Dampak Pandemi Covid-19 Pada Pendidikan Di Indonesia

BaliNews.id – Pandemi COVID-19 (Corona Virus Diseases-19) merupakan musibah yang memilukan bagi seluruh penduduk di bumi. Seluruh segmen kehidupan manusia di bumi terganggu, tanpa kecuali pendidikan. Sehingga banyak negara memutuskan menutup sekolah, perguruan tinggi maupun universitas, termasuk Indonesia. Krisis ini benar-benar datang tiba-tiba, pemerintah di belahan bumi manapun termasuk Indonesia harus mengambil keputusan yang pahit yaitu dengan menutup sekolah untuk mengurangi kontak orang-orang secara masif dan untuk menyelamatkan hidup orang banyak.

Penutupan sementara lembaga pendidikan yang disebabkan oleh pandemi Covid-19 ini menimbulkan berbagai dampak. Pertama adalah dampak jangka pendek, yang dirasakan oleh banyak keluarga di Indonesia baik di kota maupun di desa. Di Indonesia banyak keluarga yang kurang familier melakukan sekolah di rumah. Bersekolah di rumah bagi keluarga Indonesia adalah kejutan besar khususnya bagi produktivitas orang tua yang biasanya sibuk dengan pekerjaannya di luar rumah. Demikian juga dengan problem psikologis anak-anak peserta didik yang terbiasa belajar bertatap muka langsung dengan guru-guru mereka. Pelaksanaan pengajaran berlangsung dengan cara online. Proses ini berjalan pada skala yang belum pernah terukur dan teruji sebab belum pernah terjadi sebelumnya. Begitu pula di desa-desa terpencil yang berpenduduk usia sekolah sangat padat menjadi serba kebingungan, sebab infrastruktur informasi teknologi sangat terbatas. Kedua adalah dampak jangka panjang pendidikan dilihat dari aspek keadilan dan peningkatan ketidaksetaraan antar kelompok masyarakat dan antardaerah di Indonesia.

BACA JUGA  Antisipasi Penyebaran Covid-19, Masuk Desa Beng Diperketat 

Dampak Pandemi Covid-19 Pada Pendidikan Di Indonesia

Menurut riset dari The Conversation, pembelajaran dengan metode daring masih belum berjalan ideal namun masih tetap menjadi cara yang paling efektif. Sebagian besar orang tua tetap dapat merasakan dampak positif dari kebijakan ini. Mereka menyatakan anak-anak menjalankan hidup lebih sehat dan mandiri (62%), memiliki pengetahuan lebih banyak tentang kesehatan, termasuk COVID-19 (61%), lebih sering membantu orang tua (56%), dan memiliki kesempatan lebih banyak untuk mempelajari keterampilan hidup seperti mencuci, memasak, dan sejenisnya (53%).

Kementerian Pendidikan di bawah kepemimpinan Menteri Nadiem Makarim,mendengungkan semangat peningkatan produktivitas bagi siswa untuk mengangkat peluang kerja ketika menjadi lulusan sebuah sekolah. Namun dengan wabah Covid-19 yang sangat mendadak, maka dunia pendidikan Indonesia perlu mengikuti alur yang sekiranya dapat menolong kondisi sekolah dalam keadaan darurat. Sekolah perlu memaksakan diri menggunakan media daring (dalam jaringan). Namun penggunaan teknologi bukan tidak ada masalah, banyak berbagai masalah yang menghambat terlaksananya efektivitas pembelajaran dengan metode daring.

BACA JUGA  Tanpa Gejala, Sembilan Anggota Dewan Dan Seorang Staf DPRD Buleleng Positif COVID-19

Kebijakan belajar di rumah pada institusi pendidikan jelas menyebabkan gangguan besar, seperti pembelajaran siswa, gangguan dalam penilaian, pembatalan penilaian, peluang mendapatkan pekerjaan setelah lulus pendidikan, pembatalan penilaian publik untuk kualifikasi dalam seleksi pekerjaan. Bagaimana seharusnya pemerintah Indonesia melakukan yang terbaik untuk penanganan ini? Sekolah memerlukan sumber daya untuk membangun kembali kehilangan dalam pembelajaran, ketika mereka kembali membuka aktivitas pembelajaran. Rekoveri untuk pemulihan ini harus dilakukan secara cepat dan tepat dengan pengalokasian anggaran dari pemerintah untuk pendidikan. Pemangkasan birokrasi pendidikan harus segera dijalankan untuk menangani dampak Covid-19 ini bagi dunia pendidikan. Kebijakan penting yang harus dilakukan oleh menteri pendidikan adalah merekoveri penilaian untuk pembelajaran, bukan menghilangkan, disebabkan pentingnya faktor penilaian bagi siswa, sehingga kebijakan yang lebih baik adalah menunda penilaian bukan melewatkan penilaian internal sekolah. Bagi lulusan baru, kebijakan harus mendukung masuknya para lulusan (fresh graduet) ke pasar kerja untuk menghindari periode pengangguran yang lebih lama. (gb)

BACA JUGA  Pariwisata Cleanliness, Health, and Safety (CHS), Green Economy, Serta Blue Economy di Bali.

 

Nama               : Rianti Putri Apriani

Instansi            : Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

E-mail             : riantiputriapriani@gmail.com

Facebook Comments