Nenek Tua Dibalik Gerbang

Radit baru saja pindah rumah, karena Ayah yang ingin mencari suasana baru dan ada beberapa alasan lainnya. Awalnya Radit sama sekali tidak mau pindah rumah, ya karena dia tidak mau berpisah dengan teman-temannya. Tapi karena sudah diberikan pengertian oleh Bunda, Radit akhirnya mau pindah rumah.

Hari ini merupakan hari Senin, jadi Radit sedang bersiap-siap untuk pergi kesekolah, jarak antara rumah dengan sekolah tak begitu jauh. Jadi Radit pulang  dengan jalan kaki, dan saat berangkat kesekolah diantar oleh Ayah. Oh iya, ini sudah seminggu sejak Radit sekeluarga pindah rumah. Memang awalnya Radit tidak suka tapi lama kelamaan Radit sudah mulai terbiasa.  Selesai bersiap, Radit pergi untuk sarapan.

“Selamat Pagi Ayah, Bunda.” Sapa Radit begitu sampai diruang makan dan mendudukan dirinya dikursi. “Selamat Pagi juga Adit.” Jawab Ayah dan Bunda kompak. Kemudian mulailah mereka sarapan, hanya sekedar roti dan segelas susu sih. Usai sarapan, berangkatlah Radit juga Ayah.

Sampai sekolah, Radit bergegas kekelasnya tentu setelah berpamitan dengan Ayah. Kemudian Radit duduk dibangkunya menunggu bel masuk berbunyi, sambil menunggu Radit mengobrol dengan teman-teman barunya. Akhirnya bel masuk sudah berbunyi, Radit mengikuti dengan baik setiap pelajaran hari ini. Hingga sekarang tibalah waktu pulang. Radit pulang dengan dua orang teman sekelasnya. Mereka adalah Andra dan Bayu.

Setiap mereka pulang sekolah, mereka akan melewati sebuah rumah tua. Rumah tua itu tidak begitu besar maupun kecil dengan gerbang tinggi yang selalu tertutup. Rumah itu merupakan tempat tinggal seorang nenek tua dengan wajah yang selalu tertutup oleh kain. Kemudian setiap Radit dan kedua temannya lewat, Nenek tua itu akan melihat mereka. Selalu setiap mereka bertiga pulang dari sekolah.

“Dra, Bay. Kenapa sih nenek itu selalu melihat kita atau teman-teman kita begitu kita lewat didepan rumah nya?” Tanya Radit penasaran. “Aku juga ngga tau Dit,” Jawab Andra. “Kata anak anak lain sih, memang setiap waktunya anak sekolah pulang atau berangkat kesekolah nenek itu pasti duduk didepan rumahnya sambil melihat anak anak sekolah lewat didepan rumah dia.”

BACA JUGA  EMBUN ITU MENGHILANG

Bayu mengangguk membenarkan. “Terus, kenapa nenek itu selalu menutup wajahnya?” Tanya Radit lagi. “Kalau itu aku sama Andra ngga tau, banyak orang yang takut sama nenek itu. Dia setiap keluar rumah pasti menutup wajahnya, dia juga jarang ngomong. Jadi ngga ada yang tau penyebab dia nutup wajahnya.” Kali ini Bayu yang menjawab. Radit mengangguk mengerti.

Kemudian mereka berpisah begitu sampai dirumah Radit. “Bunda, Adit pulang.” Kata Radit. Bunda yang mendengar suara Radit, segera datang menghampiri Radit. “Kamu sudah pulang,” Ucap Bunda, “Sana ganti baju dulu, habis itu makan ya? Bunda mau ke keluar sebentar.” Radit mengangguk. “Iya Bunda.”

Radit segera kekamar untuk mengganti bajunya, baru setelah itu dia pergi makan siang. Selesai makan, dia pergi kekamarnya untuk mengerjakan PR. Untung saja PR yang diberikan tidak begitu banyak, hanya PR membuat sebuah rangkuman. Saat belajar, dia teringat oleh perkataan Andra dan Bayu tentang si nenek tua.

Radit jadi penasaran dengan nenek itu. Kenapa dia selalu melihat anak sekolah yang lewat ya? Kenapa juga dia menutup wajahnya? Pikir Radit. Karena rasa penasarannya yang tidak terbendung lagi. Dia memutuskan untuk menemui nenek tua itu saat pulang sekolah. Kemudian Radit kembali fokus mengerjakan PR nya.

¤¤¤¤

Keesokan harinya, seperti biasanya Radit sudah siap untuk pergi kesekolah. Usai sarapan dengan Ayah dan Bunda, dia segera pergi kesekolah. Ini masih terlalu awal untuk kesekolah, entah kenapa Radit bersemangat sekali untuk sekolah sekarang. Setelah berpamitan dengan Ayah, Radit berjalan menuju kelas. Duduk dibangkunya, dan mengobrol dengan Andra.

BACA JUGA  Menunggu Mantra Cinta

“Raditt! Udah ngerjain PR belum?” Bayu yang baru datang langsung menyerbu Radit. “Udah, kenapa Bay?” Jawab Radit. “Aku tebak kamu belum ngerjain kan?” Kata Andra menebak. “Tau aja kamu Dra, tenang tinggal dikit lagi kok,” Jawab Bayu, “Lihat dong Dit, hehe.” Radit tersenyum maklum dan mengeluarkan buku tugasnya, “Nih, cepet kerjain, bentar lagi bel.” Bayu menerima buku itu dan berkata, “Siap, laksanakan.”

Ilustrasi

Bertepatan dengan Bayu menyelesaikan acara menyalin tugas Radit, bel masuk berbunyi. Pelajaran akan segera dimulai, anak-anak segera membenarkan duduk mereka dan menunggu Guru mata pelajaran pertama datang. Tak lama kemudian datanglah guru yang akan mengajar. Seperti hari kemarin, Radit mengikuti setiap pelajaran dengan sangat baik.

Kring…Kring…Kring…

Bel pulang berbunyi..

Mendengar bunyi bel, pelajaran pun diakhiri. Radit sekarang pulang sendiri karena Andra dan Bayu sedang mengikuti kegiatan ekstrakulikuler. Teringat akan niat dia kemarin, Radit pergi kerumah Si Nenek. Dengan mengumpulkan segala keberanian, Radit melangkah mendekati rumah Si Nenek tua. “Permisi nek, boleh dit masuk?” Tanya Radit didepan gerbang. Nenek itu tidak menjawab, dia tetap duduk dibangkunya.

Radit yang melihat Nenek tidak menjawab perkataannya, memutuskan untuk masuk saja, toh gerbang itu tidak dikunci. Kemudian Radit menghampiri Nenek itu. “Halo nek, apa kabar?” Kata Radit berbasa-basi. Nenek itu diam tapi dia perlahan-lahan bangkit dari duduknya. “Tenang nek, jangan takut. Adit cuma mau nyapa nenek aja kok.”

Radit menatap mata si Nenek, Radit dapat melihat bahwa mata Nenek itu memancarkan kesedihan. Lama terdiam, akhirnya Nenek itu bersuara, “Kamu ngga takut sama Nenek?” Tanyanya. “Ngga kok, Adit ngga takut sama nenek. Oh iya, Aku Radit nek.” Jawab Radit sambil memperkenalkan dirinya.

Nenek itu diam, tapi memberi isyarat untuk Radit supaya mengikuti dia masuk kedalam rumahnya. Radit yang mengerti pun segera masuk kedalam rumah tua sang nenek. “Kamu duduk aja dulu, mau minum?” Kata Nenek. “Ngga usah nek, Adit kesini cuma mau nanya sama nenek.” Jawab Radit.

BACA JUGA  Super Sina Part.2

“Kamu mau tanya apa sama nenek?”

“Jadi gini nek, tapi beneran boleh Adit nanya sama nenek?” Tanya Radit tidak yakin. “Iya, ngga papa nak,”

Radit terlihat ragu tapi tetap bertanya, “Itu, kalau boleh tau, Kenapa nenek selalu melihat anak sekolah lewat setiap pulang maupun berangkat?”

“Ah, masalah itu ya? Maafin nenek ya, kalau kamu merasa itu mengganggu kamu dan teman-teman kam—”

Radit menyela, “Nggak kok, Adit sama temen-temen nggak ngerasa terganggu.”

Haha, baiklah. Jadi gini Dit, Nenek dulu punya cucu. Harusnya sekarang dia udah seumuran kamu. Tapi sekarang dia udah nggak ada, dia kecelakaan bareng nenek. Kamu tau kenapa nenek nutup muka nenek, itu karena nenek nggak mau semua orang takut lihat muka nenek. Muka nenek banyak bekas goresan kecelakaan.” Kata nenek bercerita, “Setelah cucu nenek meninggal, nenek ngerasa bersalah. Makanya setiap ada anak sekolahan lewat depan rumah nenek, nenek bakalan liat mereka sampe mereka lewat.”

Radit diam mendengarkan Nenek bercerita. “Nenek jadi kangen nih sama cucu nenek gara-gara kamu.” Kata nenek bercanda. “Ohh, gitu ya nek? Nenek tinggal sendirian disini?” Tanya Radit. “Iya, nenek tinggal sendiri disini.”

“Jangan khawatir nek, walaupun nenek sendirian. Nenek akan mendapatkan banyak cucu baru, nanti Adit bakalan sering datang kesini sama teman-teman.” Kata Radit. Mendengar kata Radit seketika wajah nenek dipenuhi oleh binar ceria. Begitulah selanjutnya, tercipta ikatan hati antara Radit dan Nenek tua itu. Persahabatan yang bermula dari rasa kepedulian yang ada didalam diri Radit.

Yuk, kita semua selalu belajar untuk peduli dan cara peduli tersimple itu adalah dengan sebuah perhatian.

¤¤¤¤

By : Gangga Moyi, SMP DWIJENDRA

Facebook Comments