Cerpen : Siapa Perempuan Itu, Bli? #1

BaliNews.id – Harusnya aku tak mudah mempercayaimu Bli Wira. Harusnya aku memberi waktu pada diriku untuk mengenalmu terlebih dahulu sebelum aku memutuskan menerima cintamu. Harusnya aku tak mencintaimu sedalam ini Bli Wira. Dan berpuluh-puluh ” harusnya” berseliweran di benakku.

Raga ini masih lunglai, jantungku berdetak dengan cepat dan kacau, nafaspun masih enggan bersahabat. Bulir – bulir bening terus mengalir dari kedua sudut mataku, meskipun mataku telah membengkak dan pedih, tetap aku tak mampu menghentikan tanggisku.

Semua berawal dari kejadian dua jam lalu.

Hari ini aku sangat bersemangat, tadi malam ingin kulewati dengan cepat, ingin pagi segera menjelang, membayang indahnya pertemuan dengan Bli Wira. Lelaki pujaan hatiku. Lelaki tersempurna yang pernah aku temui di duniaku yang nyaris tanpa warna. Lelaki yang aku cintai dengan segenap hatiku.

Sembilan bulan sudah aku menjalin hubungan hati dan jiwa dengan Bli Wira. Aku katakan hubungan hati dan jiwa, karena aku begitu mencintainya dengan mendalam. Aku pun merasa dia mencintaiku tanpa cacat dan cela. Sungguh aku merasa Bli Wira adalah anugerah terbaik yang Tuhan berikan padaku. Dia menerimaku apa adanya, karena secara fisik aku bukanlah wanita istimewa. Parasku biasa – biasa saja, bodyku pun jauh dari kata seksi apalagi sempurna. Tapi iya aku punya cinta yang tulus, setulus kasih ibu. Aku punya setia yang menjadi prinsip hidupku.

Seminggu sudah kami tak bertemu. Bli Wira sibuk dengan pekerjaannya dan aku pun sibuk dengan pekerjaanku. Pekerjaan dia sebagai jurnalis yang terus dikejar deadline berita, membuatnya kadang tak punya waktu untuk diriku bahkan untuk dirinya sendiri. Dan pekerjaanku sebagai marketing pun sama, selalu dikejar target yang sering membuatku kelimpungan kerja siang malam.

” Sayang, siap – siap ya. Nanti dari meliput aku langsung jemput sayang di rumah jam 11.00 ya?” suara Bli Wira di ujung telfon.

 ” Iya Bli, ” sahutku penuh kebahagiaan.

 ” I miss you. I love you. Tunggu aku ya, Sayang. Aku tutup dulu telpnya.” Bli Wira mengakhiri percakapan kami.

BACA JUGA  Cerpen : Sandal Dekil Itu

Segera anganku melayang, terbang melewati awan, membayangkan paras rupawan Bli Wira. Berkulit coklat bersih, senyumnya yang menawan, dan suara lembutnya yang membuatku selalu rindu. Sosok lelaki yang penuh kelembutan, namun ketegasannya tak perlu diragukan. Ingin segera aku memeluknya erat, memejamkan mataku dalam dekapannya, dan hanyut dalam cintanya.

*****

Pukul 11.00.

Aku sudah siap. Aku berdandan secantik yang aku bisa, karena aku memang tipe wanita yang tidak bisa berdandan. Sudah dari kemarin sore aku ke salon untuk creambath dan merapikan alisku, selepas kita janjian akan bertemu. Hari ini aku ingin terlihat cantik dan segar di mata Bli Wira. Kugunakan dress terbaikku. Dress polos berwarna merah maroon, dengan kerutan di pinggang, dan belahan dada rendah yang membuatku tampak lebih seksi.

 

Entah kenapa sambil menunggu Bli Wira menjemputku, diantara perasaan bahagiaku, tiba – tiba terselip sebuah perasaan tidak nyaman di hatiku. Aku merasa seperempat bahagiaku tiba – tiba menguap entah kemana .

” Kenapa sih, Bli. Kok kamu lihatin aku seperti itu? Ada yang salah ya sama penampilanku? ” Tanyaku pada Bli Wira ketika kami sudah berada di mobil.

” Nggak, Sayang. Nggak ada yang aneh.” Jawab Bli Wira sambil tersenyum dan menatapku.

” Hari ini kamu cantik banget. Akhirnya aku bisa ketemu bidadariku. Aku kangen sekali sama kamu,” lanjut Bli Wira sambil tangan kirinya meraih jemari tangan kananku dan mencium tanganku mesra. Seketika terasa ada kehangatan menjalar ke seluruh tubuhku.

” Kita mau ke mana, Bli? ” tanyaku pada Bli  Wira sambil menyandarkan kepalaku di bahunya, rutinitas yang selalu kulakukan kepadanya dikala berdua di dalam mobil. Aku tidak tertarik pada pemandangan apapun di sepanjang perjalanan ketika kami bepergian. Menyandarkan diri dibahunya sambil mendengarkan ceritanya adalah hal ternyaman bagiku menikmati indahnya kebersamaanku dengannya.

” Bli lapar, kita cari makan dulu ya? Setelah itu aku akan antar kemanapun tuan putriku mau pergi. Hari ini semua waktuku hanya untukmu saja, Lusiana Sayang.” Kata Bli Wira lembut sambil mengelus rambutku dengan penuh rasa sayang.

BACA JUGA  Cerpen : Sandal Dekil Itu

Aku tidak menjawab. Aku hanya menatapnya sekilas, tersenyum mengangguk dan sambil memeluk erat lengan kirinya. Sesekali kepalaku bergoyang, mengikuti ritme tangannya dibalik kemudi.

“Kita makan siang di tempat biasanya saja ya? Biar rilex dan santai ” katamu mengambil keputusan. Sekali lagi aku hanya tersenyum dan mengangguk. Tempat makan yang dimaksud Bli Wira adalah rumah makan saung yang dikelilingi kolam teratai cantik dengan pemandangan hijaunya persawahan di pinggiran kota kami, Denpasar.

” Bli, Bli mau makan apa? ” Tanyaku pada Bli Wira sambil membolak-balik buku menu. Kami beruntung hari ini, dapat saung yang dipojok dengan view yang sempurna untuk bersantai. ” Bli ngikut aja, yang penting hari ini Bli dapat disuapin sama kamu,” jawab Bli Wira sambil menaruh tas dan ponselnya di atas meja.

Saat bersama denganku, Bli Wira punya gayanya tersendiri bermanja denganku. Setiap makan selalu ada sesi minta disuapin, dan ini sering membuatku terharu. Betapa aku merasa sangat dia cintai dan bisa menjadi obat segala lelah letihnya setelah sekian lama bergumul dengan pekerjaan.

” Sayang, aku mau ke toilet dulu ya? ” Kata Bli  Wira sambil ngeloyor pergi. ” Iya, ” sahutku sambil menulis daftar menu pesanan kami.

Ting. Ting. Ting

Ponsel Bli Wira berbunyi. Tumben dia tidak membawa ponselnya. Padahal biasanya ponselnya bagi dia adalah seperti nyawanya, dia bawa kemanapun dia pergi. Sembilan bulan berpacaran dengannya, dan sembilan bulan pertemanan dengan dia, aku sama sekali tidak pernah melihat isi ponsel Bli Wira. Begitu pun dia tak pernah melihat ponselku.

Entah kenapa hari ini aku penasaran dengan ponsel Bli Wira. Aku longgokkan kepalaku ke ponsel itu. Aku mengintip beberapa pesan whattapp yang masih terpampang nyata di layar notifikasi. Dan seketika tanganku gemetar. Seketika aku tak mampu berpikir. Seolah hilang semua isi kepalaku. Aku linglung. Lidahku kelu. Tapi aku tidak menanggis. Kutaruh kembali ponsel Bli Wira di tempatnya semula.

BACA JUGA  Cerpen : Sandal Dekil Itu

” Sayang, kamu sudah pesen makanannya? Kok malah benggong gitu. Ada apa, Hmm??” Tanya Bli Wira ketika kembali ke lesehan kami. Aku tidak menjawab, aku masih tetap linglung. Aku hanya menatapnya dengan dalam. Berusaha mencari kebenaran lewat ke dua bola matanya yang penuh kelembutan. Masih terbayang tiga bunyi pesan di ponsel Bli Wira…

Sayang. Sayang.

Tolong jangan begini.

Jangan block aku. Buka wa nya. Yang…..

Begitu isi wa yang aku lihat di ponsel Bli Wira dengan nama pengirim jelas nama seorang wanita.

” Bli, aku belum pesan makanan. Bli, boleh aku pinjam ponselmu sebentar? ” Setelah beberapa menit, akhirnya aku mampu bersuara. Bli Wira memandangiku dengan kebingungan, dan dia berkata, ” Boleh, Lusi mau lihat apa?” . Bli Wira sepertinya belum melihat apapun, dan segera dia menyerahkan ponselnya. ” Pin-nya , Bli? ” tanyaku sambil menerima ponselnya ” Tanggal dan bulan lahirmu.  “

Dengan gemetar aku membuka ponsel Bli Wira untuk pertama kalinya. Aku cari aplikasi whattappnya. Dan begitu aku buka chatt sebuah nama, alangkah terkejutnya aku. Nama itu dengan percaya diri mengirim lebih banyak pesan, yang isinya aku tidak bisa mempercayainya.

Saat itu aku berharap aku bisa menanggis atau pun berteriak. Nyatanya aku hanya mampu diam, terkulai kusut dan lesu. Bli Wira segera mengambil ponselnya dari tanganku. ” Siapa Sukma itu, Bli? ” Hanya itu kata yang bisa keluar dari mulutku. Giliran Bli  Wira yang kini panik, dan pucat.

” Antarkan aku pulang, Bli.” Itulah kata terakhir yang aku ucapkan pada Bli Wira.

” Lusi, Lusiana. Tolong dengarkan penjelasanku. Semua tidak seperti yang kamu kira. Tolong, Sayang. Tolonggg!!” Sayup  sayup terdengar Bli Wira memohon ketika aku menutup pintu gerbang rumahku.

To Be Continue…

By : Gita  Hati in Bali, 7 September 2020

(ah)

Agus Hendrawan

Merupakan salah satu tim dari BaliNews.id