Alyan dan Rena

Di sebuah desa, dihiduplah dua orang adik-kakak. Sang Kakak adalah seorang pria tampan dengan rambut berwarna pirang. Sedangkan Sang Adik dia adalah seorang gadis cantik berambut pirang seperti sang kakak. Mereka berdua merupakan anak yatim-piatu. Suatu hari, Sang kakak—Rei—sedang pergi kekota untuk bekerja. Tinggalah Sang adik—Rena—sendirian dirumah. Memang biasanya juga begitu, Rena akan sendirian dirumah dan karena sering ditinggal sendiri, Rena terkadang merasa kesepian.

Rena merasa bosan dirumah jadi dia memutuskan untuk pergi jalan-jalan kehutan. Setelah beberapa saat menyusuri pinggiran hutan, tibalah Rena disebuah sungai. Rena melihat seorang pria duduk ditepi sungai. Jika Rena tidak salah lihat, pria itu ternyata sedang menggambar. Entah kenapa Rena berjalan menghampiri pria itu. Sejujurnya Rena penasaran dengan apa yang digambar pria itu, karena apapun yang digambar dengan menggunakan pensil berbagai jenis bukanlah sebuah gambar yang biasa-biasa saja.

Dan seseorang dengan keingintahuan yang tinggi seperti Rena sudah pasti hasrat ingin tahunya tidak terbendung lagi. Oleh karena itu Rena jongkok disamping Pria itu. “Gambar yang bagus.” Ucap Rena begitu melihat lukisan sang pria. Si Pria terkaget—mungkin karena terlalu fokus sehingga dia tidak sadar ada seseorang disampingnya—hingga tak sadar membuat sebuah garis panjang yang menodai keindahan gambarnya. Rena terpesona dengan warna mata pria itu saat tak sengaja bertatap mata.

Bagaimana tidak terpesona jika warna mata si Pria adalah hijau terang di kiri dan biru safir di kanan. Terpikir oleh Rena bahwa pria itu menggunakan lensa kontak tapi sepertinya tidak. Rambut si pria berwarna putih tapi cabang rambutnya berwarna hitam. “Kau,.? Bagaimana…?” Gumam lirih si pria, tapi selanjutnya dia menggeleng seperti menepis pikiran buruk yang baru saja dia pikirkan.

“Apa?” Tanya Rena mendengar gumaman sang pria.

“Tidak ada.” Balasnya melanjutkan mengores pensil pada permukaaan kertas. Bahkan coretan yang dibuatnya karena kaget tadi masih ada disana, tidak ada tanda-tanda dia akan menghapus coretan itu.

“Kamu suka menggambar ya?” Tanya Rena kembali. “Ya,” Jawab pria itu datar, “Menggambar membuat jiwaku tenang.” Rena menganguk sebagai jawaban.

“Terimakasih.” Kata pria itu lagi.

“Terimakasih? Untuk apa?” Tanya Rena bingung.

“Kau tadi mengatakan bahwa gambaranku bagus bukan?”

“Ah! Sama-sama.”

Si pria kembali fokus pada gambaranya. Rena mencoba untuk melihat lebih jelas. Gambaranya sudah setengah jadi. Rena sebelumnya belum pernah melihat sebuah gambaran senyata ini. Setiap goresan itu terlihat nyata, dengan gradasi terang-gelap yang pas. Rena jadi iri.

BACA JUGA  Super Sina Part.2

“Keren!”

Si pria hanya tersenyum canggung tanpa mengalihkan pandangan matanya. Memang tampilan si pria agak mirip seperti sedang cosplay tapi ternyata senyumnya sangat manis. “Aku sepertinya baru melihatmu sekarang, kamu baru ya?” Tanya Rena memecah keheningan. “Tidak,” Jawabnya, “Aku hanya tidak suka jalan-jalan keluar rumah.” Rena berohria sebagai jawaban.

Rena mengulurkan tangannya, “Oh ya, Aku Rena, kamu?”

“Alyan.” Kenal Alyan membalas uluran tangan Rena.

Kemudian hening beberapa saat, Alyan masih berfokus menyelesaikan gambarnya dan Rena hanya memperhatikan bagaimana Alyan menggambar. Hingga Rena ingat, dia belum memasak apapun untuk kakaknya yang sebentar lagi akan pulang.  “Sebenarnya aku mau melihat hasil gambarmu. Tapi aku harus pulang. Sampai jumpa,” Ucap Rena. “Juga terimakasih telah mau kuajak berkenalan!” Alyan tidak menanggapi perkataan Rena, dia hanya memandang Rena hingga Rena perlahan menghilang diantara pepohonan.

Begitu Rena sampai dirumahnya, dia segera pergi kedapur untuk memasak. Setelah semua masakannya selesai, dia pergi kekamarnya untuk mandi. Bertepatan dengan Rena selesai mandi, Rei tiba dirumah. “Kak, Kakak mandi dulu sana, habis itu kita makan.” kata Rena. Dan Rei hanya mengangguk sebagai jawaban. Kemudian Rei pergi untuk mandi sedangkan Rena pergi menuju ruang makan untuk menunggu sang kakak selesai mandi. Lalu, Rena pergi kemeja makan, menunggu sang kakak selesai mandi. Dan kakak beradik itu mengakhiri hari itu dengan makan bersama.

¤¤¤¤

Keesokan harinya, lebih tepatnya saat menjelang sore, Rena pergi ketempat dia bertemu dengan Alyan. Dan menemukan pemuda itu ternyata sedang menggambar dengan posisi yang sama dengan saat awal mereka bertemu. “Hai!” Sapa Rena begitu dia duduk disamping Alyan. Alyan hanya menoleh dan tersenyum. “Apakah gambaranmu sudah selesai?” Tanya Rena. Bukannya menjawab, Alyan malah bertanya balik, “Apakah menurutmu ini sudah selesai?”

“Em, mungkin belum?”

Alyan tidak menjawab, dia lagi-lagi fokus pada gambaranya—yang sepertinya sudah hampir selesai—dan Rena memilih diam memperhatikan bagaimana cara Alyan menggambar. Rena baru menyadari bahwa pakaian yang dipakai Alyan sama persis seperti pakaian yang dia gunakan kemarin. Yaitu baju kemeja putih lengan panjang dengan bawahan celana kain berwarna hitam.

“Eh iya, warna matamu itu asli ya?” Tanya Rena memecah keheningan.

Alyan menganguk, “Iya! Tentu saja ini asli.” Dan ‘oh’ merupakan jawaban yang dia dapatkan.

BACA JUGA  Tidak Ada Yang Kebetulan Di Dunia Ini

“Em, apakah kamu sering datang kesini?” Tanya Rena lagi.

“Tidak juga, tapi akhir-akhir ini ‘iya’.”

“Hem, baiklah.”

Tak ada percakapan lagi, Alyan yang fokus pada gambaranya dan Rena yang fokus melihat Alyan menggambar. Yang terdengar hanya suara air mengalir dengan hembusan angin sepoi-sepoi menerbangkan helaian rambut dua orang berbeda jenis kelamin ini.

“Eh iya! Warna rambut dan matamu itu asli ya?” Tanya Rena memecah keheningan. Alyan mengalihkan pandangan matanya sejenak dan berkata, “Tentu saja asli! Memang kenapa?”

“Tidak, hanya penasaran saja. Lagipula terlihat bagus untukmu.”

Alyan yang mendengar pujian itu tersenyum malu sambil melanjutkan gambarannya. Yah, walau dengan pipi yang merona. Hahaha, lucu sekali. Lagi-lagi tidak ada percakapan. Mungkin karena Rena sudah kehabisan topik dan Alyan yang sama sekali tidak ingin membuka topik.

“Wah! Gambaranmu akhirnya selesai juga.” Kata Rena, “Keren!” Ya, akhirnya gambaran yang digambar oleh Alyan selesai juga.

Gambaran Alyan adalah seekor serigala yang sedang melolong diatas batu dengan ditemani oleh sebuah bulan. Memang bisa dikatakan bahwa gambaran ini terlihat sangat realistis alias sangat nyata. Mendengarkan pujian Rena yang tak ada henti-hentinya, Alyan tersenyum canggung sekaligus malu, “Terimakasih.” Ucap Alyan malu. “Em, baiklah. Sudah waktunya kamu pulang Rena.” Kata Alyan kemudian, begitu melihat matahari yang sebentar lagi akan terbenam. Tak terasa memang.

“Eh iya! Aku harus pulang! Bye Alyan.” Kata Rena sambil berlari.

¤¤¤¤

Kemudian keesokan hari lainnya—tepat dijam yang sama saat Rena pergi kemarin—dia pergi lagi kesungai itu. Tentu saja untuk mencari Alyan, mungkin Rena sudah menganggap Alyan sebagai temannya. Tapi begitu dia sampai disana, Rena sama sekali tidak menjumpai pemilik rambut berwarna putih itu. Benar, Alyan tidak ada disana. Dengan perasaan kecewa Rena memutuskan untuk pulang.

Satu minggu, dua minggu,..

Sudah dua minggu lamanya semenjak terakhir kali Rena bertemu dengan Alyan. Hingga akhirnya saat Rena pergi lagi kesungai—menjelang siang—, dia menjumpai Alyan sedang duduk sambil memejamkan mata—menikmati bagaimana angin menerpa wajah juga menerbangkan helaian rambut putih miliknya—sambil membawa sebuah buku gambar diatas pangkuannya.

Rena menghampiri Alyan—dengan tidak bisa dipungkiri dia merasa sangat senang—dan menepuk bahu si pemilik rambut putih. “Hai! Sudah lama tidak bertemu.” Sapa Rena. Alyan menganguk, “Iya, sudah lama sekali..” Ucapnya dan tersenyum. Rena balas tersenyum.

BACA JUGA  Cerita Motivasi ; Dengarkan Suara Dari Kejauhan itu

“Rena.., kamu kesepian ya?” Tanya Alyan tiba-tiba.

Rena melotot tidak mengerti, “Bagaimana kamu tau? Yah, karena kakakku selalu pergi bekerja aku jadi tidak ada teman dirumah..”

Alyan menganguk, “Aku tau, karena aku juga merasa kesepian.”

Rena menatap Alyan, “Alyan..”

“Maafkan aku Rena..” Kata Alyan tiba-tiba, “Tapi kamu benar-benar telah menjadi temanku, teman pertamaku.” Lanjut Alyan sendu.

“Apa maksud kamu Alyan?” Tanya Rena tidak paham. “Aku sebentarnya ingin tinggal lebih lama lagi, tapi—” Rena memotong, “Tunggu! Kenapa seakan-akan kamu akan—”

“Iya Rena!” Alyan menyela, “Aku akan sangat merindukanmu dan semua kehidupan yang ada disini.”

Rena diam membisu, dia tidak mengerti apa yang dibicarakan Alyan. Kenapa dia seakan-akan akan pergi untuk selamanya? Apakah pria ini bercanda? Walau Rena berpikir dia masih tidak mengerti, kemudian Rena menatap Alyan. Alyan tersenyum—sangat polos—. Senyum yang mungkin akan Rena rindukan.

“Maaf Rena, sudah waktunya aku pergi. Ini buku gambarku, simpanlah sebagai kenang-kenangan.” Begitu Alyan mengucapkan kata itu, tubuh Alyan perlahan-lahan menghilang. Mulai dari kaki hingga kepalanya, menghilang. Sebuah angin berhembus melewati telinga Rena, “Selamat Tinggal Rena.” Itu yang didengar Rena. Rena menangis, merasa kehilangan. Padahal baru saja dia mendapatkan teman, tapi kenapa sekarang dia menghilang.

Rena pulang sambil terus menitikan air mata. Dia pulang sambil membawa sebuah buku gambar. Begitu Rena sampai dirumahnya, dia langsung pergi kekamarnya. Membuka buku gambar itu, dan melihat sebuah gambaran dirinya, lebih tepatnya wajahnya. Rena kembali menangis, hingga akhirnya tertidur sambil memeluk buku gambar Alyan.

Kemudian saat dia terbangun, Rena melihat ada seekor kucing putih dengan mata berwarna hijau dikanan dan biru safir dikiri, tertidur dalam pelukannya. Sejak kapan aku memiliki seekor kucing? Pikir Rena. Rena merangkul kucing itu, lalu mengelus bulu putihnya yang lebat dan lembut seperti kapas. Rasanya seditkit aneh mengingat sebelumnya dia tidak memiliki seekor binatang. Tapi begitu melihat warna mata si kucing, Rena mengenali kucing ini.

Melihat sebentar lagi Rei akan pulang, Rena memutuskan untuk memasak. Jadi, Rena menaruh kucing itu diatas kasur miliknya, yang kemudian si kucing merengek memohon supaya kembali mendapatkan dekapan Rena.

Rena tersenyum dan berkata, “Sebentar ya Alyan..”

¤¤¤¤

By : Gangga Moyi, SMP Dwijendra

 

Facebook Comments

Redaksi

Merupakan salah satu tim dari BaliNews.id