Pandemi Dalam Sudut Pandang Ekonomi Politik

Pandemi Dalam Sudut Pandang Ekonomi Politik

BaliNews.id-National power atau kekuatan nasional dalam suatu negara meliputi; diplomasi, intelligent, militer, dan ekonomi. Kekuatan dalam negosiasi terdapat dalam diplomasi, pencarian informasi baik ke dalam maupun keluar berada di intelligent, kedua hal ini ditopang dengan kekuatan militer, serta berlangsungnya kehidupan dalam suatu negara tentu saja dijalankan oleh proses perekonomian. Kepincangan dalam suatu negara terjadi apabila salah satu faktor dari kekuatan nasional terancam. Saat ini faktor ekonomi menjadi sorotan tajam tidak hanya di dunia, melainkan Indonesia dengan adanya pandemi covid-19.

Manurut Alfred Marshall dalam buku Principles of Economics (1980) dijelaskan bahwa ilmu ekonomi adalah penelitian terhadap manusia dalam kesibukannya sehari-hari khususnya dalam pencarian dan pemanfaatan terhadap kebutuhan material dan kesejahteraan. Sedangkan menurut Lionel Robbins dalam buku An Essay of the Nature and Significance of Economic Science (1932) dikatakan ilmu ekonomi adalah ilmu yang meneliti perilaku manusia sebagai hubungan antara tujuan dan sumber daya yang langka dan dapat digunakan dalam berbagai macam keperluan.

Dalam ilmu ekonomi terdapat tiga kategori, yaitu kalkulasi ekonomi, penyedia kebutuhan, serta ekonomi sebagai perekonomian. Pertama yaitu kalkulasi ekonomi yang dimana diungkapkan oleh Max Weber yang bertindak penuh dengan perhitungan serta harus jelas cara dan tujuannya. Kemudian ekonomi sebagai penyedia kebutuhan yang sering diungkapkan oleh Aristoteles, Adam Smith, dan Karl Marx bahwa kebutuhan hidup berada di dalam pasar dalam artian bertemunya antara produsen dan konsumen. Dan yang ketiga adalah ekonomi sebagai perekonomian yang dimana regulasi, keputusan dan wewenang terkait permasalahan ekonomi dan politik diatur dalam pasar.

BACA JUGA  Welcome Jilid II Covid19?

Berkaca dalam pendekatan ekonomi klasik yang dimana pasar memiliki kemampuan unuk mengelola dirinya sendiri, dan dalam kasus covid-19 seakan perlu campur tangan pemerintah khususnya dalam regulasi yang seakan menghambat adanya pertemuan antara konsumen dan produsen. Faktanya pada saat ini seakan terjadi pemisahan kelas baik secara ekonomi maupun politik yang dimana kondisi kelas pekerja berada dalam deprivasi atau serba kekurangan dan kolektivitas dalam artian kelemahan subjektif dalam menerima tekanan yang akhirnya berbuah pada kemunduran semangat. Di lain sisi khususnya kelas kapitalis tetap dalam posisi mempertahankan kekayaan dan juga mempertahankan sistem sosial yang telah memberikan kesempatan dalam mengakumulasi keuntungannya.

Dalam masa perang khususnya dalam hal ekonomi, pasar dipaksakan untuk tetap berputar sebagaimana kaum Keynesian memberikan suatu terobosan ketika terjadi great depression 1929, tetapi pada saat ini masyarakat lebih menggunakan logika ekonomi dasar dari pilihan yang terbatas dalam situasi pandemi, yaitu penghematan. Penghematan menjadi salah satu pilihan masyarakat dalam pandemi meskipun nantinya akan berakibat macetnya roda perekonomian dipasaran, tetapi ini merupakan logika ekonomi dasar dikarenakan situasi yang terjadi saat ini. Dalam hal ini kebijakan khususnya politik memainkan peran dalam perekonomian khususnya pasar yang dimana transaksi pada umumnya tidak berjalan dengan semestinya.

BACA JUGA  Indonesia Sep(i)ring ?

Kebijakan politik yang diambil haruslah berdampak pada pihak yang tidak ikut bertransaksi dalam artian masyarakat umum baik disengaja maupun tidak disengaja yang dalam arti kata “eksternalitas” meskipun tetap saja terdapat sisi positif dan negative dari eksternalitas ini. Kaum yang bertransaksi khususnya kapitalis apabila memutarkan keuntungannya tentunya akan beralih menjadi suatu investasi (bukan ditahan sebagai laba pribadi), dan sebaliknya apabila ditahan tentu saja akan terjadi stagnasi ekonomi yang akan mengakibatkan penurunan produktivitas, serta pengangguran dimana-mana yang berujung pada krisis ekonomi. Indonesia telah masuk dalam kategori resesi ekonomi dimana terjadi minus secara 2 (dua) kuartal berturut-turut meskipun dalam kuartal 4 pengalami peningkatan dibandingkan kuartal 3 tahun 2020 tetapi nilainya masih minus _0,42 secara (q to q).

Hampir 1 (tahun) pandemi covid-19 belum juga terselesaikan, dan justru angka mengalami kenaikan secara tajam. Sejatinya tugas negara adalah melindungi masyarakat dari kekerasan dan melindungi dari ketidakadilan. Kejenuhan masyarakat terhadap kinerja pemerintah tentu ada batasnya meskipun pro terhadap pilihan politiknya tetapi sebagaimana diungkapkan oleh Karl Marx bahwa politik dan keputusan-keputusan dari wewenang publik adalah tunduk pada faktor-faktor yang tidak dapat ditolak yang terjadi di dalam masyarakat. Karena individu dalam perekonomian sudah terpisah dari kesetiaan terhadap institusi apapun, maka satu-satunya kesetiaan mereka adalah kesetiaan terhadap diri sendiri.

BACA JUGA  Kebudayaan Yang Menjadi Haluan

Penulis: I Made Chandra Mandira, S.E., M.Han

Dosen FEB Universitas Pendidikan Nasional

Facebook Comments

Redaksi

Merupakan salah satu tim dari BaliNews.id