“Saya ada kegelisahan, dengan pandemi ini tentu semua orang merasa sedih. Tetapi, di satu sisi kita belajar dari pandemi, kita bisa berkumpul dengan keluarga dan merekonstruksi lagi tentang kearifan lokal seperti cerita Tantri,” kata Surya Darma usai menampilkan atraksi Blind in Paradise di Griya Santrian, Denpasar, Rabu.Dalam atraksi seni itu, Surya Darma menutupi kolam renang dengan berbagai macam bunga, sebagai simbol dari “paradise”  atau keindahan kehidupan duniawi.

Selain itu, Surya Darma menebarkan kertas yang berisi tulisan mengenai sejarah virus yang melanda dunia dan dampak yang ditimbulkan, merekonstruksi sejarah virus sebagai perenungan untuk selalu waspada.

BACA JUGA  Wagub Bali : Sektor Pertanian Bisa Jadi Penunjang Industri Pariwisata

Pelukis yang sempat berpameran di sejumlah negara, seperti Jepang, Jerman, India, Myanmar, Filipina dan Malaysia itu mengawali atraksi seni dengan melantunkan tembang Alas Arum.

“Tembang ini biasanya dinyanyikan dalang sebelum pementasan cerita pewayangan. Ini dimaknai sebagai simbol bahwa Tuhan dalam menciptakan alam, diawali getaran atau alunan suara indah yaitu AUM atau OM,” kata perupa lulusan ISI Yogyakarta itu.

Surya Darma dengan mata tertutup kain berwarna hitam juga berenang di atas kolam renang yang bertabur bunga, sembari diiringi musik dengan musisi DJ Kamau Abayomi dari California, Amerika, seorang dalang wayang kulit dari Sanggar Seni Kembang Bal I Putu Purwwangsa Nagara (Wawan Bracuk), D Jimmy Tedjalaksana (musisi dan founder Virama Music studio dan I Kadek Dedy Sumantra Yasa (seniman).

“Mata saya ditutup sebagai simbol bahwa tidak bisa jelas melihat mana yang benar mana yang salah. Seolah-olah buta dalam kegemerlapan kehidupan duniawi. Dengan adanya situasi dunia yang tidak menentu, saya ingin mengajak penonton untuk memaknai kembali kearifan lokal dari cerita tradisional sebagai ‘sesuluh’ hidup pada era kekinian,” ujarnya.

BACA JUGA  Pilih Padat Karya Non Fisik, Ratusan Warga Terdampak Pandemi Diberdayakan Oleh Desa

Dalam karya ini juga dikolaborasikan dengan lukisannya yang berjudul Pedanda Baka dari Cerita Tantri berukuran 185 cm x 280 cm yang dibiarkan mengambang di antara taburan bunga di dalam kolam renang.

“Sebagai salah satu cara untuk merespons situasi pandemi COVID-19 yang saat ini melanda dunia, saya berupaya memaknai kembali cerita Wayang Tantri yang mengisahkan cerita Pedanda Baka yang saya tuangkan ke dalam kanvas,” ujarnya.

Cerita Pedanda Baka, menurut dia, sangat relevan dijadikan “sesuluh” atau pandangan hidup agar kita selalu waspada, sehingga tidak mudah terkena tipu di era kekinian. Sebab, kasus penipuan dalam berbagai bentuk dan cara sering terjadi.

“Dengan memaknai kisah cerita Pedanda Baka, seseorang juga diharapkan tidak melakukan penipuan. Jika itu dilakukan, lambat laun buah karmanya akan diterima. Jangan menyalahgunakan kepandaian untuk menipu sesama,” ucapnya.

BACA JUGA  Gubernur Koster Bangga Aksara Bali Segera Sejajar dengan Aksara Lain yang Mendunia

Selain itu, lanjut Surya Darma, kisah cerita rakyat banyak mengandung nilai budi pekerti. Pada masa pandemi ini, ketika anak-anak belajar dari rumah, orang tua perlu juga membantu membentuk karakter anak dengan nilai-nilai budi pekerti yang banyak terdapat dalam cerita rakyat.

Karya lukisan Pedanda Baka dipamerkan bersama karya lain dari sejumlah perupa dalam ajang gelar seni rupa bertajuk “Sip Setiap Saat” di Griya Santrian Hotel, Sanur, sejak 28 Desember 2020. (an)