Welcome Jilid II Covid19?

Ci vis pacem para bellum yang memiliki arti jika kau mendambakan perdamaian, bersiap-siaplah menghadapi perang mungkin kalimat yang tepat menggambarkan situasi dunia pada saat ini, tak terkecuali Indonesia. Meskipun peribahasa latin ini merupakan kalimat yang ditunjukan pada saat perang pada masa Romawi tetapi kalimat ini bisa dijadikan salah satu analogi yang terjadi pada saat ini, yaitu perang melawan Covid19 sebelum damai nantinya. Jargon atau slogan pemerintah yang mulai mengeluarkan pernyataan berdamai dengan Covid19 serasa kurang tepat mengingat angka positif yang terus bertambah setiap harinya.

New normal yang diterapkan dibeberapa daerah merupakan strategi pemerintah guna memperbaiki kondisi perekonomian yang ada yang sejatinya mengorbankan salah satu aspek penting lainnya, yaitu kesehatan. Meskipun demikian, ini merupakan langkah yang diambil dengan mempertimbangkan segala resiko yang akan terjadi kemudian hari. Padahal Indonesia memiliki peringkat kualitas hidup ke-111 dari 189 negara di dunia menurut laporan Indeks Pembangunan Manusia 2019 versi PBB dengan menggunakan tiga kategori, yaitu kesehatan, pendidikan, dan pendapatan. Mengorbankan salah satu dari 3 kategori merupakan langkah berbahaya yang dilakukan oleh pemerintah yang mana bencana virus pernah terjadi pada tahun 1918 yang sering disebut dengan flu spanyol dan menewaskan diperkirakan 2% penduduk dunia yang pada saat itu berjumlah 1,7 miliar jiwa yang artinya lebih besar daripada korban dari Perang Dunia I yaitu 9,2 juta – 15,9 juta jiwa (historia.id). Di Indonesia diperkirakan sekitar 1,5 juta jiwa meninggal akibat flu spanyol menurut Colin Brown dalam “The Influenza Pandemic of 1918 in Indonesia”.

BACA JUGA  Pesta WNA di Le Giant Bar Dibubarkan Aparat

Gelombang kedua flu spanyol merupakan hal yang mematikan, karena angka kematian pada gelombang kedua meningkat tajam yang mana terbawa oleh pasukan perang pada saat Perang Dunia I yang artinya penyebaran luar biasa secara cepat dan massif terjadi di seluruh dunia. Akankah gelombang kedua Covid19 terjadi di Indonesia? Pertanyaan tersebut sering terdengar hampir diseluruh media cetak dan sosial, dan itu sangatlah mungkin terjadi dengan berkaca pada pengalaman masa lalu yang hampir setiap terjadi wabah atau pandemi selalu terjadi gelombang kedua. Gelombang kedua telah diprediksi dan diproyeksikan sebagaimana mestinya oleh pemerintah, sehingga normal baru telah ditetapkan diberbagai wilayah di Indonesia guna memperbaiki kondisi perekonomian yang ada khususnya di daerah.

grafik

Gelombang kedua penyebaran virus flu spanyol adalah melalui pasukan perang, sedangkan Covid19 melalui orang-orang yang berpergian ke suatu wilayah baik kepentingan bisnis maupun lainnya. Antisipasi pemerintah dalam upaya mitigasi penyebaran Covid19 adalah dengan menggunakan protokoler kesehatan yang ada baik cek suhu, rapid test, maupun swab test. Permasalahan yang timbul khususnya di negara kepulauan dengan kebijakan pemerintah daerah (pemda) berbeda-beda adalah tumpang tindih kebijakan, kewenangan pemda seakan-akan berbenturan dengan keputusan pemerintah pusat. Kebijakan pemerintah pusat yang diterapkan di daerah menimbulkan gesekan meskipun tidak terlihat besar, tetapi dapat memicu gesekan antar wilayah serta strereotip wilayah yang mana salah satu contoh ketika suatu daerah mendapatkan kurva landai karena kebijakan pemda tersebut dan tiba-tiba dengan kebijakan new normal life, kurva landai tersebut kembali meningkat karena kebijakan yang dibuat oleh pemerintah pusat mau tidak mau harus diterapkan di daerah.

BACA JUGA  Gtpp Covid-19 Gianyar Pantau Kesiapan Tirta Empul Saat Banyupinaruh 

Sejatinya dengan berkaca bahwa Indonesia merupakan negara kepulauan dan dengan desentralisasi yang dimiliki oleh pemda, pemda dapat mengatur dan memberikan kebijakan kepada masyarakatnya, serta memberikan masukan kepada pemerintah pusat tentang kesiapan daerahnya menghadapi pandemi semacam ini. Sehingga keadilan yang jelas antar daerah bisa terlihat secara transparan, dan nantinya terlihat daerah mana yang sigap dalam penanganan pandemi ini bisa menjadi contoh dan role model daerah lainnya. Terlepas dengan konspirasi atau bukan Covid19 ini, pemerintah bisa mengambil hikmah yang banyak tentang tata kelola negara, dan cara penanganan pada saat terjadi pandemi, sehingga mitigasi sejak dini bisa diterapkan dengan cepat, serta seluruh komponen masyarakat memiliki peran yang jelas apabila terjadi wabah seperti ini lagi di lain waktu.

BACA JUGA  Tren Sesaat Solo Travel Pasca Pandemi

New normal yang mungkin menjurus ke herd immunity merupakan spekulasi pemerintah ditengah angka positif Covid19 terus bertambah. Ci vis pacem para bellum menjadi nyata yaitu perang melawan Covid19 mengunakan imunitas masing-masing yang mendambakan perdamaian. Si vis pacem para iustitiam yang berarti jika kau mendambakan perdamaian, maka tegakkanlah keadilan, keadilan seperti apa yang diharapkan ditengah Covid19? Mungkin peribahasa ci vis pacem para panem yang memiliki arti jika kau mendambakan perdamaian, maka siapkanlah roti menjadi hal yang tepat diterapkan pada masa pandemi ini, karena kesejahteraan khususnya pangan menjadi kebutuhan wajib untuk tetap bertahan ditengah situasi yang tidak jelas seperti ini.

Penulis: I Made Chandra Mandira, SE., M.Han
Dosen FEB Universitas Pendidikan Nasional