Resesi Pariwisata Bali

BaliNews.id – Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) resesi adalah kelesuan dalam kegiatan dagang, industri, dan sebagainya (seolah-olah terhenti); serta menurunnya kegiatan dagang. Pengertian dari resesi ekonomi adalah kondisi Gross Domestic Product (GDP) atau pendapatan domestik bruto (PDB) menurun atau mengalami penurunan selama dua kuartal dalam setahun atau lebih. Resesi yang tak kunjung henti dapat mengakibatkan depresi ekonomi. Indonesia dalam kuartal kedua mengalami penurunan dan diprediksi akan terjadi hal yang sama pada kuartal tiga, sehingga apabila terjadi penurunan 2 kuartal dalam 1 tahun dapat dipastikan Indonesia mengalami resesi.

Pada 12 September 2020 kasus terkonfirmasi covid-19 di Indonesia mencapai 214.746 jiwa dan 8.640 orang meninggal menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan kasus covid-19 terbesar. Salah satu dampak dari kasus covid-19 di Indonesia adalah di lockdown nya Indo nesia oleh 59 negara di seluruh dunia. Hal ini memastikan bahwa salah satu penyumbang devisa di sektor pariwisata Indonesia mengalami kelesuan, bahkan mati suri. Bali merupakan wilayah di Indonesia dengan penyumbang devisa terbesar di sektor pariwisata. Dari 59 negara yang melockdown Indonesia, terdapat 3 negara yaitu India, Amerika Serikat, dan Malaysia yang merupakan negara dengan tamu kunjungan ke Bali rutin setiap tahunnya. Pada tahun 2019, wisatawan mancanegara India sebesar 5,96%, Amerika Serikat 4,41%, dan Malaysia sebesar 2,95% yang apabila digabungkan sebesar 13,32% wistawan mancanegara tidak akan berada di Indonesia sampai batas waktu yang belum pasti. Total wisatawan mancanegara pada tahun 2019 sebesar 6.275.210 jiwa (BPS Bali) yang mana apabila kebijakan belum dibuka sampai selesainya kebijakan pemerintah yaitu Januari 2021 maka kurang lebih 835.857 jiwa wisatawan mancanegara dipastikan tidak bisa berkunjung ke Indonesia.

BACA JUGA  Momentum Perbaikan Database Di Kala Pandemi
Resesi Pariwisata Bali
Sumber: BPS, Bali 2020

Perekonomian Bali pada Triwulan ke II 2020 mengalami penurunan yang cukup tajam, yaitu -10,98. Catatan peristiwa triwulan II 2020 perekonomian Bali diantaranya adalah transportasi dan pergudangan -39,48%, Akomodasi makan dan minum -33.10%, serta pengadaan listrik dan gas -21,04% yang dimana industri ini merupakan sektor penunjang dari pariwisata yang ada di Bali. Bali yang notabene mengandalkan pariwisata sebagai mata pencaharian utama harus lebih sabar dan memutar otak agar dapat menyambung hidup dalam situasi pandemi. Covid-19 mengakibatkan pariwisata lumpuh dan mati suri. Sejumlah 8 dari 9 kabupaten/kota di Bali terkonfirmasi masuk dalam zona merah kecuali Kabupaten Klungkung menguatkan bahwa Bali bersiap untuk memasuki resesi pariwisata tahun ini.

BACA JUGA  Kemenparekraf Promosi Program "We Love Bali"

Akankan Bali melakukan PSBB (Pembatasan Sosial Bersekala Besar)?

Ide tentang PSBB Bali muncul dari banyak kalangan bahwa Bali memerlukan adanya PSBB. Tetapi pertanyaan lainnya muncul, apakah pemerintah menyanggupi untuk menanggung kebutuhan pokok masyarakatnya? Kebijakan tanpa adanya pertimbangan yang matang akan memojokkan pemerintah sendiri apabila salah mengambil langkah dalam pengambilan kebijakan. Bali menjadi wilayah dengan tingkat hunian rumah sakit tertinggi di Indonesia yang mana apabila pemerintah tidak dapat mengendalikan dan menekan angka covid-19 dapat dipastikan rumah sakit tidak bisa menampung pasien positif covid-19.

Resesi Pariwisata Bali
Resesi Pariwisata Bali

Pariwisata merupakan sektor yang membutuhkan waktu cukup lama dalam pemulihan pasca pandemi. Kemananan dan kenyamanan merupakan salah satu aspek dalam pariwisata, tetapi tren tentang keamanan dan kenyamanan pada saat ini berubah menjadi kesehatan. Kebijakan yang berujung blunder pemerintah dimana era normal baru pada bulan Juli lalu menjadikan Bali harus menahan nafas lebih panjang lagi dalam mendongkrak perekonomian di sektor pariwisata. Kini resesi pariwisata sudah didepan mata sehingga rencana B harus segera dilakukan yakni menutup pintu pariwisata yang akan ke Bali, karena salah satu Langkah yang harus diambil untuk mengurangi kenaikan angka kenaikan covid-19.

BACA JUGA  Pantai Gunung Payung, Pantai Cantik di Selatan Bali

Tren pariwisata yang bergeser yakni lebih ke alam lebih diminati oleh pangsa pasar domestik, khususnya lokal Bali harus dimanfaatkan dengan benar meskipun tidak mengiurkan secara rupiah, tetapi hal ini dapat memutar roda perekonomian Bali secara perlahan. Wisata yang terlebih hanya untuk menampilkan eksistensi diri kaum milenieal harus diberikan wadah yang tepat, dikarenakan Bali sudah memasuki bonus demografi, sehingga generasi mileneal-lah yang akan mendominasi pariwisata dalam 5-10 tahun kedepan.

Resesi pariwisata merupakan hal yang pasti, tetapi bukan berarti pariwisata mati, hanya saja tren yang akan berganti, dari yang berfokus materi berubah ke pencarian eksistensi diri karena memasuki era bonus demografi. (ah)

Penulis: I Made Chandra Mandira, S.E., M.Han
(Dosen FEB Universitas Pendidikan Nasional)

Agus Hendrawan

Merupakan salah satu tim dari BaliNews.id