Desa Adat Menjadi Strategi Pertahanan dan Keamanan di Bali Dalam Menanggulangi Covid19

Pertahanan dan keamanan sangat diperlukan oleh seluruh warga dunia termasuk Indonesia untuk dapat melangsungkan kehidupannya, dan negara wajib menjamin keberlangsungan hidup warga negaranya. . Pasal 30 ayat (1) dalam UUD 1945 berbunyi “setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pertahanan dan keamanan negara”. Sementara itu, ayat (2) berbunyi “Usaha pertahanan dan keamanan negara dilaksanakan melalui sistem pertahanan dan keamanan rakyat semesta oleh TNI dan Polri sebagai kekuatan utama dan rakyat sebagai kekuatan pendukung”, di mana rakyat harus ikut serta dalam pertahanan negara sebagai komponen pendukung. Pasal 7 bab 2 b ayat 8 Undang-Undang 34 Tahun 2004 tentang TNI menyebutkan tentang tugas pokok TNI adalah salah satunya operasi militer selain perang yaitu; memberdayakan wilayah pertahanan dan kekuatan pendukungnya secara dini sesuai dengan sistem pertahanan semesta.

Sistem pertahanan negara adalah sistem pertahanan semesta yang dimana di dalamnya terdapat sumber daya nasional. Sumber Daya Nasional terdiri dari Sumber Daya Alam (SDA), Sumber Daya Manusia (SDM), Sumber Daya Buatan (SDB), dan sarana prasarana yang mendukung sumber daya nasional tersebut agar pertahanan semesta tertata dengan baik. Sumber daya yang menjadi penekanan banyak kalangan adalah SDM, di mana SDM merupakan aset fundamental selain SDA dan SDB.

BACA JUGA  Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) berbasis One Village One Product (OVOP) di Kala Pandemi

SDM merupakan aset baik negara mendongkrak kekuatan maupun kinerja bagi wilayahnya. SDM yang berkualitas tentunya menghasilkan produk yang berkualitas juga, jika dikaitkan dengan pertahanan dan keamanan, SDM merupakan faktor penentu untuk mengamankan wilayah dan juga mempertahankannya dari ancaman yang datang dari luar maupun timbul dari dalam wilayahnya sendiri. SDM yang berkualitas tentunya sangat memengaruhi potensi wilayahnya tersebut untuk berkembang dan maju.

SDM Bali menjadi sorotan dalam sepekan ini dikarenakan mendapat pujian dari Presiden dalam penanganan Corona Virus Disease-19 atau Covid-19 di Indonesia. Strategi yang diungkapkan oleh Gubernur I Wayan Koster antara lain; rata-rata kasus pertumbuhan Covid19 hanya 7 orang per hari, tingkat kesembuhan mencapai 58,67%, dan jumlah pasien yang meninggal hanya 1,48% yang artinya keseluruhan angka tersebut dibawah rata-rata nasional bahkan dunia.

Data penyebaran Covid19 di Indonesia

Sumber : https://covid19.go.id/peta-sebaran per 11 Mei 2020

Salah satu kunci dalam penganganan covid19 di Bali adalah terdapat 3 pilar kamtibmas (keamanan dan ketertiban masyarakat) diantaranya; kepala desa, bhabinkamtibmas, dan babinsa. 3 pilar tersebut merupakan suatu kesatuan yang kuat dan memiliki koordinasi ketat dalam bertugas, serta pecalang ketika bertugas selalu menginformasikan kegiatan apa saja yang akan dilakukan sehingga pemantauan dan koordinasi selalu sejalan. Pecalang merupakan keamanan adat yang selalu siap 24 jam dalam menjaga keamanan wilayah adatnya. Dalam penanganan covid19 di Bali, 3 pilar kamtibmas beserta pecalang turun tangan menjaga wilayahnya dan mendata setiap warga yang memiliki riwayat bepergian maupun yang sakit, sehingga berita up to date selalu diberikan setiap harinya dalam menanggulangi covid19.

BACA JUGA  Momentum Perbaikan Database Di Kala Pandemi

Sumber: Dinas Kesehatan provinsi Bali

Data diatas menunjukkan pesebaran covid19 di Bali mulai dari yang positif, dalam perawatan, sembuh, hingga meninggal. Data menunjukkan terjadi penurunan dalam pasien perawatan dan terdapat kurva yang landai pasien yang positif dalam 7 hari terakhir, dan juga peningkatan dalam pasien yang sembuh.

Sumber: Dinas Kesehatan provinsi Bali

Perbandingan pecalang adalah 1 : 100 kepala keluarga dapat diartikan seorang pecalang mampu menjaga sekitar 300 warganya, sehingga perbandingan pecalang dengan masyarakat merupakan jumlah ideal bagi polisi yang dimana jumlah ideal polisi dengan masyarakat adalah 1 :350 yang dimana sekarang masih 1:700. Adanya Desa Adat tentunya memberikan warna tersendiri dalam penanganan covid19 di Bali yang berbeda dengan wilayah lainnya di Indonesia, dikarenakan memiliki kewenangan tersendiri dalam mengatur wilayahnya meskipun tidak semua kewenangan itu mengikat.

BACA JUGA  Pariwisata Cleanliness, Health, and Safety (CHS), Green Economy, Serta Blue Economy di Bali.

Apresiasi dari Presiden tehadap Bali dalam menangani pandemi covid19 diharapkan tidak membuat pemerintah daerah serta masyarakat mengurangi tingkat kedisiplinan diri dalam menjaga kesehatan dan juga kebersihan, melainkan tetap disiplin sewajarnya mengikuti instruksi yang diberikan. Tiga pilar kamtibmas ditambah dengan pecalang serta SDM Bali yang memiliki budaya bahu-membahu serta gotong royong menjadikan Bali sebagai salah satu wilayah yang secara cepat dan sigap menanggulangi bencana ini. Bali bisa menjadi contoh atau role model wilayah lain dalam menanggulangi bencana khususnya pandemi covid19 di Indonesia dengan sistem desa adatnya.

Pemulis : I Made Chandra Mandira, SE.,M.Han (Dosen FEB Universitas Pendidikan Nasional)