Cerpen; Siapa Perempuan Itu, Bli? #5

BaliNews.id – Hari sudah menjelang siang, aku gelisah di balik meja kerjaku. Entah sudah berapa kali aku memeriksa ponselku, namun pesan yang kuharapkan masuk tak kunjung datang. Aku hela nafas dalam-dalam, ingin kupenuhi rongga dadaku dengan kesegaran. Aku pejamkan kedua mataku seraya sedikit kutengadahkan kepalaku. Aku bergumam, “Di mana engkau Bli Wira?”

 

Ini hari ke tiga semenjak aku mengatakan kepada Bli Wira untuk tidak lagi mengirimi aku pesan seperti orang mengabsen. Dan sampai saat ini Bli Wira benar-benar tidak pernah menghubungiku. Entah kenapa aku merasa menjadi sepi, separuh hati dan semangatku terasa mati dan pergi. Ada kerinduan yang tidak bisa kutahan. Ada kekhawatiran yang tidak bisa aku sembunyikan. Aku begitu ingin tahu kondisi Bli Wira. Apakah dia baik-baik saja? Aku begitu ingin berbicara dengannya.

 

Seharusnya aku senang dan tenang. Bli Wira sudah tidak menghubungiku. Bukankah itu yang aku inginkan dalam kemarahanku selama ini? Seharusnya aku tinggal belajar melupakannya selamanya.

 

Tapi nyatanya tidak, nyatanya aku tidak tenang. Aku merasa lebih menderita melewati hari tanpa sapaan Bli Wira, tanpa kata sayang dan cinta dari Bli Wira. Malam pun aku tak bisa memejamkan mataku tanpa kata pengantar tidur “ Selamat malam, Lusi. Selamat beristirahat dan mimpi yang indah.”

“Berjauhan dan hilang kata denganmu sungguh menyiksaku, Bli. Apakah kau masih merindukan aku Bli Wira? Atau kau sudah bahagia dengan yang lain?” batinku meratap.

 

Aku berusaha mengakhiri lamunanku, dan kembali konsen ke pekerjaanku. Selama tiga bulan semenjak aku bermasalah dengan Bli Wira aku merasa kinerjaku buruk dan menurun.

“ Semangat Lusi! Kamu bisa melewati ini semua, kamu pasti bisa bertahan”membatin kusemangati diriku sendiri.

 

Sebelum aku menyentuh tumpukan-tumpukan map di mejaku, sekali lagi tanganku refleks membuka ponselku, tetap berharap ada pesan darinya. Rupanya aku harus kecewa, dan mungkin pesan itu memang tak akan pernah datang lagi. Entahlah. Aku jauhkan ponselku dari hadapanku. Aku tak ingin terus melihatnya dan berujung kecewa.

 

“ Lusiiii…kamu sudah ada buka FB hari ini?” pita berteriak dari tempat duduknya yang berjarak satu meter saja dariku.

“ Belum. Memangnya ada apa sih?” sahutku datar

“ Dasar kamu cewek gak romantis ah. Tapi kamu beruntung banget punya cowok seromantis Bli Wira lho. Coba buka FB mu buruan dan lihat postingan Bli Wira.” perintah Pita kepadaku.

 

Semua mata di ruangan ini tertuju kepadaku. Dan semua tangan sontak mengambil ponsel mereka masing-masing. Dengan cepat aku raih ponselku dan buka FB Bli Wira….

BACA JUGA  Cerpen : Sandal Dekil Itu

[ Setahun yang lalu, di tanggal ini dan di jam ini pula, aku pegang jemari lembutmu. Sambil menatap mata indahmu dan menikmati senyum manismu, aku katakan aku sayang padamu, aku mencintaimu. Maukah kamu jadi belahan jiwaku dan kupanggil Sayang? Dan di hari ini sekali lagi aku katakan padamu aku menyayangi dan mencintaimu Lusiana Saraswati. Kau belahan jiwaku.]

Bli Wira…..aku tak percaya ini. Kau lalukan ini. Kau posting semua isi hatimu. Kau membuatku tak bisa berkata, selain merasa istimewa dan bahagia.

“ Cie-cie yang lagi anniversary,” goda semua teman-temanku. Aku yakin mereka juga habis ngelihatin postingan Bli Wira. Aku hanya bisa tersenyum malu dan ada setitik air bening di sudut mata. Ada sesal dihatiku telah begitu mudah memvonis Bli Wira. Harusnya kepercayaanku padamu tak pernah goyah Bli. Maafkan aku Bli Wira.

 

“ Mbok Lusi ada seseorang mengirim ini untukmu” salah satu cleaning service di kantor kami menyodorkan sebuah kardus lumayan besar kepadaku. Aku minta dia untuk menaruh kardus itu di atas mejaku, dan dengan cepat aku buka tutupnya.

 

Ternyata isinya adalah kotak-kotak kecil berisi mpek-mpek dari restoran Es Teler 77. Ya Tuhan aku segera bisa menebak kalau ini adalah dari Bli Wira. Disanalah dulu dia bilang sayang kepadaku. Ada sebuah pesan di dalam kardus itu…

[ Selamat makan siang Lusiana Sayang. Bli kirimkan ini untukmu dan teman-teman di ruanganmu. Semoga semua kebagian. Wira.]

Bli Wira…aku terharu. Ternyata aku belum kehilanganmu, ternyata engkau masih bersamaku.

 

“ Wah rupanya ini Sabtu yang beruntung teman-teman, kita makan siang bersama untuk ngerayain anniversarynya Lusi dan Bli Wira tersayangnya,” goda Pita kepadaku dan tanpa dikomando dia bagikan semua makanan itu kepada semua teman di ruangan ini.

 

“ Teman-teman semua selamat makan siang ya, maaf aku permisi keluar sebentar saja ya” kataku kepada semua dan dengan tergesa aku melangkah ke arah parkir mobil. Hatiku mengatakan Bli Wiraku ada di sekitar sini.

 

Dan benar saja, begitu aku sampai di parkiran mobil, mataku segera menangkap sosok yang sedang menyandarkan badannya di samping mobil. Sosok yang sudah teramat sangat aku rindukan. Dia tersenyum kepadaku. Aku berjalan cepat kearahnya. Tak tertahankan aku memeluknya begitu sampai di hadapannya. Didekapnya aku dengan lembut. Tak kupedulikan pasang-pasang mata yang menatap kami.

“ Love you, Sayang” bisik Bli Wira pelan sambil mengecup keningku cepat. Dibukanya pintu mobilnya dan mengambil segenggam benda merah kesayanganku, mawar-mawar merah favoritku. Betapa aku telah menemukan kembali kebahagiaanku yang hilang ditelan cemburu butaku. Terimakasih Bli.

BACA JUGA  Cerpen : Siapa Perempuan Itu, Bli? #3

 

“ Tuan Putriku yang semakin cantik, maukah hari ini engkau makan siang bersamaku?”tanya Bli Wira.

“ Tapi ini belum jam pulang Bli. Aku gak enak izin mendadak” jawabku dengan berat kepada Bli Wira.

“ Sayang kamu lupa ya ini hari Sabtu, kamu cuman setengah hari kerja. Dan ini memang sudah jam kamu untuk pulang.”

Ya Tuhan, aku sampai lupa kalau ini hari Sabtu.

“Ambil tasmu, dan Bli tunggu di sini ya” kata Bli Wira tegas.

“ Mobilku gimana Bli?”

“Nanti akan ada yang membawanya pulang, titipkan kuncinya di sekurity. Bli sudah mengaturnya” Bli Wira meyakinkanku.

 

Kembali aku masuk ke ruangan kerjaku dengan seikat mawar merah masih ditanganku. Aku merasakan kehangatan merasuki seluruh sel dalam tubuhku. Hatiku begitu berbunga-bunga dipenuhi rasa keindahan yang hakiki. Semua teman kerjaku ramai-ramai menggodaku. Semoga hari ini mereka pun sedang bahagia dengan pasangannya masing-masing. Aku kemasi barang-barangku, merapikan meja kerjaku, dan berpamitan keluar dengan mereka semua.

 

***

 

“ Bli, maafin aku ya. Sudah menyakiti perasaanmu sekian lama. Maafkan aku yang telah dikuasai emosi,” aku membuka percakapan dengan Bli Wira ketika mobil mulai melaju meninggalkan kantor.

“ Sayang, Bli yang banyak bersalah. Kamu pasti tersiksa dengan keadaan kemarin. Maafkan Bli ya yang lambat menjelaskan, yang lambat datang, yang kurang berusaha keras untuk memahamimu, dan yang kurang mengatakan aku mencintaimu. Hari ini aku ingin bilang i love you sebanyak yang aku bisa, dan seterusnya akan begitu,”

“ Hari ini Bli ingin mengulang semua bahagia kita, aku ingin melihat senyum Lusiku. Kita makan siang di tempat itu ya, di meja yang sama, dengan menu yang sama. Setelah itu kita nonton, tapi filmnya tentu gak bisa sama he he,” Bli Wira tertawa kecil menggodaku. Dan aku hanya bisa mengulang hal yang sama, memandangi wajahnya.

 

Dia genggam tanganku erat sepanjang langkah kaki kita menyusuri mall menuju lantai tiga tempat restoran di mana kita ingin mengulang cerita. Dan aku hanya bisa menikmati sensasi kasih sayang yang mengalir dari genggaman tangannya itu. Sesekali dia menoleh ke arahku dan pandang kami beradu. Entah orang mau bilang aku bodoh atau terperdaya atau budak cinta, tapi untuk saat ini aku memutuskan untuk mengikuti hati nuraniku. Bahwa Bli Wira mencintaiku dengan tulus, bahwa ada kejujuran di matanya. Untuk masalah perempuan itu pasti akan ada penjelasan yang bisa kuterima, aku hanya perlu mengontrol kemarahan dan cemburuku.

 

Sesampainya di restoran, kembali aku terpana dan tak bisa berkata. Meja di sudut teras restoran ini, meja tempat kami dulu membuka hati dan cinta, meja itu kini telah terhias dengan bunga-bunga indah, tampak mencolok sendirian. Rupanya Bli Wira telah mempersiapkan semuanya.

BACA JUGA  CERPEN : SIAPA PEREMPUAN ITU, BLI? #2

 

“ Terimakasih, Bli,” kataku pelan dan terbata ketika Bli Wira menarik kursi untuk kududuki.

“ Sama-sama Sayang. Love you,”sekali lagi aku menerima kecupan sayangnya yang begitu mendalam.

 

Setelah itu tiba-tiba dia berlutut di hadapanku, dan mengeluarkan kotak kecil dari saku celananya. Dibukanya kotak kecil itu, dan isinya tentu saja impian semua wanita di dunia. Sepasang cincin.

 

“ Setahun yang lalu aku bertanya maukah kau jadi pacarku, dan sekarang aku bertanya maukah kau jadi pendamping hidupku Lusi, sampai kakek nenek, sampai semesta memanggil kita. Maukah kau jadi ibu untuk anak-anakku?”penuh kelembutan dan keyakinan Bli Wira mengucapkan kata-kata terindah itu.

“ Iya, Bli” hanya itu kata yang mampu aku ucapkan. Aku tak mampu berkata-kata.

“ Semoga kamu suka dengan motifnya Sayang,” disematkannya cincin indah bermata putih itu di jari manis tangan kiriku. Dan setelahnya giliran aku yang memakaikan cincin di jari bli Wira.

 

Kami saling mengucapkan terimakasih, saling tersenyum dan saling menatap penuh arti.

 

Belum sempat aku berkata-kata, dua orang waitress sudah membawakan menu kami. Menu yang sama, dua porsi mpek-mpek, seporsi besar kentang goreng, segelas juice alpukat untukku dan segelas hot lemon tea untuk Bli Wira.

“ Selamat makan Lusi Sayang. Itu semua harus di habiskan ya. Bli tidak mau kamu kurus seperti ini. Ibu bilang kamu jarang makan di rumah,hmmm”

“ Ibu? Ibuku yang Bli maksud?” oh my God ternyata selama ini rupanya Bli Wira selalu memantau kondisiku lewat ibuku. Kami menikmati makan siang ini dengan penuh canda tawa, dan kadang mungkin dengan tambahan tomat merah yang tercipta di pipiku saat aku malu dengan godaan-godaan dari Bli Wira….

 

♥️♥️

Hubungan mungkin tidak akan selamanya selalu berjalan mesra, tetapi hari ini aku bersyukur telah mengikuti kata hatiku, mempercayai cinta Bli Wira. Dia berhak punya masa lalu seperti aku juga punya masa lalu. Pertengkaran juga pasti akan selalu ada dan biar itu menjadi pelengkap cinta kita, untuk menambah rindu dan mesra saat kita tak saling bicara.

 

Bli, hari ini aku tidak bisa memberimu apa-apa, aku hanya punya janji dalam hatiku untuk berusaha menjadi lebih dewasa, untuk menjaga cintamu, dan untuk selamanya berada di sampingmu. Love you, Bli Wira tersayang.

❤️❤️

 

By : Gita Hati in Bali, 8 Oktober 2020

 

 

 

 

 

Facebook Comments

Agus Hendrawan

Merupakan salah satu tim dari BaliNews.id