Pariwisata Cleanliness, Health, and Safety (CHS), Green Economy, Serta Blue Economy di Bali.

           

I Made Chandra Mandira, SE.,M.Han

Cleanliness, Health, and Safety (CHS) yaitu kebersihan, kesehatan, dan keselamatan merupakan rancangan new normal dan mungkin masih asing terdengar dan diterapkan apabila dikaitkan dengan pariwisata. Bali merupakan barometer pariwisata Indonesia menjadi salah satu wilayah yang menjadi contoh uji coba pariwisata new normal berkonsep CHS. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wisnutama menyiapkan protokol new normal tourism mulai dari tahapan simulasi, sosialisasi, publikasi ke publik, dan melakukan uji coba. Pariwisata pada umumnya adalah mengutamakan pada pariwisata berkelanjutan yaitu memperhitungkan dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan. United Nation World Tourism Organization (UNWTO) mendefisinikan pariwisata berkelanjutan adalah pariwisata yang memperhitungkan penuh dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan saat ini dan masa depan, memenuhi kebutuhan pengunjung, industri, lingkungan dan masyarakat setempat.

Sumber: Studi Pariwisata 2016

            Dampak lingkungan masuk dalam kategori CHS yaitu pada kategori kebersihan, dan kesehatan yang bisa menjadikan konsep new normal tourism ke arah pariwisata berkelanjutan meskipun belum tahu apakah konsep ini bisa benar-benar diterapkan. Green economy merupakan salah satu konsep tentang dampak lingkungan yang mana menurut United Nations Environment Programme (UNEP) green economy merupakan sistem yang memuat aktivitas perekonomian (produksi, distribusi, dan konsumsi), yang menghasilkan peningkatan kualitas hidup manusia untuk jangka panjang tanpa mengorbankan generasi mendatang akibat munculnya resiko terkait dampak lingkungan dan keterbatasan ekologis. Fokus dari konsep green economy adalah pada sisi lingkungan, meningkatkan kesejahteraan manusia, dan kesetaraan sosial secara berkelanjutan jangka panjang. Selain green economy terdapat konsep blue economy.

Kata “blue economy” mungkin masih asing ditelinga kita, yang mana kalah pamor dengan “green economy”. Green economy mendorong ekonomi ke arah investasi ramah lingkungan, karbon rendah, efisiensi sumber daya, kesejahteraan sosial, serta mendorong konsumsi dan produksi berkelanjutan, sedangkan blue economy menekankan produk ganda sehingga tidak bergantung pada satu produk (core business). Aliran ini menekankan pentingnya tata nilai baru, cara berpikir dan tindakan kolektif baru yang tidak menempatkan alam sebagai obyek, menerapkan prinsip bagaimana alam bekerja, atau populer dengan istilah kembali ke alam (back to nature) yang diperkenalkan oleh Gunter Pauli dalam buku “The Blue Economy 10 Years – 100 Innovations – 100 Million Jobs”. Mengutip dari (ubaya.ac.id) blue economy merupakan sebuah konsep memproses proses industri atau aktivitas ekonomi dalam skala yang lebih besar dapat: 1) menghasilkan sedikit limbah ke lingkungan, 2) meminimalkan pemanfaatan sumber daya alam yang berlebihan sehingga lebih efisien, dan 3) mengolah limbah menjadi bahan baku. Perbedaan dengan green economy adalah blue economy mencegah terjadinya limbah dari awal sedangkan green economy hanya mengurangi pencemaran yang sudah ada.

BACA JUGA  Bicara Cinta

Apabila CHS, green economy, dan blue economy dikaitkan dengan pariwisata berkelanjutan, permasalahan utama yang perlu diperhatikan adalah masalah lingkungan selain ekonomi dan sosial. Lingkungan menjadi masalah yang klasik apabila dikaitkan dengan objek wisata. Masalah yang selalu timbul adalah sampah atau limbah dari industry atau pengunjung objek wisata tersebut. Data dari (radarbali.id, 2020) setiap hari Bali menghasilkan 4.281 ton sampah atau 1,5 juta ton sampah per tahunnya yang mana Badung, Gianyar, dan Denpasar merupakan penghasil sampah terbanyak, dan 11% sampah tersebut mengalir ke laut. Dari data tersebut 52% sampah tidak dikelola, sedangkan 48% dikelola. Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung menampung 70% sampah yang ada di Bali, dan ini menjadi masalah serius karena letak yang berada di jalur strategis dan juga bedekatan dengan laut yang menjadikan sampah ditempat ini sering terbawa oleh air laut.

BACA JUGA  Welcome Jilid II Covid19?

Isu lingkungan menjadi isu yang tidak pernah habis untuk diperbincangkan khususnya di Bali yang merupakan tempat destinasi wisata dunia. Resiko atau dampak utama dari pariwisata adalah sampah yang pasti sudah diketahui oleh semua pihak, baik pemerintah, maupun stakeholder yang bergerak di bidang hotel, restaurant, catering/café (horeca). Pembenahan daur ulang sampah, hingga manajemen pengelolaan sampah yang saling lempar menjadikan pertumbuhan sampah kian tak terbendung dikarenakan laju sampah yang cukup cepat khususnya sampah rumah tangga dan horeca.

Tipe-Tipe Wisatawan Berdasarkan Tingkat Minatnya terhadap Lingkungan (Cleverdon 1999 dalam Holden 2000:197)

Sumber: Ekowisata dan Pembangunan Berkelanjutan, Ferdinan Asmin (2017)

Melihat dari tipologi wisatawan berdasarkan minat terhadap lingkungan sejatinya Bali memiliki kriteria keseluruhan meskipun untuk tipologi special ecotourist kalah pamor dengan eco-aware, user, dan loungers. Level minat lingkungan yang tinggi bisa dikategorikan wisatawan minoritas dari wisatawan yang lain, tetapi memiliki kualitas yang baik diantara yang lain karena memiliki tujuan yang jelas dan spesifik apa yang akan dilakukan ditempat yang akan dikunjungi. Menaikkan kesadaran level minat lingkungan rendah ke level tertarik dengan ciri-ciri khusus menjadi pekerjaan rumah khususnya Bali agar wisatawan mau meningkatkan kesadarannya dalam menjaga lingkungan. Bali mem-plot dirinya sebagai wisata alam dan budaya, meskipun mayoritas wisatawan berkunjung ke Bali memiliki tujuan untuk berjemur, berenang, dan mengunjungi kehidupan malam.

BACA JUGA  Pertahanan Ekonomi Bali Pemerintah memenangkan hati dan pikiran rakyat?

Bali harus mempersiapkan dengan matang dirinya menghadapi new normal tourism yaitu Cleanliness, Health, and Safety (CHS), green economy, dan blue economiy yang mana menggeser sedikit konsep awal wisata Bali yaitu budaya. Konsep CHS, green economy dan blue economy menjadikan pariwisata tidak hanya mengandalkan soal kuantitas dari wisatawan, melainkan kualitas yang harus dilandaskan pada kesadaran wisatawan ketika berkunjung ke Bali. Selain itu, peningkatan kualitas tidak hanya pada wisatawan yang berkunjung melainkan masyarakat yang menjadi tuan rumah harus berkualitas juga agar pariwisata berkelanjutan berkonsep CHS, green economy dan blue economy bisa berjalan semestinya.

Penulis: I Made Chandra Mandira, SE.,M.Han (Dosen FEB Universitas Pendidikan Nasional)