CERPEN : SIAPA PEREMPUAN ITU, BLI? #2

BaliNews.id

Ting. Ting. Ting

Kulirikkan mataku ke arah ponselku. Pesan dari lelaki itu. Entah sudah berapa puluh pesan yang dia kirimkan semenjak kemarin sore itu, pesan- pesan yang belum aku buka sama sekali. Dan entah berapa puluh kali dia menelpon, telpon yang tidak pernah kuangkat dan kujawab.

 

Pagi sudah menjelang, mentari menyapa hari ini penuh kehangatan. Mentari yang tak akan pernah ingkar janji. Mentari yang akan selalu datang memberikan kehidupan meskipun tanpa ada yang meminta. Mentari yang sama, mentari pagi  yang kemarin begitu kunanti, namun hari ini enggan kusambut hadirnya.

 

Ting. Ting. Ting

Sekali lagi pesan lelaki itu terpampang di layar ponselku, “ Lusiana Sayang, tolong angkat telponku atau bacalah wa ku. Aku sangat mencemaskanmu. Tolong Sayang, jangan bikin aku begini khawatir.”

“ Terimakasih, Tuhan. Terimakasih Sayang, kamu mau membuka wa ku,” tulisnya cepat begitu aku buka ratusan pesan-pesannya semenjak kemarin sore.

 

Akhirnya aku memberanikan diri membuka pesan-pesan lelaki itu. “Lelaki itu” begitulah pikiranku menyebutnya saat ini. Tapi benarkah secepat itu dia asing dimataku?

“ Kasi aku kesempatan untuk menjelaskan semua kepadamu. Kita ketemu ya hari ini, Bli ke rumahmu. Percayalah, Sayang. Semua tidak seperti yang kamu kira.”

 

Hatiku bergetar, tak terasa airmataku kembali tumpah. Aku baca semua pesannya, ada keharuan di sudut hatiku. Keharuan yang sedikit mengikis rasa marahku, rasa kecewaku, rasa sakitku, rasa curigaku dan semua rasa yang telah bercampur aduk menjadi satu seperti benang kusut yang tak berujung atau berpangkal.

 

Aku kembali terisak, ada rasa bersalah telah membuatnya begitu khawatir. “ Maafkan aku, Bli Wira” aku membatin. Pikiranku menyebutnya lelaki itu, ternyata dalam hatiku dia tetap Bli Wira ku, orang yang tidak pernah ingin kusakiti, sekalipun dalam alam mimpi.

 

“ Sayang, katakan iya. Kita ketemu ya. Tolong. Bli ke rumahmu jam 9. Bli nggak kerja hari ini. Please balas, Lusi,” kembali dia mengirim pesan.

BACA JUGA  Cerpen : Siapa Perempuan Itu, Bli? #1

 

Tiba-tiba aku teringat bukankah harusnya pagi ini dia ada meeting penting dikantornya?

“ Kita ketemu lain kali saja, bukankah Bli Wira ada meeting pagi ini? Jangan sampai batal,” cepat aku balas pesannya.

 

Oh Tuhan, ternyata aku masih begitu peduli padanya.

 

Sudah menjadi budak cintakah aku ini? Berhati lemahkah aku ini? Ke mana rasa sakitku yang semalaman menderaku? Bukankah sudah jelas ada orang lain yang memanggil dia sayang?

 

“ Nggak, meetingnya sudah Bli batalin dari kemarin sore. Kamu lebih penting dari apapun. Gimana Bli bisa konsen kerja kalau kamu belum baik – baik saja. Kamu adalah moodku, kamu adalah semangatku. Kamu pasti sudah tahu itu kan? You are my everything, Lusiana. Aku sangat mencintaimu.”

 

Hatiku meleleh. Kemarahanku merapuh. Akal sehatku pun mulai terdengar. Aku memutuskan untuk bertemu dan memberi dia kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Jujur ada rasa takut dihatiku, bagaimana kalau kenyataannya memang dia telah menduakan aku? Sanggupkah aku mendengarnya, sanggupkah aku pergi darinya?

 

Sambil menunggunya, memoriku berkelana, mengingat semua kasih sayangnya, kepeduliannya, ketulusannya, dan perjuangannya demi aku. Sungguh cinta yang sempurna. Mungkinkah saat ini aku hanya salah paham dan terburu emosi? Mungkinkah perempuan itu hanya masa lalunya? Bukankah semua orang punya masa lalu? Ahh, semua tanya ada dibenakku.

 

Aku dan Bli Wira telah bersama. Kami memilih duduk di tepi pantai yang lumayan jauh dari keramaian. Aku tak berani menatapnya, mataku masih membengkak. Aku pun tak bersuara, setiap aku mencoba bersuara hanya bulir bening yang kembali menetes di kedua sudut mataku. Aku tidak ingin menatapnya, karena semut – semut disekitarku dan dedaunan yang berjatuhan disekelilingku pun mengerti bila aku menatapnya aku akan larut dalam teduh pandang matanya. Aku takut hatiku akan semakin melemah. Aku harus berpura-pura kuat dihadapannya untuk saat ini.

BACA JUGA  Cerpen : Sandal Dekil Itu

 

“ Sayang, kenapa menyiksa diri seperti ini. Kenapa tidak mau mendengar penjelasanku dari kemarin?” Bli Wira memulai membuka kebisuan diantara kami.

“ Lihatlah kedua matamu sampai bengkak seperti ini. Aku pun tidak bisa memejamkan mataku selama semalam. Aku sangat khawatir terhadapmu,” diraihnya tangan kananku dengan lembut, dia genggam dengan erat dan dia sentuh dengan bibirnya penuh kelembutan.

 

Anehnya aku diam saja. Anehnya aku menurut saja. Sudah gilakah aku? Sudah tak waraskah aku? Apa yang ada dibenak Bli Wira tentang aku? Andai dia memang menduakan aku, pasti dalam hatinya sedang mentertawakan kebodohanku. Lusiana… please jangan lemah dan mempermalukan kaum wanita!!

 

“ Kasi aku kejelasan Bli, siapa perempuan itu? Siapa Sukma itu, Bli? Tega sekali kamu membohongiku selama ini. Kenapa dia memanggilmu sayang? Kenapa dia mengatakan jangan block dia. Kenapa Bli?” terisak-isak penuh rasa emosi akhirnya aku mampu bertanya.

 

“ Sayang, please jangan menanggis. Aku tidak tega melihatmu seperti ini. Aku akan jelaskan semuanya. Tapi izinkan aku sambil memelukmu dan menyayangimu. Aku ingin kamu merasakan detak jantungku dan rasa kejujuranku.”

Direngkuhnya kepalaku dalam pelukannya, belain lembut tangannya meluluhkan sukmaku, menenangkan emosiku. Aku hanya bisa menurut dan semakin tergugu dalam dada kekarnya.

“ Lusi, selama kita kenal selama kita jalan bersama, aku tidak pernah menyembunyikan apapun darimu. Semua masa laluku, semua hal tentangku sudah satu persatu aku ceritakan kepadamu. Dulu aku begitu tertutup sama orang lain. Hanya denganmu aku bisa terbuka dan menceritakan apa saja tentangku, kecuali satu ini yang belum aku ceritakan. Aku sedang menunggu waktu yang tepat dan cara terbaik menceritakannya kepadamu. Aku takut kamu salah paham. Dan ternyata kamu tahu dengan cara yang tidak tepat.”

“ Maafkan Bli, Sayang. Lambat bercerita tentang hal ini dan membuatmu menanggis seperti ini.”

BACA JUGA  Cerpen : Siapa Perempuan Itu, Bli? #3

 

****

“ Sukma itu dulu adalah teman kerjaku di perusahaan yang lama. Sekitar tujuh tahun kita bekerja di perusahaan yang sama, di divisi yang sama. Setiap hari aku bertemu dengannya. Kita menjadi teman karib. Sampai Bli mengalami masalah keuangan dan keluarga. Saat itu Bli sangat down, dan Sukma datang sebagai teman bercerita. Bli hanya menganggapnya teman karib, tapi ternyata dia punya perasaan lebih ke Bli. Akhirnya Bli mulai menjauh darinya. Tapi dia terus mengejarku. Bli merasa terganggu, jadi Bli block  nomernya dan semua sosmednya.”

“ Aku sudah lama sekali tidak pernah komunikasi dengannya, Sayang. Percayalah. Semenjak denganmu,”dilepasnya aku dari dekapannya. Ditatapnya mataku lekat, seolah dia ingin mengatakan, lihatlah kejujuran ucapanku di kedua bola mataku Lusiana….

 

“ Lalu kenapa kemarin dia bisa menghubungimu? Apakah kemarin kamu lupa mem-block dia Bli?” tanyaku sinis dan emosi.

“ Seminggu yang lalu kebetulan aku mendapat tugas meliput di perusahaan lama. Mereka launching cabang baru. Dan ternyata Sukma yang diberi tugas mengurus launchingnya. Terpaksa aku komunikasi lagi dengannya. Dan aku akan komunikasi dengannya untuk beberapa Minggu ke depan. Mereka menyerahkan promo produk- produknya ke Bli. Kemarin aku ingin menceritakan ini kepadamu, tapi kamu udah terlanjur baca chat dari Sukma dengan cara yang salah,” panjang lebar Bli Wira memberi penjelasan.

 

Tiba – tiba kepalaku terasa sangat pusing dan berat. Mungkin karena aku tidak tidur semalaman, ditambah begitu banyak aku menanggis. Fisik dan batinku sangat lelah. Aku pun tidak tahu harus bagaimana menjawab penjelasan Bli Wira. Haruskah aku percaya begitu saja kepadanya? Meskipun aku akui aku percaya dengan semua kata-katanya. Tapi tetap saja kepala ini sangat berat, ada bagian dari pikiranku yang masih menyimpan tanya….Dan tiba-tiba pula perasaanku menjadi hampa.

 

To Be Continue…

 

By : Gita Hati in Bali, 18 September 2020

(ah)

Facebook Comments

Agus Hendrawan

Merupakan salah satu tim dari BaliNews.id