Implikasi Transgender Terhadap Kesehatan

BaliNews.id – Transgender bukan hal baru lagi ditelinga kita. Banyak sekali kita temui kasus transgender di dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Transgender merupakan individu yang merasa identitas gendernya berbeda atau tidak sesuai dengan jenis kelamin biologisnya dari lahir. Identitas gender ini lebih merujuk kepada konsepsi seseorang mengenai gender dalam dirinya sendiri. Transgender sendiri berbeda dengan transeksual, transeksual lebih merujuk kepada perubahan kelamin seperti tindakan operasi atau terapi hormon.

Beberapa waktu lalu sekitar akhir tahun 2019, dunia hiburan tanah air dihebohkan dengan pengakuan seorang artis Indonesia yang ternyata seorang transgender. Sosok artis tersebut adalah Gebby Vesta yang lebih akrab dikenal sebagai seorang DJ (Disk Jockey). Setelah bertahun-tahun menutupi kabar tersebut, akhirnya Gebby Vesta pun mengakui kalau ia telah melakukan operasi pergantian kelamin 6 tahun silam (99.co,2020). Menurut diagnosis medis konvensional, transeksualisme adalah salah satu bentuk Gender Dysphoria (kebingunan gender).

Implikasi Transgender Terhadap Kesehatan
Implikasi Transgender Terhadap Kesehatan

Gender Dysphoria adalah sebuah term general bagi mereka yang mengalami kebingunan atau ketidaknyamanan tentang gender-kelahiran mereka (Yash, 2003: 17). Ada beberapa faktor penyebab seseorang menjadi pelaku transgender. Yang pertama, faktor gen dan hormon adalah faktor yang ada di dalam diri seseorang karena memiliki masalah dalam susunan kromosom, tidak seimbangnya hormon dan struktur otak seseorang, serta kelainan dalam susunan syaraf otak. Kedua, faktor lingkungan yaitu salahnya pendidikan yang diterima oleh pelaku transgender di masa kecilnya.

BACA JUGA  Pertahanan Ekonomi Bali Pemerintah memenangkan hati dan pikiran rakyat?

Biasanya ada dampak yang terjadi pada pelaku transgender, dalam segi kesehatan menjelaskan bahwa pelaku transgender akan mengalami gangguan secara fisik yaitu Risiko pada setiap tindakan medis yang harus dilakukan untuk transisi gender, terutama tindakan operasi. kemudian, Risiko kanker pada pemakaian hormonal terapi yang juga dipakai untuk transisi gender. Terapi hormon pada kaum transgender juga berisiko menimbulkan dampak terhadap kesehatan dalam jangka panjang. Beberapa masalah kesehatan yang dapat terjadi yaitu pengeroposan tulang, tekanan darah tinggi, gangguan tiroid, dan perubahan metabolisme tubuh. Karena itu, para transgender yang telah menjalani terapi hormon perlu untuk mendapatkan pemeriksaan kesehatan rutin. Tidak hanya kanker, risiko terpapar pada virus HIV akibat perilaku dan gaya hidup transgender.

BACA JUGA  Kemana human security ?

HIV adalah salah satu risiko penyakit yang paling sering dikaitkan dengan transgender. Sebuah penelitian menemukan bahwa hampir 28 persen transgender wanita dinyatakan positif terinfeksi HIV. Sekitar 70 persen dari angka ini tidak mengetahui bahwa mereka mengidap penyakit tersebut.

Ada beberapa kemungkinan faktor-faktor yang kurang mendukung terjaganya kesehatan para transgender. Yaitu Ketiadaan akses terhadap layanan kesehatan, Sebagian besar kaum transgender tidak memiliki akses terhadap sarana kesehatan, antara lain karena stigma dan diskriminasi sosial dari masyarakat. Terbatasnya informasi dan layanan kesehatan, belum banyak pusat layanan kesehatan mental yang memiliki pengetahuan dan kompetensi memadai untuk menangani transgender. Bertentangan dengan aturan dan keyakinan, Peraturan atau norma yang membatasi penggunaan kondom sebagai pencegahan infeksi HIV.

Kontroversi mengenai transgender menyebabkan tak sedikit kaum transgender yang hidup dalam diskriminasi dan penolakan sosial. Hal ini dapat berujung pada risiko gangguan kesehatan fisik maupun mental, seperti depresi, gangguan kecemasan, dan bunuh diri. Untuk itu, kaum transgender perlu melakukan pemeriksaan kesehatan rutin pada dokter yang memahami kondisi ini, di pusat kesehatan yang layak.(alodokter.com)

BACA JUGA  Resesi Pariwisata Bali

Karena dampak transgender sangat mengerikan, sebaiknya ada upaya untuk mencegah timbulnya transgender. Caranya antara lain sebagai berikut : 1) Menjaga pergaulan; 2) Diadakan kajian atau seminar mengenai bahaya transgender di sekolah-sekolah; 3) Adanya undang-undang yang melarang adanya transgender sehingga hal ini tidak menyebar semakin parah; 4) Diadakan penyuluhan keagamaan mengenai tragender yang menyimpang dari aturan agama. Dengan hal-hal tersebut, diharapkan transgender dapat dicegah dan penyebarannya tidak semakin luas. Transgender merupakan suatu masalah kejiwaan yang perlu ditangani oleh semua pihak baik dari pelaku maupun lingkungan sekitar. Dengan adanya kerja sama yang baik, bukan tidak mungkin masalah trangender yang menjadi kontroversi ini bisa diatasi dengan baik juga. (ah)

Penulis : Maria Ariyani  ( Poltekkes Kemenkes Yogyakarta )

Facebook Comments

Bali News Admin

Salah satu tim dari BaliNews.id