Pertahankan Wanita Bali

BaliNews.id –

Sekian lama saya memendam kegelisahan tentang adat dan wanita Bali.Kegelisahan berdasarkan fakta dan pengalaman yang saya lihat dan saksikan di berbagai tempat,berbagai kesempatan.Ada rasa sedih,miris,bahkan rasa sedikit amarah kenapa hal ini harus terjadi??Tapi juga tak berdaya.Rasa cinta Bali saya memberontak,dan mudah-mudahan ke depan kita semua mampu berbenah.

Kita semua sebagai orang Bali,sangat bangga dilahirkan di Bali dan dibesarkan di Bali dengan adat dan tradisi Bali.Yang mana adat dan tradisi ini bersumber dari Budaya Hindu.Budaya berasal dari bahasa Sansekerta Budhi yang artinya kita melakukan sesuatu yang bersumber dari pemahaman kita yang mendalam tentang ajaran Hindu Dharma.Dimana pemahaman ini yang selanjutnya menjadi dasar tingkah laku kita sehari-hari dalam berinteraksi dengan sesama manusia dan juga dengan Tuhan.Yang lama kelamaan segala yang kita lakukan berulang kali telah menjadi tradisi, menjadi rutinitas. Bahkan menjadi baku,menjadi peraturan tetap,menjadi adat.Hindu,Bali dan adat tradisinya adalah satu kesatuan,tak terpisahkan.

Kita selalu mengatakan mari lestarikan budaya Bali,adat istiadat Bali, karena ini adalah budaya yang Adi luhung.Bahkan terkadang kita gelap mata menutup diri terhadap aspek kebenaran lain yang juga bersumber dari Hindu,selama aspek itu kita rasa bertentangan dengan adat istiadat Bali.Kembali pada kegelisahan saya,bicara melestarikan budaya dan adat istiadat Bali, darimana kita akan melakukannya?Siapa yang memegang peranan penting tentang hal ini?Dari rumah,dari sekolah,dari desa adat,atau dari pemerintah? Jujur harus diakui semua punya peranan penting akan hal ini.Tetapi menurut saya sebagai seorang ibu,yang pertama dan mengambil peranan penting ini adalah dari rumah,dari seorang ibu,dari wanita Bali.

BACA JUGA  Kabur, Maling Spesialis Warung Makan Ditembak

Ibulah, wanitalah yang menjadi guru pertama bagi anak-anaknya, anak-anak Bali.Yang memberikan pelajaran langsung setiap hari kepada generasi Bali bagaimana melaksanakan dan melestarikan budaya Bali,mulai Yadnya sederhana sehari-hari sampai ritual-ritual yang besar yang menjadi dasar kehidupan orang Bali.Tetapi menurut saya selama ini ada yang terlupakan dari pengajaran kita, terlupakan turun temurun dari masa ke masa.Kita semua,termasuk si ibu sendiri sibuk mengajarkan yang menjadi pelestari adat Bali adalah anak lelaki, generasi lelaki.Sedangkan anak perempuan sedari kecil tetap kita ajarkan praktek upacara tanpa pernah kita mengatakan atau menekankan bahwa dia,bahwa anak perempuan itu adalah istimewa,bahwa dia berhak tetap menjadi Bali, melestarikan adat Bali,tetap menjadi Hindu setelah kelak dia berumah tangga.

BACA JUGA  Pembobol Tiga Toko Ditangkap

Kita lupa mengajarkan kepada anak perempuan kita bahwa Hindu dan budaya Bali itu adalah nafasnya,pegangan hidupnya.Kita lupa menekankan bahwa perkawinan tidak akan bisa melunturkan kehinduannya.Ajarkanlah kepada anak perempuan kita untuk teguh dalam berkeyakinan. Setelah dia dewasa,dengan siapapun dia berjodoh kelak,entah dengan lelaki Bali ataupun dari suku atau bangsa lain, hendaknya dia tetap menjadi Hindu, menjadi Bali.Hendaknya kita tekankan perkawinan dengan luar Bali tidak membuatnya meninggalkan tradisi leluhurnya.Dan sebaliknya apabila anak perempuan kita sudah bisa mempertahankan keyakinannya, seyogyanya masyarakat Bali menjembatani, mengayomi, mempermudah pihak lelaki untuk menjadi orang Bali walaupun tidak memasuki ranah desa adat Bali.

Beruntung apabila anak perempuan kita menikah dengan lelaki bali,tetapi bagaimana bila dia berjodoh dengan orang luar Bali?

Bertahun-tahun saya menyaksikan dengan sedih ketika ada wanita Bali yang karena pernikahan harus menanggalkan identitasnya sebagai wanita Bali.Bahkan tak jarang remaja wanita Bali pun berkata, “nanti kan saya belum tentu jadi orang Bali terus.”Ini sesuatu yang kurang tepat,yang harus kita benahi bersama.Tak jarang pula saya melihat wanita Bali yang menikah dengan orang luar begitu rindu akan Balinya,akan nafas masa kecilnya.

BACA JUGA  Di Kaki Lereng Batur

Bagaimana kita bisa mengatakan ajeg Bali atau mari lestarikan budaya Bali,bila kita selama ini telah membiarkan bahkan mensia -siakan salah satu unsur penting yaitu sumber daya wanitanya untuk mudah berpaling dari budaya Bali.Mari kita sayangi anak-anak perempuan kita, pertahankan anak-anak perempuan kita untuk tetap menjadi Hindu dan Balinya.Karena dengan tetap menjadi Bali, mereka akan menjadi alat menyebarkan budaya damai bagi dunia.Tanamkan ketegasan pada anak-anak perempuan kita.Dqn biarkan mereka mengajarkan tradisi Bali secara turun temurun dengan pemahaman yang benar, sehingga budaya Bali yang orisinil tetap lestari.

Rahayu Baliku,Damai,Damai,Damai selalu

Oleh : Ratna, (Peramuwisata Indonesia)