai umur 17 tahun dan tepat sekarang saat jam 00.00, kamu akan berumur 17 tahun. Makanya kami memberi tahu kamu sekarang.” Imbuh Ayah mengakhiri penjelasan.

Sina secara otomatis melihat jam yang ada diruangan itu, dan benar saja jam sudah menunjukan pukul 11.58. Dua menit menuju pukul 00.00. Sina menatap kedua orangtuanya secara bergantian, “Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang?”

Ayah dan Ibu saling menatap, “Cukup dengan menyembunyikan kekuataanmu hingga waktu yang tepat.” Jawab Ibu juga memberi tahu mantra untuk menyembunyikan tanda bulan dipunggung tangan Sina.

Flasback off

“Kak.”

BACA JUGA  Super Sina Part.2

“Kakak!” panggil Geo menyadarkan Sina dari lamunannya. “E-eh, iya kenapa?” tanya Sina dan melihat Geo mulai beranjak dari duduknya. “Kakak mau disini sampai kapan? Udah masuk nih.” Sina langsung bangun dari duduknya dan pergi menyusul Geo yang sudah terlebih dahulu meninggalkannya. Kemudian berpisah arah karena kelas Geo dan Sina yang berbeda gedung.

Untung saja, belum ada guru yang mengajar dikelas Sina. Begitu Sina duduk dibangkunya, Lea langsung bertanya, “Kamu habis darimana?” Sina menoleh, menatap Lea. “Itu, habis dari halaman belakang.” Jawab Sina. Lea ingin bertanya lagi tapi seorang guru sudah masuk untuk memulai pelajaran.

Sina terpikir akan perkataan Geo dan merasa apa yang dikatakan Geo itu ada benarnya juga. Jadi Sina memutuskan untuk mengeluarkan kekuatan dia yang sesungguhnya.

Bersambung…

¤¤¤¤

By : Gangga Moyi, SMP DWIJENDRA

Facebook Comments

Redaksi

Merupakan salah satu tim dari BaliNews.id