Cerpen : Siapa Perempuan Itu, Bli? #3

BaliNews.id – Sebulan sudah berlalu semenjak peristiwa itu. Aku masih tetap bersama dengan Bli Wira. Kebersamaan yang tak lagi sama, kebersamaan yang sudah berbeda. Meskipun hatiku sakit dan pikiranku sering panas, aku masih mencoba untuk tetap bertahan dengan Bli Wira.

 

Aku tetap Lusiana Saraswati, yang meskipun terluka tetap memiliki cinta buta dan cinta mati untuk Bli Wira. Aku berusaha, dan berjuang untuk tetap percaya kepadanya. Dan ini adalah masa – masa yang sangat sulit bagiku.

 

Pikiranku tidak mudah menerima hal ini, ada kemarahan dan tanda tanya besar yang selalu mengikuti kemanapun aku pergi. Aku menjadi sangat posesif, selalu ingin tahu ke mana Bli Wira pergi. Aku dihantui kecurigaan mungkinkah mereka lagi bersama saat ini? Bukankah mereka sedang terlibat pekerjaan yang sama? Benarkah itu pure pekerjaan? Hati perempuan mana yang tidak akan berdebar gelisah bila tahu kekasihnya sering bersama wanita yang tergila-gila kepadanya?

 

Tak ayal pertemuan-pertemuanku dengan Bli Wira hanya diwarnai pertengkaran dan pertengkaran. Kapan pun aku bertemu dengannya, perempuan itu selalu menghubunginya. Entah lewat chatting atau pun menelpon. Sering kemarahanku tak terkendali, beradu argumen tak akan terhindarkan. Tak ada lagi pertemuan romantis di antara kami. Yang ada hanyalah luapan-luapan emosiku dan dengan segala kesabarannya Bli Wira berusaha bertahan untuk tetap tenang, meskipun kadang dia pun menyerah dengan emosinya bila aku sudah keterlaluan dikuasai amarah dan prasangka.

BACA JUGA  Cerpen : Siapa Perempuan Itu, Bli? #1

 

“ Bli apa sebenarnya yang sedang Bli sembunyikan dariku? Kenapa Bli tetap berhubungan dengan perempuan itu? Sebegitu pentingkah pekerjaan itu bagi Bli Wira, sehingga rela dan tega membuat aku tersiksa sepanjang waktu, dihantui rasa curiga dan cemburu?”pertanyaanku di salah satu pertemuan kita.

“ Lusi, proyek ini sangat penting bagi Bli. Ini semua Bli lakukan demi masa depan kita. Percayalah, Lus. Aku bisa menjaga diri. Aku akan menjaga semua kepercayaan yang kamu berikan. Bila sudah selesai pekerjaan ini, Bli berjanji nggak akan berhubungan lagi dengan Sukma. Tolong Sayang jangan bikin aku serba salah.”

“ Aku sudah mencobanya Bli, tapi ternyata aku nggak sanggup. Aku nggak kuat lagi berada di keadaan ini.”

 

“ Bli Wira, maafkan aku. Terpaksa aku memberimu pilihan. Kamu pilih aku atau pilih tetap bekerja dengan perempuan itu?” kulontarkan kata-kata emosiku di suatu kesempatan bersamanya.

“ Lusi, bagiku kamu bukan suatu pilihan. Kamu adalah masa depanku. Kamu adalah tujuanku. Kamu sangat berarti bagiku. Jadi aku tidak akan memilih,” Bli Wira menjawab dengan tegas, tapi aku bisa merasakan ada sedih dalam nada Bli Wira.

“ Sudahi amarahmu. Bli tahu sudah mengecewakanmu. Melihatmu sakit seperti ini, Bli jauh merasa lebih sakit. Niatku sangat ingin membahagiakan kamu, seperti selama ini kamu sudah membahagiakan Bli. Tapi nyatanya aku membuatmu seperti ini.”

 

***

 

Dia Wira Satya Mahardika. Masih lelaki yang sama, seperti pertama kali aku mengenalnya satu setengah tahun yang lalu. Lelaki yang selalu berkata lembut dan sopan kepada siapapun. Lelaki yang tidak bisa berkata kasar sekalipun dalam puncak kemarahannya. Sekaligus lelaki yang tidak bisa mendengar orang lain berkata kasar kepadanya. Tapi belakangan aku sudah terus uring-uringan kepadanya. Dan pasti ini membuatnya sangat terpukul dan luka.

BACA JUGA  Romantisme; Cerita Yang Tak Pernah Usai

 

Seberapa pun hari kemarin kita lewati dengan sangat buruk, namun Bli Wira tak pernah lupa menyapaku setiap pagi. Meskipun kadang aku tak menghiraukan semua sapaannya, dia tak pernah lupa memberi kabar sepanjang hari. Tak ada yang berubah tentang perhatiannya kepadaku, semua masih sama seperti satu tahun yang lalu. Apakah aku sudah keterlaluan? Kemana kelembutanmu Lusiana!!!

 

“ Sayang, kembalilah tersenyum. Aku butuh dukungan semangat darimu. Jangan warnai lagi hari kita dan pertemuan kita ini dengan perdebatan. Please. Aku butuh kamu, Lusi.”

“ Bagaimana aku bisa tenang dan tersenyum Bli, setelah semua ini,”sungutku kepada Bli Wira di suatu makan siang kami. Hari itu dia menjemputku di kantor untuk sekedar makan siang bersama.

“ Beri aku waktu ya Sayang. Beri aku waktu untuk menyelesaikan semua ini. Kembalilah seperti Lusianaku yang dulu. Lusiana yang membuatku merasakan arti cinta kembali, Lusiana yang membuatku bersemangat lagi menjalani hidup ini.”

 

Sejujurnya aku pun sudah lelah dengan semua ini. Sejujurnya aku pun rindu dengan semua romansaku yang dulu bersama Bli Wira.

BACA JUGA  Rindu Si Kecilku

“ Maafin aku, Bli. Sudah sangat sering menyakitimu,” katanya pelan penuh penyesalan.

 

Diraihnya tanganku, digenggamnya erat. Kita saling memandang dalam keharuan, dan sudah dipastikan melelehlah airmataku. Aku memang tipe wanita yang mudah menanggis entah diwaktu sedih, terharu ataupun diwaktu puncak kemarahan. Dan kami pun saling tersenyum…

 

Ting. Ting

Ya Tuhan, apalagi ini? Belum selesai bibir ini tersenyum, lirikan mataku kembali tertuju ke ponsel Bli Wira di atas meja makan tempat kami menunggu menu kami disajikan. Dan aku melihat nama perempuan itu lagi!!

 

Tanpa permisi ke Bli Wira, aku ambil ponselnya dengan cepat. Aku buka pesan-pesan itu, dan seketika mendidihlah darahku sampai ke puncak ubun-ubun!!

 

Selama tiga bulan aku berjuang mendamaikan hati, merajut kepercayaan yang sudah koyak, menganggap ini ujian sebuah hubungan. Tapi ternyata apa??

 

Ini sudah sangat tidak benar, ini sudah sangat keterlaluan! Hubungan kerja macam apa yang isi percakapannya penuh dengan curahan hati dari perempuan itu, bahkan permintaan dibelikan ini dan itu. Jadi selama tiga bulan ini seperti itu percakapan kalian?

 

“ Bli Wira!! Kita putus!! Aku tak mampu lagi mempercayaimu!! Kau keterlaluan!!”

 

Tega kau Bli Wira, tega sekali kau lakukan ini kepadaku. Teganya dirimu Bli….

 

To be continue….

 

By : Gita Hati in Bali, 23 September 2020

Facebook Comments

Agus Hendrawan

Merupakan salah satu tim dari BaliNews.id