Cerpen : Sandal Dekil Itu

” Lumpiang, Lumpiang, ” suara yang rutin aku dengar setiap hari, setiap sekitar pukul dua siang.

Sudah sekitar lima bulan ini, semenjak Pandemi melanda, aku hanya tinggal di rumah saja. Pariwisata Bali telah lumpuh total, mau tak mau sebagai seorang guide aku pun harus kehilangan pekerjaanku. Dan selama lima bulan ini pula, aku mendengar suara ” Lumpiang, Lumpiang ” setiap hari melewati depan rumahku. Sesekali aku membeli Lumpiang ini lewat tangan anak – anakku. Aku belum pernah keluar langsung dan melihat wajah sang penjual Lumpiang.

” Lumpiang, Lumpiang,” siang ini suara itu sayup – sayup mulai terdengar dari gang di samping rumahku. Dari suaranya, aku bisa mengira bahwa penjual Lumpiang ini masih muda, atau bahkan mungkin masih remaja.

” Kalian mau beli Lumpiang? ” tanyaku pada ketiga anakku yang semuanya sibuk dengan pekerjaannya. Si sulung yang sibuk terus belajar melukis sepanjang waktu, Si tengah yang terus asyik dengan bacaan dan tulisan – tulisan cerpennya, serta Si bungsu yang asyik dengan Mobil Legendnya.

” Mau, mau!! ” Jawab ketiganya kompak bersamaan.

” Lumpiang, Lumpiang, ” suara itu semakin mendekat.

” Ayo sana beli. Ini uangnya lima belas ribu. Masing-masing lima ribuan ya belanjanya. Penjualnya sudah dekat. ” Kataku pada anak-anakku seraya menyodorkan uang kepada ketiganya.

” Ah lagi nanggung ini, Bu. Ibu aja yang beliin kali ini, ” kata si sulung. ” Iya sama, Bu. Aku juga lagi nanggung mau berdiri. ” Sambung si tengah. ” Please, Bu. Ibu beliin buat kita ya, ” rayu si bungsu tak mau kalah dari kakak – kakaknya.

BACA JUGA  Cerpen : Siapa Perempuan Itu, Bli? #1

” Baiklah. Kalian ini! ” Kataku kepada ketiga anak – anakku.

****

Segera aku membuka pintu, dan keluar ke halaman. Aku lihat sesosok tubuh remaja lelaki kurus melintas di depan rumahku. Di atas kepalanya terdapat sebuah kotak kaca berisi Lumpiang, sama seperti kotak kaca para penjual Lumpiang yang sering aku lihat di jalan ataupun di pantai Sanur

” Nak, Lumpiangnya ya,” panggilku sebelum dia melangkah menjauh. Dia menoleh, mengangguk dan membalikkan badannya menuju halaman rumahku.

Segera dia menurunkan kotak kaca Lumpiangnya dari atas kepalanya. Tak sengaja aku refleks membantunya. Dan Oh Tuhan, alangkah terkejutnya aku. Kotak itu ternyata begitu berat. Jika aku yang membawanya di atas kepalaku, aku tidak tahu apakah aku mampu. Atau jika aku mampu, aku tidak tahu seberapa lama aku bisa membawanya sambil berjalan jauh.

Tiba – tiba saja hatiku terenyuh.

Akhirnya pandanganku bergerak mengamati seluruh tubuh remaja ini, dari ujung kepala sampai ujung kakinya. Dan sekali lagi hatiku berdebar ketika pandangan mataku jatuh ke dua kakinya. Kaki – kaki yang berwarna coklat ke putih-putihan. Kaki – kaki berkulit coklat yang berlumuran debu dengan alas kaki sepasang sandal jepit yang juga dekil bermandikan debu jalanan. Alas kaki yang sudah sangat tipis, bahkan nyaris rata dengan lantai. Naluri keibuanku menjerit.

” Ibu, Lumpiangnya campur atau gimana, Bu? ” Tanyanya padaku. Aku yakin dia sudah menanyaiku beberapa kali, tapi aku belum juga menjawabnya karena pikiranku masih terbenam dalam keterkejutan.

” Yang satu porsi campur, pakai cabe. Yang satu porsi lagi tempe aja ya, gak pakai cabe. Dan lagi satu tahu sama tempe, pakai cabe. ” Jawabku panjang sambil sedikit gelagapan.

BACA JUGA  CERPEN : SIAPA PEREMPUAN ITU, BLI? #2

Menunggu dia mempersiapkan pesananku, aku membalikkan badanku masuk ke dalam rumah. Aku mengambil dompetku yang tergeletak di atas meja. Dan bergegas aku keluar kembali. Pesanan pertama sudah ditanganku. Potongan –  potongan Lumpiang, tempe, tahu, ote – ote bersiram bumbu kacang hangat ditaburi irisan cabai hijau tampak menggoda menggugah selera.

Masih sambil menunggu porsi kedua, aku bertanya kepada remaja ini, ” Dari jam berapa sampai jam berapa, Nak, keliling jualan?”

” Dari pukul 10 pagi sampai pukul 4 sore, Bu. Atau sampai habis,” jawabnya sambil tangannya cekatan memotong – motong tahu dan tempe pesananku. ” Kalau nggak habis gimana, Nak? Selama kurun waktu itu, Adik terus berjalan keliling? “, aku nyerocos bertanya

” Iya, Bu. Terus berjalan keliling sampai habis, ” jawabnya dengan suara sendu. ” Ini, Bu. Isinya tahu sama tempe saja, pakai cabai. ” Dia menyerahkan porsi terakhir pesananku.

Bersamaan dengan itu, berhamburan ketiga anakku ke halaman, mengambil porsi Lumpiangnya masing-masing.

” Nak, ini uangnya, ” aku sodorkan tiga lembar uang ke arahnya. Selembar lima puluh ribu, selembar sepuluh ribu, dan selembar lima ribu. ” Maaf, Bu. Tapi ini uangnya kebanyakan, ” setengah binggung dia menatap wajahku dengan tiga lembar uang ditangannya.

” Ambillah uang itu, Nak. Itu dari Ibu buat kamu. Simpanlah, ” kataku lembut dan meyakinkan dia. ” Jangan, Bu,” tolaknya dengan halus dan sopan.

” Ambillah! ” Sekali lagi aku menegaskan.

BACA JUGA  Cerpen : Siapa Perempuan Itu, Bli? #1

” Terimakasih banyak, Bu! ” Akhirnya dia menyerah, dan memasukkan uang ke dalam kantong uangnya. Ada rasa haru di hati kami berdua . Mungkin keharuan yang sama, mungkin juga keharuan yang berbeda.

‘” Bu, saya pamit, ” sigap dia hendak mengangkat kotak kaca Lumpiangnya. Aku ingin membantunya, tapi dia tolak dengan halus dan mengatakan kalau dia sudah terbiasa dengan beban berat itu.

” Semoga daganganmu hari ini laris, Nak. Cepat habis dan kamu cepat pulang, bisa cepat istirahat, ” ujarku tatkala dia mulai melangkah meninggalkan halaman rumahku.

 ” Lumpiang, Lumpiang ” suaranya kembali menggema.

Aku pandangi langkah – langkah kakinya yang mulai menjauh membelakangiku. Remaja bertubuh kurus, dalam balutan kaos kusut berwarna gelap, celana pendek berwarna senada, dan sepasang alas kaki tipis berlumuran debu jalanan. Namun aku merasa bangga pada semangat juangnya.Percayalah Nak, keadaan sedang menempamu untuk menjadi orang kuat di kemudian hari

Harapanku yang lain adalah segera belilah alas kaki yang baru Nak. Kulit kakimu pasti sakit berjam – jam menyusuri lorong demi lorong gang, melewati panasnya aspal di bawah teriknya mentari hanya dengan beralas sandal setipis itu.

Besok kita akan berjumpa lagi Nak di halaman rumahku. Aku akan merindukan Lumpiangmu. Kau sudah membeli alas kaki yang baru atau belum, besok beberapa pasang sepatu dan sandal menunggumu di depan rumahku, menemani perjumpaan kita. Besok kita akan berbincang berlima Nak, bersama ketiga anakku. Supaya anak-anakku belajar darimu tentang perjuangan hidup yang tak mengenal tempat dan bahkan tak mengenal usia.

By : Gita Hati in Bali, 8 September 2020

Agus Hendrawan

Merupakan salah satu tim dari BaliNews.id